Tampilkan postingan dengan label Short Story Intan's. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Story Intan's. Tampilkan semua postingan

BIDADARI UNTUKKU

BIDADARI UNTUKKU
Oleh Intan Mauliddiana



Perumahan Bukit Permata Hijau Tlogomas, Malang.
Pukul 21.00 waktu Indonesia bagian barat. Di atas sana bulan sempurna membulat, mengeluarkan cahaya putihnya yang mengagumkan. Di atas sana juga, kerlip milyaran bintang sempurna menari membentuk rasi-rasi yang mengagumkan. Rasi bintang. Ada banyak sekali susunan rasi bintang di langit. Beberapa diantara mereka masuk ke dalam barisan zodiak. Entah siapa yang mengarang ramalan horoskop itu. Bagiku semua omong kosong! Aku tak pernah mempercayainya dan tak akan untuk kedepannya. Meskipun ia membicarakan tentang ramalan asmaraku.
Namaku Juna. Aku adalah seorang bujang. Aku hanya bekerja sebagai guru les matematika di sebuah lembaga bimbingan belajar di Malang. Entah kapan perempuanku datang padaku. Kadang aku lelah dengan semua ini. Sudah 15 kali aku mencoba mengenal perempuan, dan semuanya gagal. Apa karena kulitku yang legam yang membuat mereka menolakku. Apa karena kekurang tampanan wajahku yang membuat mereka menolakku. Entah, semua itu hanya alasan-alasan yang kuterka sendiri. Mereka menolakku dengan alasan tidak cocok. Tapi mereka tidak pernah bilang apa itu. Ya sudahlah, ini adalah bagian dari takdirku.
***
Tentang jodoh, aku sangat percaya bahwa Allah sudah menyiapkan jodoh tiap masing-masing orang. Ketika kata kapan muncul sebagai pertanyaan, maka jawabannya adalah di saat yang tepat. Itu bagian dari skenario Allah yang kita tak akan pernah tahu sebelum waktu itu tiba. Dan sekarang aku sedang ikhtiar menjemputnya, menjemput bidadariku.
“Ini teman yang kuceritakan kemarin, namanya Aisyah.” Temanku megenalkan perempuan yang ingin dijodohkan padaku. Aku sekejap melihatnya. Dia seorang Muslimah.
Proses pertemuanku dengan Aisyah sudah selesai. Aku menungu jawabannya untuk proses perkenalan yang lebih jauh. Aku sudah mantap dengannya, karena satu alasanku, dia muslimah. Satu, dua, tiga hari kutunggu. Hari ke empat aku mendapatkan jawaban dari temanku yang menjadi perantara.
“Aisyah Menolak, Jun. Katanya dia merasa ndak cocok.”
Aku berusaha bersikap senormal mungkin, meski aku merasa sedih. Proses ke duaku gagal. Aku kembali ingat tentang proses pertamaku dulu. Belum lima menit pertemuan kami, gadis itu segera meninggalkanku setelah melihatku dengan seksama, tanpa kata. Proses pertamaku terjadi saat umurku masih 25 tahun. karena penolakan itu aku merasa malas untuk berproses lagi. Sampai suatu hari, Ibu sering menanyaiku kapan aku menikah, melihat umurku yang hampir berkepala tiga.  Itu yang menjadi sebab aku memulai untuk berproses lagi.
“Tika Menolak, Jun. Katanya dia merasa ndak cocok.”
Proses ketigaku gagal lagi. Dan aku harus bangkit untuk memulainya kembali. Ya, Tuhan. Kadang aku berpikir kenapa Allah mempersulit jodohku. Lihatlah aku, apa salahku. Aku sama-sama memiliki kesempatan dengan pria-pria yang lain untuk menikah, kenapa Allah menyulitkanku sedangkan kawan-kawanku mudah saja bertemu dengan jodohnya. “Jodohmu masih berusaha untuk belajar menjadi istri sholihah untukmu, Juna.” Kalimat penenang itu selalu bisa menjadi obat hatiku yang sedang gulana.
“Wanda Menolak, Jun. Katanya dia keberatan dengan pekerjaanmu. Orang tua Wanda pasang harga tinggi soal itu.”
Aku tersenyum kecut menyimak ustadz yang menjadi perantaraku. Untuk ke-10 kali aku gagal berproses dengan perempuan. Tuhan, seburuk inikah aku? Aku benar-benar tidak habis pikir. Sepuluh perempuan yang berbeda, berlatar belakang berbeda juga sempurna menolakku. Tak ada satu kesempatan saja yang diberikan mereka untukku. apakah seburuk inikah wajahku? Seburuk inikah pekerjaanku.
Ibu bertambah sering menanyakan hal itu padaku. Semakin hari semakin sering. Membuatku terbebani dengan keadaanku ini.
“Ibu pingin gendong cucu, Nak. Ayo lah Nak cepat nikah. Itu teman-temanmu juga sudah pada nikah. Kamu kapan?”
“Sabar to Bu, ini Juna lagi nyari. Doakan terus Juna, Bu. Biar bisa kasih Ibu menantu sholihah. Bu, emang Juna jelek banget ya. Kok ya ndak ada perempuan yang mau sama Juna.”
“Nak… nak…. Kamu mau cari istri yang gimana? Perempuan sholihah itu bukan nyari yang cakep. Tapi cari yang sholih. Ibu terus do’ain kamu, Nak.”
***
“Pantas saja kau belum juga menikah, Juna. Coba lihat, mana ada perempuan yang mau sama kamu. Kamu hitam, pesek, dan tuh liat bibirmu. Domble! Ha, ha, ha. Sudahlah, Juan. Terima saja nasibmu jadi bujang lapuk!”
Aku ingin marah saja mendengar ledekan dari teman kerjaku. Dia memang tidak suka jika aku mengajar di Bimbel ini. Aku tak pernah tahu apa sebab yang membuat ia bersikap begitu. Tapi, jika kuladeni omongannya, tak ada beda aku dengannya.
Sekarang umurku sudah 42 tahun. dia belum juga datang. Aku berpikir lagi, aku keras ikhtiar mencari jodoh tapi aku sendiri tidak keras beribadah pada Allah. Sejak saat itu aku segera memperbaiki ibadahku. Aku memutuskan untuk belajar menghafal Al-Qur’an di salah satu ma’had tahfidz Qur’an di Malang. Dua tahun aku mondok aku sempurna bergelar al hafidz. Dua tahun itu juga kusibukkan waktuku untuk belajar agama lebih dalam. Hingga pada suatu waktu, aku dipercaya Pak Kiyai untuk memimpin ta’lim rutin di pesantren ini.
“Malam ini saya akan memberikan sebuah pengumuman untuk para jamaah yang hadir disini.” Usai acara ta’lim rutin, Pak Kiyai akan memberikan pengumuman pada kami semua. Aku menyimak betul apa yang dituturkan Pak Kiyai, guru besarku. Aku tak pernah tahu apa pengumuman itu, hingga kalimat selanjutnya mengudara di telingaku.
“Malam ini, disaksikan ratusan jamaah yang hadir disini, saya akan menikahkan putri bungsu saya yang bernama Sarah Azizah dengan salah seorang pria disini. Laki-laki itu adalah Juna Hidayatullah. Nikahilah putriku dengan mahar yang kau mampu”
Aku sontak kaget dengan penuturan beliau. Gemetar mendengarnya, aku pun hanya bisa duduk terdiam. Masih belum mempercayainya. Putri seorang Kiyai penghafal Al-Qur’an. Allah… inikah alasannya Kau belum juga mengirimkannya padaku. Allah menyuruhku pergi ke pesantren ini, untuk bertemu jodohku. Jodoh yang tak pernah sedikitpun terbayang di kepalaku. Penolakan-penolakan itu membuatku dekat dengan jodohku.
***
“Saya terima nikahnya, Sarah Azizah binti Mohammad Saiful Anam dengan mas kawin tersebut, tunai.”
“Sah!”
Hujan berjatuhan saat perjanjian agung yang mengguncang arsy berlangsung. Seolah dia menangis kehilangan bidadari langit yang jatuh padaku. Sarah, sekarang dia milikku. Lihatlah, betapa cantiknya dia, dan lihatlah aku, betapa buruknya rupaku. Tapi aku punya iman dan taqwa yang lebih mahal daripada ketampanan ataupun kekayaan. Aku mendapatkan bidadari yang menyenangkan. Aku seakan melayang jauh, terbang tanpa sayap.
“Dulu, aku ingin sekali melihat bulan yang itu pada satu bingkai jendela yang sama bersama suamiku. Dan sekarang aku bisa melakukannya denganmu.” Deg. Aku tersenyum malu mendengar kalimat itu dari mulut Sarah. Aku benar-benar melayang. Terbang tanpa sayap.

