Tampilkan postingan dengan label good muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label good muslimah. Tampilkan semua postingan

Mengapa Kau Masih Ragu, Saudariku???

  1. orang yang hendak berhijrah untuk mengenakan pakaian muslimahnya.. 
  2.  dan kemudian dia ragu karena berpikir "aku belum siap.. hatiku belum kujilbabi kelakuanku masih seperti anak kecil.. dsb..." sadarilah saudariku.. itu semua setan..
  3. setan yg mempengaruhi pikiranmu dengan alasan2 yg telihat putih.. karena dia ingin menggagalkan hijabmu..
  4. karena setan tak mau kamu menjadi muslimah yg patuh pada aturan Tuhanmu..
  5. sadarila saudariku... bahwa hati tak akan pernah bisa dijilbabi.. manusia itu tempatnya salah dan dosa.. ketika menunggu kesempurnaan akhlak.. maka engkau akan menunggunya sampai kapan?? padahal engkau tak tahu sedikitpun tentang ajalmu..
  6. sadarilah saudariku.. dengan hijabmu, engkau tak lagi menyeret ayahmu atau suamimu ke neraka.. 
  7. sadarilah saudariku.. bahwa pakaian terbaik untukmu adalah yang sudah diatur dalam kitab mulia Al Qur'an..
  8. sadarilah saudariku setan bisa menghalangimu berbuat kebaikan dari pintu mana saja yang bisa ia buka.. 
  9. dan sadarilah saudariku.. Allah Ridha engkau berhijab.. karena itu bentuk kasihNya padamu tuk melindungimu..
  10. lantas mengapa kau masih ragu mengambil pakaian surgamu?? 


#HK

Wahai yang Berkedudukan Tinggi

“Banyak hal yang engkau hindari, namun menarik hal lain yang engkau harapkan.”

Bismillahirrahmanirrahim…
Engkau yang berkedudukan tinggi. Wahai wanita muslilah yang jujur, wahai wanita muslimah yang taat, jadilah seperti pohon kurma yang jarang membusuk dan berpenyakitan. Ketika dilempar batu, justru memberikan kurma. Dan, selalu tumbuh di musim panas maupun musim dingin, dan banyak manfaatnya. (bisa direnungkan sendiri kan).
Hiduplah ditempat yang tak menyentuh hal-hal yang tidak berguna, yang mampu menjaga kehidupan dari hal yang dapat mengelabuhi rasa malu. Ucapanmu adalah dzikir, cara memandangmu adalah menarik pelajaran (bukan matematika, fisika, ekonomi, dkk ya…), dan diammu adalah berpikir. Di manapun berada, engkau selalu mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Selalu diterima di manapun engkau berada. Pujian yang baik dan do’a yang jujur dari semua makhluk selalu mengalir untukmu. Allah senantiasa menghilangkan mendung kelabu yang menghimpitmu. Melenyapkan rasa takut dan menjernihkan dari kemuraman. Tidurlah engkau di atas suara do’a orang-orang mukmin untukmu dan bangunlah seiring dengan pujian untukmu. Di manapun, engkau mengetahui bahwa kebahagiaan bukanlah pada harta, namun ketika engkau mentaati Zat Yang Maha Terpuji, Allah SWT. Bukan pula pada pakaian yang baru dan pelayanan seorang hamba, namun pada saat engkau mentaati Maha Agung, Allah SWT.
Nah…ukhti fillah…udah tau kan,, bahwa muslimah berkedudukan tinggi itu bukan seperti yang memeiliki kedudukan tinggi di lingkungannya (pastinya ada caranya itu, yaitu dengan menjadi wanita baik. Wanita baik itu bukanlah dalam satu sisi, namun banyak sisi..<selamat mencari dan mencoba> hehe), tapi yang seperti kita bahas tadi itu. Semoga kita bisa jadi wanita yang berkedudukan tinggi, yang senantiasa merasa malu bila melakukan maksiat sekecil apa pun itu, yang selalu setia dengan hijab dan pakaian taqwa, yang selalu memelihara Gadhul Bashar, yang selalu haus akan keindahan cahaya ilmu-Nya. Dengan begitu, insyaAllah kita termasuk golongan orang yang bisa mendapatkan cinta Allah dan dengan ijinNya insyaAllah kita akan berjumpa denganNya, di SurgaNya kelak. Aamiin…
“Jangan putus asa. Mencoba itu memang lambat. Dan, akan ada penghalang yang menghadang cita-cita itu. Maka jangan pernah kalah olehnya, jika kau