“The Best Destiny”



Perkampungan Morleke, Pamekasan.

Ada yang menelisik hatiku. Perlahan dan semakin lama membuat sekujur tubuhku tak berdaya, mematung diri. Memo brain’ dalam otak seketika memanas dan membawa alam sadarku pada masa lalu. Di ruang kamar berukuran 4 x 4 aku tertohok sendiri. Termenung terbang dalam kerinduan. Seperti lorong waktu yang menenggelamkan ke putaran waktu beberapa tahun yang lalu.  Kerinduan itu semakin membuatku kepayahan dan  saat itu juga air mataku menganak sungai.
“Aku rindu!!” keluhku pelan.
“Rindu? Siapa yang kau rindui Dind?”
Kaget. Entah sejak kapan suamiku membuka pintu dan mendengarkan keluhanku. Wajar saja aku tak tahu dia datang, mataku kupejam sedari lama. Segera kuraih album foto Rumah Zakat, hadiah pernikahan dari teman-teman relawan dan mini diary book dari teman-teman lingkaranku.
“Ini yang membuatku rindu, Mas.” Kusodorkan dua benda itu ke arahnya.
Dibukanya album dan mini diary. Dilahatnya pelan, halaman 1, halaman 2, halaman 3, dia tersenyum. Menatap mataku lekat.
“Kamu kangen kawan-kawan jembermu?”
Kubereskan air mata yang mengganggu pandanganku.
“Aku kangen mereka. Aku kangen berjuang bersama mereka. Aku kangen mereka tertawa . aku juga kangen saat mereka serius. Aku kangen. Ngadain acara ini acara itu. Lelah memang terlibat kepanitiaan bareng mereka. Tapi lelahnya menyenangkan, Mas. Kau tahu? Sudah banyak momen yang kulalui bersama teman-temanku. Meskipun hanya sekejap.”
“Ceritakanlah lagi yang banyak. Aku menyimak, Dind.
Aku tersenyum. Cermin di rak hias menangkap senyumku juga. Kerudung ungu yang kupakai sedikit terkoyak. Kubenarkan tudungku agar sedap dilihatnya. Dia menyuruhku cerita banyak? 6 bulan pernikahan ternyata membuatnya paham betul bahwa aku paling suka bercerita. Beruntung. Pria di depanku termasuk orang yang suka mendengarkan. Aku bingung hendak bercerita dari bagian mana. Kuarahkan bola mataku ke arahnya.
“Pertama. Aku kangen teman-teman Al-Banna. Al-Banna itu nama kontrakanku yang sederhana. Berlantai tiga. Lantai yang paling atas tak beratap karena dibuat seperti halaman untuk jemuran. Semua bisa dijemur disana. Pakaian, sepatu, kasur, karpet, kerupuk, perasaan pun bisa di jemur disana. Tak beratap, jadi kalau hujan deras bisa dibayangin gimana banjirnya kontrakanku. Hehe.. kebanyakan yang tinggal disana orang Ngawi. Gampang deh ditebaknya siapa yang dari ngawi, soalnya logat bahasa mereka yang jawa banget. anak-anaknya bertipe banyak sekali. ada yang tipe melankolis, sanguinis, plagmatis, perfeksionis, idealis, semuanya ada. Bagaimana tidak? 15 orang lebih ada disana. Tapi inshaallah mereka perempuan-perempuan biasa yang ingin jadi bidadari-bidadari surga. Aku punya sahabat disana. Teman satu angkatan denganku. Asalnya dari Ngawi. Namanya Pipit. Aku kangen dia, Mas. Dia jadi tempatku bercerita, apapun. Ada Mbak Ummu dan Mbak Lail, mereka jago masak dan jago makan. Masakannya asli mantap. Kalau piket harian masak, pasti masakan mereka yang kutunggu-tunggu. Ada mbak Laila Majnun.. hehe.. Mbakku yang paling keren menurutku, karena kesederhanaannya. Septian. Kamu pernah kan ketemu sama dia? Itu loh yang bantuin ngurus persyaratan pindahanku. Ada Tia. Haha super gokil. Semuanya berwarna. Aku kangen mereka semua. Mereka merindukanku juga nggak ya, Mas? Mereka kangen nggak ya??”
Entahlah, tiba-tiba aku sesegukan terharu mengingat kontrakan bertingkat itu. Disekanya air mataku dengan jari-jemari putihnya.
“Teruskan, Dinda. Yang ke dua? Ke tiga? Dan seterusnya?”
“Kedua. Tentang KAMMI Komsat UNEJ, RZ Jember, dan UKKI Masa. Dari semua organisasi yang pernah kuikuti, yang paling membuatku berkesan adalah menjadi relawan Rumah Zakat. Kaosnya warna Orange.sejak kecil aku paling nggak suka warna orange, tapi RZ mengubah Orange menjadi cinta. Semenjak jadi volunteer, aku menyukai warna orange. Memakai kaos orange relawan membuatku bangga bisa ada di dalamnya. Senang sekali mengenal teman-teman perjuangan yang selalu tersenyum untuk berbagi apapun untuk sesama. Berbagi apapun untuk umat. Berbagi senyum, berbagi tenaga, berbagi rizki, berbagi kebahagiaan, berbagi apapun yang bisa dibagi. Disana aku mengenal Ndayu Mendayu. Korel tersiip, menurutku. Meskipun orangnya agak aneh, tapi dia muslimah backpacker yang luar biasa. Aku belajar banyak darinya. Salah satunya belajar berani. Meskipun belum genap setahun perjuanganku di RZ, tapi kesan bersama mereka tak terlupakan. Teman-teman relawan sangat solid dan menganggapku ada. Jadi jangan heran kalau RZ is the best for me. Sampai sekarang aku masih hafal mars dan hymnenya. Kamu ingat Oki Septian? Dia juga relawan RZ lho? Itu tuh yang kita pernah beli es manadonya.”
“Iya ingat. Es manadonya lumayan enak. Kalau bulan puasa kita beli lagi yuk.. hehehe.” Aku mengangguk girang. Rupanya suamiku sangat semangat mendengarkan. Bibirku masih belum kelu untuk melanjutkan cerita. Kulihat jam di handphone. Sudah 13.49. Angin terus berterbangan dari kipas angin di pojok kamar. Mengantarkan kata per kata yang tersampaikan padanya.
“KAMMI dan MASA. Selain PII, aku belajar banyak berorganisasi di KAMMI dan MASA. Berjuang bersama mereka menyenangkan. Kadang juga ada saja orang yang membuatku sebal setelah lelah berjuang. Astagfirullah. Syuro. Haha.. syuro perdanaku yaa di KAMMI dan MASA. Soalnya kalau di PII namanya bukan syuro, tapi rapat. Hehe. Aku kangen ngonsep acara bareng mereka, aku kangen cari dana sama mereka. Kangen cari peserta. Kangen aksi. Kangen kajian. Kangen taklim bareng. Lucu lho.. kalau rapat kepanitiaan kan biasanya pake hijab, biasanya hijabnya kalau gak tirai ya tembok.. hehe.. kalau sudah hari H acara kan gak ada hijab tirai tebok lagi.. jadi ikhwan-ikhwannya nunduk-nunduk gitu. Tapi ada juga sih yang agak jelalatan.. haha. Ikhwan jelalatan? Apa kata dunia? Hehehe.. di KAMMI biasanya aku sama Pipit, Nurul, Lia, Septian, Tia, Mbak Laila, Mbak Ummu, dan banyak lagi. Banyak lho dari mereka yang datang ke pernikahan kita kemarin. Sekarang aku merasa kehilangan mereka, Mas. Menyesal, karena dulu tak memaksimalkan peranku di organisasi itu. Kadang kalau sebagian dari mereka posting poster kegiatan di Facebook iri deh rasanya. Pengen ikutan. Tapi apa daya?”
Terdengar suara ricikan air berjatuhan, kuterka itu bunyi hujan. Tiba-tiba suhu kamar mendingin. Entah isyarat tak sengaja apa yang kutunjukan padanya, tiba-tiba suamiku mematikan kipas angin. Aku tersenyum tanda terimakasih. Kulanjutkan cerita yang tinggal sepenggal lagi.
“Masih mau mendengarkan?”
“Tentu saja” sambil mengulum senyumnya.
“Ketiga. Kampusku dan semua yang ada di dalamnya. Berbeda sekali kampusku sekarang dengan yang dulu. Begitu pun teman-temanku. Berbeda. Kuakui kampusku di Jember jauh lebih keren dan besar daripada kampusku sekarang.” Dengan wajah sedih, kuhentikan ceritaku. Kutarik dua lembar Tissue untuk menyapu kesedihan di kelopak mata.
“Kalau mengingat Unej, perasaan menyesal selalu memborbardirku. Banyak yang mengemankan kepindahanku dari sana. Salah satunya Bu Chumi. Dosen wali sekaligus dosen yang paling dekat denganku. Aku kangen teman-temanku. Nurma, Nisa, Ara, Ninis, Ana, Shinta. Biasanya aku ngapain-ngapain di kampus ya sama mereka. Kalau sudah tiba di kampus, yang pertama kali kucari pasti mereka,  bukan yang lain. Terutama Si Nurma. Sudah dekat banget aku sama dia, saking deketnya dia sering manja sama aku. Minta dianter kesini kesitu. Kadang nyebelin juga sih tu orang. Hehe.. kangen aku, Mas. Sekarang? Aku harus mulai dari nol lagi. Mulai adapatasi lagi. Susah juga cari sahabat di kampusku yang sekarang. Organisasi pun hanya sedikit. Gak ada UKKI, gak ada KAMMI. Sepi rasanya.”
“Sudah ceritanya?”
“sudah kok. Makasih ya, Mas sudah jadi pendengar yang baik hari ini. Perasaanku jadi lega dan nggak gundah lagi.” Aku memikirkan hadiah apa yang akan kuberikan padanya. Tiba-tiba bayangan-bayangan makanan memutar mengelilingi kepalaku. “Sate Pisang Coklat Keju sepertinya enak untuk kuhidangkan malam nanti.” Desisku dalam hati.
Dind, bolehkan Mas bertanya?”
“Tentu saja, Mas. Mas mau bicara apa?”
Diusapnya tanganya lembut ke kepalaku. Tersenyum. Gigi-giginya yang rapi sempat kulihat.
“Dinda, kamu menyesal menikah denganku dan tinggal disini? Meninggalkan semua kegiatanmu di Jember?”
Deg. Pertanyaannya membuatku mengerutkan dahi.  “Apakah ceritaku tadi membuatnya mengira aku menyesal atas semua ini?” Pradugaku dalam hati. segera kujawab dengan penuh yakinnya.
“Mana bisa kukatakan aku menyesel menikah denganmu, atas semua kebahagiaan yang kau berikan padaku, Mas. Tak ada setitik penyesalan. Setitik pun tidak. Aku bahagia sakinah denganmu. Maaf jika ceritaku tadi membuatmu berpikir seperti itu.”
“Alhamdulillah. Aku senang mendengarnya. Dind, usiamu sekarang 20 tahun bukan? Wajar saja kau rindukan itu semua. Karena menurutku kamu masih belum selesai disana. Tapi jangan sampai hal itu membuatmu larut dalam kesedihan karena kehilangan. Inshaallah mereka merindukanmu juga kok. Disini kita punya PR besar untuk meneruskan dakwah kita di kota rantau dulu. Mau kan dinda dakwah bareng abang?”
Kutarik bibirku tersenyum geli. “inshaallah, Mas.”
“Menikah muda tak mudah Dinda, butuh perjuangan yang amat. Harus rela berkorban. Harus bisa menerima. Dan jika keberadaanmu disini membuatmu lebih baik dari di jember, inshaallah itu berkah dari Allah. Inshaallah barokah. Artinya, keberkahan dari Allah menandakan Dia Ridho dengan pernikahan kita. Cukuplah ridho Allah yang membuat hati kita damai. Jika Allah sudah meridhoi, bukankah sudah tak ada bimbang apapaun dalam hati?”.
Bagai embun menari diatas dedaunan hijau, segar dan mendamaikan. Petuahnya seperti obat dari sakitku. Quote ‘semua penyakit ada obatnya’ berlaku juga untuk kasus ini. “Makasih ya, Mas. Nasihatmu bikin aku tenang.” Sesungging senyum kuleburkan untuknya.
“Dinda, semua manusia yang hidup pasti sudah merancang rencana hidupnya. Sudah menentukan keinginan-keinginannya. Sekolah, kuliah di kampus beken, mapan kerja, menikah dengan pasangan yang pantas, punya anak tiga yang cantik dan tampan, beli rumah, beli mobil, dan sebagainya. Sebagian umum rencana hidup manusia seperti itu kan? Semuanya serba perfect. Serba mulus. Tidak ada yang salah memang. Merencanakan hidup semaksimal mungkin. Megikhtiarkan dengan keras. Minta Allah sebesar-besarnya. Tapi yang perlu diingat, rencana manusia tak semua sejalan dengan rencana-Nya. Hidup manusia tak seideal yang mereka rencanakan. Pasti ada hal yang tak pernah kita duga, hal yang tak menyenangkan, menjadi bagian dari takdir hidup kita. Apakah kita menyalahkan Allah karena tak mengabulkan apa yang menjadi ingin kita? Atau seperti orag atheis, yang bunuh diri ketika hal buruk terjadi padanya?”
Aku masih tak bergerak mendengarkannya. Menakjubkan kalimat-kalimat yang dibuat orang didepanku ini. Seperti hipnotis yang membuatku tak berdaya. Tercengang. Apakah harus kukatakan, aku beruntung menjadi…. Ah! Sebaiknya tidak.
“Kita orang beriman dan kita bukan atheis. Orang beriman akan menerima semua ketentuan Allah. Dia tetap tenang-tenang saja menjalani hidupnya. Karena dia yakin, semua yang diatur-Nya adalah yang terbaik untuk dirinya. Dia yakin tak ada yang sulit, karena ada banyak kemudahan di belakangnya. Dia tak risau, karena dirinyai punya Allah. Sabar dan syukur, itu kendalinya. Bukankah segala perkara urusan orang beriman adalah kebaikan? Jika mendapat nikmat dia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Dan jika ditimpa musibah dia bersabar, dan sabar itu baik baginya.”
Tanpa dikomando tanganku bertepuk tangan tanda puas. Bagaimana hendak kulukiskan rasa puas dan lega ini? Mungkin seperti bocah kecil yang melonjak-lonjak di pangkuan ibunya. Mungkin juga seperti lebah yang gemuk karena asupan nektar dari bunga. Aku sekarang lebih paham tentang hakikat takdir. Lebih paham dari sebelumnya tentang apa itu sabar dan syukur. Dan yang jelas menancap di hati, bahwa Allah lah sebaik-baik surtadara kehidupan. Tak ada yang terjadi melainkan Ia yang menggerakkan.
“Mas, aku mencintaimu. Terimakasih telah menjadi suami sekaligus sahabat untukku hari ini. Tiba-tiba banyak sekali ide-ide yang semerawutan tentang gerak dakwahku di Kampus. Mas yang beri umpan dan aku yang menangkapnya. Meskipun aku sendirian di kampus dan harus memulai dari nol lagi, inshaallah dengan ijin Allah, aku optimis bisa. Paling tidak aku bisa memberi manfaat untuk teman-teman dan lingkungan tempatku hidup sekarang.”
Hujan yang reda meninggalkan bekas di tanah. Matahari mulai bergesar merangkak ke barat. Langit berubah menjadi kelam. Ada sedikit bintang yang mengerlip. Mana bulan? Sejahat itukah ia tak mau menemani kegembiraanku?  Aroma harum berterbangan di setiap sudut ruang rumah besar ini. coklat cair, parutan keju, menutupi pisang-pisang panggangku. Kunamai sate pisang ini dengan nama Satpis Cinta. Karena ia hadir dengan cinta untuk yang tercinta.
-0o0-

Intan Mauliddiana
Bersama gelapnya langit yang terlukis indah pukul 9.56 pm



Jika diam membuatmu tenang, berdiamlah sejenak
Namun jika bicara adalah lebih baik darinya maka bicaralah
Itu lebih baik daripada menahan luka terlalu lama
Karena hati butuh senyuman untuk membuatnya tetap terjaga. -HK

Jilbab Putih Nayla dan Muslimah Syurga

“Nayla!”
Suara itu bergeming memanggilnya dari kejauhan. Nayla menoleh mencari sumber suara yang ia kenal itu. Tiba-tiba ia melotot melihat sahabat lamanya yang tiba-tiba muncul di depan kedua mata sipitnya.
“Sinta. Benar ini Sinta?” sambil mengucek dua matanya tak percaya.
“Iya Nayla sayang, ini Sinta yang sering pencet-pencet hidungmu dulu, hehe,” sambil memencet hidung Nayla. Saat mereka masih bersama di SMA dulu, Sinta sering sekali memencet hidungnya karena gemas dengan hidung Nayla yang pesek seakan tak bertulang.
Sinta adalah sahabat dekat Nayla. Mereka berteman sejak kelas satu SMA. Begitu dekatnya sampai teman-temannya menyebut mereka dengan sebutan ‘Dua Sejoli’. Nayla masih tak percaya sahabatnya bisa berada di kampusnya, UB. Padahal Sinta kuliah di ITB.
Tidak terasa, rupanya dua sejoli ini sudah tiga tahun tidak bertemu. Nayla terheran dengan sahabatnya. Sinta sudah berubah lebih anggun dari yang terakhir ia lihat. Sinta sekarang berjilbab. Jilbabnya menjuntai panjang menutupi dadanya. Menggetarkan hati Nayla kala memandangnya.
Empat langkah itu beriringan menyusuri jalan dengan suara candaan. Mengeluarkan kerinduan dua hati yang lama tak bertemu pandang. Merekatkan gandeng tangan. Angin menyentuh lembut rambut hitam Nayla dan menyibakkan ujung kerudung biru panjang Sinta. Surya menuai keemasannya, langit memerah karena sinarnya. Burung-burung melayangkan sepasang sayap terbang mengangkasa pulang dan bumi pun merindukan terang sinar bulan.
***
Sore itu juga mereka sampai di kontrakan Nayla. Dengan dua kantong plastik yang dibawanya, Nayla membuka pintu coklat yang ada di dedapannya.
 “Silahkan masuk tuan putri,” candanya terhadap Sinta.
“Terimakasih Pengawal, hehe,” balasnya dengan canda juga.
Nayla mengantar Sinta menuju kamarnya. Mempersilahkan sahabatnya untuk beristirahat. Nayla segera menuju dapur yang berada di pojok kanan rumah untuk menyiapkan wejangan. Sudah tiga tahun lebih Nayla menghuni kontrakan itu. Ia sangat hapal setiap lekuknya, bahkan mungkin juga setiap kejadian yang pernah tertoreh disana. Namun, ruang yang paling Nayla suka setelah kamarnya yaitu dapur.
Sinta menatap setiap sudut ruang kamar Nayla. Rapi, bersih, wangi, dan teratur. Itulah komentarnya dalam hati. Ia tersenyum mengingat sahabatnya. Sahabat yang dicintainya. Tiba-tiba pandangan Sinta tertuju pada foto persegi diatas meja. Foto Nayla.
“Nayla cantik,” pujinya dalam hati. “Dia baik, sangat baik. Hatiya seperti menolak melakukan sesuatu yang buruk. Dia juga pandai dan mandiri. Kuliah saja gratis. Tapi sayang, dia belum mengambil pakaian taqwa itu. Tapi sayang, dia belum memakai jilbab itu.”
Tiba-tiba rasa bersalah dan menyesal menghampiri hati dan otak Sinta. Ia sangat merasa bersalah karena ia belum bisa menyaksikan sahabatnya cantik dengan balutan baju yang menutupi semua perhiasannya. Ia merasa menyesal karena ia belum berhasil mengajak sahabatnya seperti dirinya. Terjaga dengan pakaian taqwanya dan indah dengan kerudung panjangnya.
Embun matanya menetes dari ujung dua mata. Ia ingat dengan sebuah ayat-ayat cinta dalam Al-Qur’an yang Allah jelas menyuruh kaum perempuan untuk menutup perhiasan mereka. Ia juga sangat ingat sebuah hadis tentang perjalanan Rasulullah ketika malakukan Isra’ Mi’raj. Rasulullah sampai menangis kala melihat kaum perempuan yang disiksa di Neraka. Salah satunya beliau melihat wanita yang digantung rambutnya dan otak kepalanya mendidih. Wanita yang digantung dengan rambutnya dan otak kepalanya mendidih adalah wanita yang tidak mau menutupi rambutnya dari pandangan laki-laki  yang bukan mahram. Sinta beristigfar berkali-kali dalam hatinya.
Nayla memanggil Sinta dari pintu. Ia heran melihat Sinta menangis. “Loh, Sin kenapa? Kamu menangis?”
“Eh, enggak kok, aku nggak nangis. Kucing mungkin yang nangis,” selanya dengan gurau. Sinta terkaget dan  berusaha menutupi kesedihannya. “Tidak sekarang waktu membahasnya,” bicaranya dalam hati.
Suara muadzin merdu menyapa semesta kota. Adzan menggema indah. Memanggil-manggil manusia untuk segera ruku’ dan sujud kepada-Nya. Memanggil-manggil manusia menghentikan semua aktifitasnya untuk segera ruku’ dan sujud di atas sajadah cinta.
Diatas dua sajadah cinta, Nayla dan Sinta bersimpuh memuji Tuhannya. “Nayla, kamu sangat cantik dengan mukenah ini. Sangat cantik. Aku merindukanmu seperti ini. Cantik dengan pakaian taqwa,” puji Sinta dalam hati.
***
Nayla mengingatnya. Mengingat kejadian Lebaran tahun lalu di rumahnya, Banyuwangi, Jawa Timur.
“Nayla, kamu tambah cantik dan anggun kalau pakai jilbab,” komentar Emaknya.
“Iya kah Mak?” Komentar Emak membuatnya merasa tersanjung. Nayla segera berjalan memasuki kamarnya. Segera ia berdiri di depan cermin di samping pintu kamar. Ia tersenyum melihat dirinya sendiri. Nayla menelusuri setiap sisi bayangan dirinya dalam cermin itu. Ia mulai memutar otaknya memikirkan sesuatu. “Benar, aku memang cantik dengan jilbab putih ini.”
“Tapi aku belum siap seperti ini. Aku belum siap. Ya, aku belum siap dengan pakaian suci ini. Aku takut jika nanti aku menodai jilbab putih ini. Aku takut jika nanti aku mengotori pakaian suci ini. Aku belum siap. Aku takut jika aku tidak bisa menjaganya, menjaga kemuliaan itu,” erangnya dalam hati.
“Lalu kapan aku siapnya?” tiba-tiba pertanyaan itu muncul dalam hatinya.
“Nayla, apakah kamu mau meninggal dalam keadaan hina hanya karena rambut hitammu masih melambai bebas dilihat laki-laki yang bukan muhrimmu? Apa kamu tega ayahmu disiksa di Neraka karena putri kesayangannya tidak memakai jilbab? Apa kamu mau suamimu kelak mendapatkan seorang Nayla yang cantik tapi cantik tubuhnya bebas dilihat semua laki-laki? Apa kamu mau Nayla?” pertanyaan-pertanyaan itu mulai menghujani hatinya. Entah pertanyaan itu dari mana datangnya tapi tanya itu sangat mengobrak-abrik otak dan hatinya.
“Tapi aku belum siap! Aku belum siap!! Aku belum siap, Allah aku belum siap!!!”  tegasnya dalam hati. Setetes air bening berlayar di pipi halusnya. Menjadi saksi bisu pergulatan tanya yang menghujam hatinya. Kebingungan yang mendalam. Keinginan yang sangat, namun ia tetap keukeh bahwa ia belum siap. Nayla belum siap.
***
“Nayla!!” tegur Ara, teman satu kontrakannya. Nayla sontak kaget dari lamunannya akan masa lalu. “Jangan bengong Nay, mending bantu aku selesaikan tugas laporan biologi, haha. Mikiran apa sih? Kok smpai segitunya,” tanya Ara penasaran.
Dengan senyumnya yang khas, Nayla menjawab pertanyaan Ara. “Enggak ada apa-apa kok Ra, hehe.” Dua kakinya berlalu meninggalkan Ara sendiri di ruang tamu. “Loh kok jadi aku yang ditinggal? Padahal kan kesini sengaja mau nemenin dia,” kesal Ara.
Dua hari sudah Sinta pamit pulang untuk kembali ke Bandung. Ia masih mengingat kehadiran Sinta. Sinta yang lembut dan baik. Sinta yang anggun dengan pakaian taqwanya. Sinta yang cantik dengan jilbab anggunya.
Hening. Kamar Nayla disapu keheningan. Diatas kursi, Nayla membuka diary dan menuliskan sesuatu disana. “Aku ingin seperti Sinta. Aku ingin seperti muslimah yang lain. Cantik dan terjaga. Tapi aku? Aku belum siap. Aku takut menodai kemuliaan itu.”
***
Mahasiswa menghambur diri keluar dari ruang kelas tidak terkecuali Nayla.  Surya masih tepat diatas kepala manusia. Keluar dari gedung GPP ia segera menuju masjid Fakultas Kedokteran, UB. Percikan bening air wudhu menyentuh segar wajah, tangan, dan kakinya. Memantulkan cahaya di lukisan indah wajahnya. Ruku’ dan sujud dengan tuma’ninah. Menengadahkan tangan meminta sesuatu dalam hati kepada Tuhannya.
“Assalamu’alaikum,” salam menyapanya dari seorang muslimah di belakangnya.
“Wa’alaikumsalam,” jawabnya dengan senyum. “Mbak Sari ya, senang berjumpa dengan mbak lagi. Tambah cantik aja nih mbak Sari,” pujinya. Mereka berjabat tangan menggugurkan daun-daun dosa. Sari adalah salah satu muslimah yang dikagumi Nayla. Ia mengenalnya saat Sari tengah menjadi pembicara dalam sebuah acara seminar di fakultasnya.
“Nayla mau pulang? Bareng mbak aja yuk. Kebetulan ini juga mau pulang,” tawar Sari. Tanpa basa-basi Nayla mengangguk dengan senyumnya. 
Mereka berdua meninggalkan Masjid Nurul Syifa menuju parkiran motor mahasiswa. Rumput bergoyang dikibas angin. Tiga mahasiswi berkerudung lebar berpapasan dengan mereka. Memberikan salam dan senyumnya. Setetes embun seperti menjatuhi dua bola mata Nayla. Sejuk rasanya melihat tiga mahasiswi dan orang yang ada di sampingnya. Seolah muslimah-muslimah itu seperti permata yang sangat mahal harganya.
Motor hitam meninggalkan parkiran. Nayla yang duduk di belakang Sari memulai pembicaraan. Menanyakan kabar Sari, bercerita tentang kuliahnya, menanyakan beberapa pertanyaan, dan kemudian Hening. Seolah kehabisan bahan pembicaraan. Sesaat kemudian Nayla berucap. “Mbak Sari cantik. Secantik kerudungnya.”
***
Dengan setir yang masih terjaga, Sari tersenyum mendengarnya. “Makasih dinda,” balasnya. Beberapa menit berlalu dengan keheningan kembali. Mesin motor berhenti berderum. Nayla turun dan meminta Sari untuk singgah sebentar. Di teras kontrakannya mereka duduk diatas dipan beralas karpet merah. Dia sudah lelah menyimpan kegalauan hati untuk berjilbab dengan semua alasan penolakannya.
Satu patah dua patah kata pembuka berlalu dari mulutnya. Sari sepertinya sudah tahu maksud pembicaraannya. Sari tersenyum menerka. Nayla membuka inti pembicaraan. “Mbak Sari. Hatiku gusar. Umurku sudah 21 tahun. Tapi aku belum siap untuk memakai jilbab. Jiwaku takut mbak. Takut. Takut jika aku belum bisa menjaganya. Takut jika aku menodai jilbabku,” Nayla menatap mata Sari mencari jawaban kegusarannya.
“Nayla, jujur. Dari dulu mbak merindukanmu memakai jilbab,” sambil memegang tangan Nayla.
Senyap. Nayla menatap bola mata orang yang ada di depannya. Ia menunggu Sari meneruskan kalimatnya.
“Nayla. Jujur. Kamu sangan cantik. Rambutmu indah. Alangkah eloknya jika keindahanmu itu terjaga untuk suamimu kelak. Nayla sayang. Allah jelas-jelas menyuruhmu dan kaum wanita yang lain untuk menutupi perhiasannya. Untuk apa? Apakah untuk Allah? Bukan. Bukan Nayla. Allah menyuruh seperti itu untuk kita sendiri. Agar kita terjaga dari keburukan. Agar kita terjaga dari mata liar.”
Setetes embun terjatuh membasahi karpet merah. Nayla tertunduk. Hatinya seperti tercakar ribuan kuku yang tajam. “Mbak Sari, aku ingin menjilbabi hatiku dulu. Hatiku ini masih jauh dari baik. Aku malu jika nanti aku menodainya karena kelakuan burukku.” Isaknya menelan keheningan.
“Nayla, adikku. Hati itu tidak bisa dijilbabi. Hati itu hanya bisa dijaga. Bagaimana menjaganya? Menjaganya yaitu dengan taqwa. Menjaganya dengan ibadah. Menjaganya dengan cinta kepada Allah. Menjaganya dengan takut pada murka Allah.” Jemari Sari menyapu halus aliran bening di pipi Nayla. “Nayla. Apakah menurutmu berjilbab itu bukan sebuah ibadah?”
Nayla menoleh Sari. Dia diam dan tertunduk lagi. Sari bertanya lagi. “Nayla. Apakah menurutmu berjilbab itu bukan sebuah ibadah? Apakah menurutmu menjuntaikan pakaian untuk menutup perhiasan wanita itu bukan sebuah ibadah?”
“Iba..dah… mbak,” jawabnya terbata. “Apakah Nay bisa jamin semua ibadah yang telah Nayla lakukan sampai sekarang seperti sholat, puasa, dan zakat benar-benar diterima oleh Allah?” Nayla terdiam seakan bisu. Sari membuka Al-Qur’annya. Nayla disuruh membaca arti ayat ke lima dari surat Al-Ma’idah. “…Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat Islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.”
“Sekarang Ayo kita pikir. Memakai jilbab bagi kaum perempuan adalah hukum Syariat Islam atau tidak Nay?” Sari terus membuat Nayla untuk berpikir. Nayla masih dalam diamnya.
Hening. Sari menunggu jawaban Nayla. Satu menit mereka dalam keheningan.  “I….ya… mbak,” masih terbata. Sari meneruskan. “Iya benar Nay, dalam Qur’an Surat An-Nur ayat ke 31 sudah jelas bahwa Allah menyuruh kaum perempuan yang beriman untuk berjilbab. Itu tandanya berjilbab merupakan hukum syariat Islam. Jadi, jika kaum wanita yang tidak memakainya, mereka telah mengingkari hukum Syariat Islam. Apa akibatnya Nay jika mereka mengingkarinya?” Sari ingin Nayla membuat kesimpulan sendiri.
Matanya berkaca. Air mata terjatuh. Nayla menjawab “hapuslah semua amalnya di dunia mbak…. Dan mereka termasuk orang yang merugi di akhirat.”
“Nayla sudah tau jawabannya. Penjelasan mbak tadi juga bisa dianalogikakan seperti ini. Segelas susu adalah enak jika diminum. Tapi jika dalam susu tersebut kita tahu ada kotoran cicaknya, kita tidak membuang kotoran cicak itu lalu meminum susunya, tapi kita membuang seluruh susu tersebut.” Sari tersenyum menatap Nayla. “Apa Nay sekarang masih takut dan ragu untuk segera berjilbab?”
“Nayla takut tidak bisa menjaganya. Nayla takut menodainya mbak,” tetap saja ia bergumam dengan alasannya. “Apakah Nay tidak takut dengan Allah? Dengan siksa Allah? Dengan murka Allah? Nay?” suara Sari halus bertanya kepada Nayla. “Astagfirullah…Astagfirullah…Ya Allah……. Sesombong ini kah aku kepada-Nya mbak? Seberani ini kah aku kepada-Nya mbak? Astagfirullah…,” jemarinya yang halus mengusap air yang berjatuhan di layar pipinya.
Ia memeluk Sari dengan isak tangis bersalah. Ia sadar, selama ini semua alasan yang membuat dirinya ragu untuk berjilbab adalah alasan dari syaitan semua. Alasan yang mungkin seperti sebuah alasan putih. Karena alasannya takut jika nantinya akan menodai kesucian jilbab. Tapi ia sadar. Bahwa itu semua adalah dari syaitan. Syaitan melarang Nayla berjilbab dengan tawaran alasan-alasan yang halus.
***
Senja menuai datang. Langit indah dengan mega merahnya. Sudah dua jam yang lalu Sari pamit pulang dengan memberi pesan semangat kepada Nayla. Ada hati yang telah mantap untuk berjilbab. Ada hati yang mantap menjaga semua perhiasan yang ada pada dirinya. Hati itu kini tersenyum menyambut cahaya terang. Hati Nayla Wulan sari.
Diambilnya sajadah biru di dalam lemari. Bersujud sangat khusyuk kepada Tuhannya. Lantunan do’a ia suarakan. Sebait doa’nya, “…Terima kasih Allah, hidayah ini sangat indah. Ijinkan aku menjadi muslimah Syurga yang sayap-sayap taqwanya mengantarku terbang ke Syurga.”
Surat An-Nur terdengar merdu dari bibir gadis nan jelita. Nayla menikmati setiap huruf yang ia baca. Irama yang merdu menambah khusyuk suasana. Ia tidak menggeser duduknya karena begitu nikmat ia membaca ayat-ayat cinta itu. Adzan Isya’ pun terdengar dari sound masjid. Nayla segera berdiri untuk melanjutkan sholat isya’. Kali ini ia mengajak lima teman kontrakannya untuk sholat berjama’ah bersamanya.
***
Satu tahun telah berlalu. Masa-masa awal ia memakai jilbab mendapat respon yang baik dari teman-temannya. Namun ada beberapa teman kampusnya yang tidak suka dengan perubahan Nayla. “Sangat nyaman aku bersama jilbab ini, sangat nyaman aku bersama pakaian taqwa ini. Dia menjagaku. Dia melindungiku,” gumam Nayla dalam hati, ketika melihat seorang perempuan digoda oleh laki-laki nakal karena auratnya terbuka. Saat itu ia sedang melakukan perjalanan pulang ke Banyuwangi karena Skripsinya lulus dengan nilai A. Nayla ingin langsung memberitahukan kepada Emaknya bahwa ia sudah lulus.
Di dalam bus, Nayla ingat penilaian salah satu temannya, “Untuk apa berjilbab Nayla, sekarang bumi lagi panas-panasnya. Malah kamu pakai jilbab. Nayla… Nayla…” Dia tersenyum mengingatnya. “Panas di bumi ini tidak ada apa-apanya dari panasnya Neraka,” jawabnya saat itu. Nayla tersenyum sendiri mengingatnya.
Tiba-tiba Nayla ingat kejadian satu tahun lalu saat ia telah usai menunaikan sholat isya’ berjama’ah bersama teman-teman kontrakannya. Saat Nayla menaruh sajadah di dalam lemari bagian bawah, tanpa sengaja ia menyentuh sebuah plastik hitam. Nayla heran karena ia merasa tidak pernah menaruh plastik hitam di dalam lemari. Tangannya meraih plastik itu.
Pelan Nayla membukanya. Sebuah surat dan kerudung panjang warna putih. Ia membuka amplop biru yang ada di dalam plastik hitam. Membukanya dengan pelan. “Dari Sinta.” Ia kaget membacanya.
Nayla meneruskan. “Nayla sahabatku. Aku begitu mencintaimu. Ingin sekali aku mengutarakan sesuatu kepadamu saat sehari bersamamu di Malang. Tapi, aku merasa bukan itu saat yang tepat. Akhirnya aku memutuskan menulis surat ini. Nayla terkasih, aku merasa bersalah karena aku belum bisa mengajakmu untuk sepertiku. Memakai jilbab. Saat kau mendapatiku menangis di kamarmu, sebenarnya aku memang menangis. Menangis karena belum bisa melihatmu mengenakan pakaian taqwa ini. Aku ingin bertemu denganmu dengan memakai jilbab putih dalam plastik ini. Ingin sekali sahabatku. Nayla, jilbab akan menjagamu. Menjagamu dari kejahatan. Menjagamu dari keburukan. Menjagamu dari mata liar. Juga insyaallah akan menjagamu dari jilatan api Neraka. Aku ingat sekali dengan sebuah hadis tentang perjalanan Rasulullah ketika malakukan Isra’ Mi’raj. Rasulullah sampai menangis kala melihat kaum perempuan yang disiksa di Neraka. Salah satunya beliau melihat wanita yang digantung rambutnya dan otak kepalanya mendidih. Wanita yang digantung dengan rambutnya dan otak kepalanya mendidih adalah wanita yang tidak mau menutupi rambutnya dari pandangan laki-laki  yang bukan mahram. Aku tidak mau sahabatku yang cantik ini terbakar dan tersiksa di tempat paling menyiksa itu. Aku mencintaimu Nayla, aku ingin bertemu denganmu dengan jilbab putih ini. Aku ingin berjumpa denganmu dengan pakaian taqwamu. Nayla. Aku ingin melihatmu dengan jilbab putih ini.”
Kala itu Nayla menangis membacanya. Ia segera menelepon Sinta. Rasa terima kasih ia ungkapkan kepada Sinta. Ia berkata kepada Sinta bahwa setelah sidang skripsi, Nayla akan menemuinya di Bandung.
“Memang benar. Jilbab menjagaku dari keburukan.”
***
Empat jam di Bus akhirnya ia sampai di daerah rumahnya. Ia ingin cepat-cepat sampai rumah untuk memberitahukan kabar gembira kepada Emak yang sangat dicintainya. Sampai di rumah ia segera mencium kaki Emaknya. Emaknya terkaget. Kemudian menanyakan kenapa Nayla sampai seperti itu. Mendengar penuturan dari mulut Nayla, Emaknya menangis dan segera memeluk Nayla. Begitu bangga membuncah memiliki anak seperti Nayla. Sholihah, pintar, cantik, dan sangat memuliakan ibunya.
Sehari di rumah, Nayla meminta ijin kepada Emaknya untuk berangkat ke Bandung menemui Sinta. Ia sengaja tidak memberitahu Sinta tentang keberangkatannya. Ia membawakan kerudung putih yang baru ia belikan dari Malang. Dalam bus, Nayla tiba-tiba sangat merindukan Sinta. Ia merasa ingin sekali cepat-cepat bertemu dengan sahabatnya itu.
Jum’at pagi ia tiba di Bandung. Dengan memakai kerudung putih pemberian Sinta, Nayla semangat menemui sahabatnya. Bermodal alamat Sinta yang disimpannya, Nayla segera pergi ke alamat itu. Tanya tukang sapu, tanya ibu-ibu, tanya ke sana, tanya ke situ, dan akhirnya ketemu alamatnya. Nayla heran, kenapa rumah ber cat putih itu banyak orangnya.
“Mbak, permisi. Ini benar alamat kosnya Sinta Anita Putri?” tanyanya.
“Iya benar mbak. Mbak ini siapanya Sinta ya?” tanya wanita itu setengah penasaran.
Dengan senyumnya Nayla menjawab. “Saya sahabatnya mbak.”
Tiba-tiba wajah Nayla berupa pucat tak percaya mendengar penuturan wanita itu. Sinta Meninggal. “Innalillahi wa innailaihi raji’un…” Kantong berisi jilbab putih untuk Sinta terjatuh. Nayla tak percaya. Ia segera masuk ingin melihat sendiri kebenarannya. Benar. Sinta telah tiada. Tidak ada lagi dua sejoli. Tidak ada lagi Sinta yang sering memencet-mencet hidung pesek Nayla.
“Sin….ta…..” Nayla terbata memanggil nama itu. Muslimah anggun itu pun menangis. “Rupanya ini yang membuat aku begitu merindukannya dan ingin segera bertemu dengannya. Rupanya ini,” katanya dalam hati.
“Sinta meninggal dengan senyumnya. Di hari jum’at setelah sholat subuh. Kemungkinan ia meninggal ketika mengaji Al-Qur’an , karena ia meninggal dalam keadaan masih memakai mukenah dan mushof Al-Qur’an yang masih menempel di tangannya.” Mendengar penuturan teman Sinta, Nayla merasa sangat bangga memiliki sahabat yang sholihah seperti dirinya.
Mata Nayla berkaca. Ia memuji Allah. Begitu bangga kepada Sinta, sahabatnya. “Satu bidadari Syurga kini telah terbang mengangkasa. Bersama sayap-sayap taqwa yang membawanya terbang ke Syurga, dialah Muslimah Syurga.”

-THE END-


Cinta Kazahra


Desir angin berhembus mengudara, sesekali menyibakkan ujung kerudung hijau muda gadis jelita itu. Matanya teduh, seteduh hatinya. Parasnya elok seperti mawar merah yang bermekaran di keteduhan taman bumi. Keanggunannya sering membuat orang-orang berdecak kagum ketika melihatnya.  Ia sangat takut kepada Tuhannya dan sangat mencintai Rasul-Nya. Entah berapa juz yang ia hafal, sungguh dia adalah muslimah syurga.

Kazahra masih tetap berdiri di balkon rumahnya, menatap hamparan langit yang tak ada ujung jika dilihat dengan mata. Langit kelam berhias awan mendung yang menutupi terik sang surya. Dilihatnya hamparan pantai yang membiru dari balkon rumahnya. Tanpa ia sadari, ujung matanya meneteskan air mata.
“Allah, tak pernah ku rasakan rasa ini sebelumnya. Apakah ini cinta? Kenapa dadaku begitu sesak merasakannya? Sungguh, jika ini memang cinta, bantulah aku untuk tetap mengindahkannya dengan aturan-Mu, karena aku tak mau jika cinta yang ku dera ini menusuk cinta yang telah kusemai indah kepada-Mu Allah. Sungguh dan sungguh, jika yang kurasakan ini adalah cinta, kuatkan aku untuk bisa menjaganya dan membuatnya berbuah pahala untuk diriku. Pahala yang akan mengantarkanku untuk mencium syurga-Mu, pahala yang menggandengku singgah di Jannah-Mu, pahala yang akan mempertemukanku kepada-Mu.” Bisiknya dalam hati. Suara adzan dari sound surau dekat rumahnya bergeming di telingannya dan mulai mengoyakkan lamunannya. Ia bergegas untuk sholat sambil menyeka tetesan air matanya.

***

Akhmad Husein Dzulfiqar. Nama itulah yang kini sedang menggeluti hati Zahra. Seorang ikhwan aktifis yang memilik kepribadian yang luar biasa. Dia adalah lulusan tahun 2007 dari salah satu universitas ternama di Surabaya. Kini ia sedang berkarya menjadi seorang pengusaha muda. Sampai tahun 2010 ini. ia sudah terbilang cukup sukses, karena usaha property yang digenggamnya berkembang pesat dan menghasilkan omset besar. Husein adalah pengusaha muda yang sukses, dibalik kesuksesannya ia masih tetap dalam kesederhanaannya dan aktifitas dakwahnya. Bahkan, ia sudah menghafal lebih dari 20 juz. Kini umurnya sudah memanggil-manggil dirinya untuk segera menemukan permata yang telah lama ia nanti.

“Zahra, untuk seminar entrepreneur besok, ana sudah dapat pembicaranya. Namanya Akhmad Husein Dzulfiqar. Beliau adalah pengusaha muda di Surabaya. Dijamin sip deh”, kata si Farah dengan senyum khasnya.
“Alhamdulillah, tinggal lima hari lagi acara seminar kita. Semoga lancar ya Far”, timpal Kazahra.
“Oia Ra, besok insyaallah ada syuro lanjutan untuk seminar kita. Yang lain tolong diberitahu ya.”
“iya insyaallah, makasih infonya ukh.”

***

03 Januari 2010, di Gedung Sutarjo Universitas Jember, pukul 09.00 WIB. Seminar entrepreneur pun sedang terlaksana. Kala itu Kazahra yang menjadi moderatornya dan Husein yang menjadi pembicaranya. Kazahra sangat terlihat anggun saat itu, bukan karena make-up yang menempel di kulitnya yang bersih tapi karena kecantikan alami, baju taqwanya, dan auranya yang begitu mempesona.

Zahra begitu piawai dengan tugas ynag telah diembannya, suasana tidak terasa tegang sama sekali karena Zahra mengimbaginya dengan bahasa yang halus dan santai. Ia juga memberikan sedikit guyonan ringan yang menghangatkan suasana. Begitu juga dengan Husein. Husein dengan wibawanya dan sikap serius santai yang dikantonginya mampu menyihir audience untuk mendengarkan semua apa yang ia sampaikan dengan khitmat.

Rupanya bukan hanya audience yang terkagum-kagum dengan pembawaan Husein, diam-diam hatinya tak dapat menipu bahwa Zahra juga merasa kagum dan bangga melihat sosok yang begitu luar biasa di sampingnya. Getaran aneh pun ia rasakan kala itu. Tapi Zahra masih tak mengerti, getaran apa yang ia rasakan dalam hatinya. Zahra hanya tahu bahwa ia kagum dengan sosok pengusaha muda itu, Akhmad Husein Dzulfiqar. Ya, hanya kagum.

***

 Acara seminar itu telah mempertemukan mereka berdua. Husein dan Zahra pun pernah terlibat obrolan santai sebelum mereka menuju panggug seminar.
“Anti Zahra ya? Yang menjadi moderator acara ini?”
“Na’am akh, senang bertemu dengan pengusaha muda seperti antum”, candanya.
“Anti semester berapa ukh? Fakultas apa?”
“Sudah semester 5 akh, lagi sibuk-sibuknya kuliah. Ana fakultas ilmu keguruan. Calonnya guru.” Sambil tersenyum.
“Wah luar biasa, sukses ya ukh. Semoga sukses juga buat seminar kita nanti.”
“aamiin, syukron akh.”

Obrolan ringan itu masih belum memberikan nyala asing di hati Zahra, karena Zahra orang yang sulit untuk jatuh cinta. Seumur hidupnya ia belum pernah merasakan memiliki cinta kasih kepada lelaki. Jika ditanya apakah ia pernah jatuh cinta, ia menjawab pernah. Mencintai orang tuanya, mencintai saudaranya.
Setelah selesai acara, teman-temannya menyampaikan salut kepada Zahra karena acaranya berjalan begitu lancar.

“Alhamdulilla, luar biasa Ra seminarnya. Anti dan akh Husein begitu kompak menyihir peserta. Hehe. Belajar sihir dari mana nih??? ” Canda Farah.
“Alhamdulillah”, sambil menyunggingkan senyumnya.
“Tahu ndak Ra, ternyata akh Husein itu bukan dari Surabaya, tapi dari Sumenep Madura. Sama dengan ana, sama-sama dari Madura. Tapi beda kota. Hehehe. Di Surabaya itu ternyata tempat kerjanya, karena ia merintis usahanya sejak  beliau semester tujuh di Unair.  Luar biasa ya, akh Husein itu. sudah sholeh, baik, ramah, kaya, tampan, pandai, pinter  ngomong lagi. Berutung ya Ra yang nanti jadi istrinya.”
“Pasti Allah memberikan yang terbaik ukh”, sambil tersenyum kembali
Mendengar kata-kata Farah tentang Husein, kekagumannya bertambah, seketika itu pula desiran itu muncul lagi.

***

Detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun pun terus melaju mengitari rotasi waktu. Zahra masih tetap dalam kebiasannya. Sibuk dengan ibadah, dakwah, organisasi, bekerja di salah satu SD di daerah asalnya, Banyuwangi, dan memberikan bimbingan les kepada beberapa murid SD di dekat rumahnya.

Malam itu saat orang-orang lain memejam kedua kelopak matanya, ia terjaga. Meneteskan air mata di atas sajadah cintanya. Merasakan gemuruh hati yang selama dua tahun berdiam di hatinya. Diam. Ya, dia diam dengan cinta dalam hatinya. Diam untuk cintanya kepada sosok Husein yang luar biasa. Ia tak mau sentuh cinta itu dengan noda yang bisa membuat Allah murka kepadanya. Ia benar-benar tak mau mengotori kemuslimahannya. Sepenuhnya, ia serahkan takdir jodohnya kepada Rabb-nya. Sepenuhnya, karena rencana-Nya lebih indah daripada rencananya. Ia meyakini bahwa Allah telah berjanji, dalam QS. An Nur ayat 26 dikatakan bahwa “perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”.

“Allah, aku hanya hambu-Mu yang lemah dan berhias lumuran noda. Ku gantungkan semua mimpi-mimpiku kpada-Mu. Kuserahkan semua apa yang terbaik untukku kepada-Mu. Termasuk jodohku. Jika Akhi Husein adalah jodohku, mudahkanlah jalan untuk segera menyempurnakan separuh iman dan agamaku. Namun jika tidak, hempaskanlah rasa cintaku kepadanya sejauh-jauhnya hingga aku tak bisa lagi merasakan desirnya”
Dipojok Madura sana, di Kota Sumenep kota, Husein tengah mempersiapkan mentalnya untuk menemui ayah Zahra. Ia begitu mantap dengan pilihan hatinya. Sebenarnya, ia telah kagum dengan Kazahra Humaira saat acara seminar itu dan saat itu pula ia berniat hendak menjadikannya istri. Husein sudah tahu bahwa Zahra sudah lulus kuliah S1-nya dari salah satu temannya yang kebetulan kenal dekat dengan Zahra. Melalui temannya itu lah Husein mendapat informasi banyak tentang Kazahra.

Zahra, sosok yang luar biasa yang hinggap di hatinya selama dua tahun. Ia benar-benar menjaganya dengan tidak melakukan komunikasi apapun dengan Zahra. Begitu pula dengan Zahra. Selama dua tahun pula, rupanya Husein tengah menyimpan cinta kepada Zahra. Husein tahu bagaimana ia harus mengambil sikap. Yaitu dengan diam dan menjaganya dalam doa dan ibadahnya, hanya karena Allah semata. Zahra, seorang muslimah syurga.

***

Khitbah telah dilkukan melalui perantara wali Zahra. Dan kini Husein menggandeng keluaranya untuk ke Banyuwangi menemui keluarga Zahra untuk melamarnya.
“kedatangan saya disini berniat untuk melamar putri bapak, Kazahra Humairah demi memenuhi ibadah. Jika diterima dan disepakati minggu depan saya berencana untuk menikahinya.”
“Bapak selaku ayah Zahra  telah menyerahkan semuanya kepada Zahra langsung, sekarang bagaimana jawabanmu nduk?”
“Bismillahirrahmanirrahim, saya menerima lamaran akhi dengan satu syarat. Jika syarat ini dipenuhi, saya terima lamaran akhi, dan tanggal pernikahan bisa segera ditetapkan. Namun jika tidak, silahkan akhi pilih gadis yang lain yang tidak memberikan syarat apapun”
“apa syaratnya?”
“saya tidak ingin akhi menikahi perempuan lain selama ana masih bisa menjalankan kewajiban ana sebagaiseorang  istri. Saya hanya ingin seperti Fatimah yang sama sekali tidak pernah dimadu oleh Ali bin Abi Thalib dan bunda Khatidjah yang juga  tidak pernah dimadu selama pernikannya dengan Rasulullah SAW”
“ana terima syaratnya”
Air mata haru Kazahra pun menetes membasahi wajah rupawan itu. ia mengucap syukur kepada Tuhannya karena cinta yang selama ini ia jaga telah mekar dibawah pelangi kebahagiannya. Husein yang ia cintai dalam diam selama dua tahun dan hanya Allah lah yang tahu akan menjadi imamnya. Janji Allah telah terjawab. Dan janji itu mereka sambut dengan senyum gembira.

***

“istriku, selama dua tahun aku menyimpan cinta untukmu. Selama dua tahun pula aku merasakan sesak yang begitu luar biasa karena cinta yang kubungkam dalam diam. Dan kini, cinta itu telah bersemai indah. Kini orang yang namanya ada dalam hatiku selama dua tahun, Kazahra Humaira telah ada di depanku. Aku mencintaimu, sayang. Mencintaimu karena Allah”
Kazahra menangis bahagia karena ternyata yang ia rasakan selama dua tahun setelah acara seminar itu dirasakan pula oleh Husein, oang yang ia cintai. Husein, yang kini ada di depan matanya dan menyek air matanya. Berharap, ia imam yang akan menuntunnya kelak menggapai Jannah-Nya bersama-sama.

#Diselesaikan cerpen ini pada tanggal 05 Januari 2013. Pukul 20.43 WIB. @bangka V 16, JBR.

My Friends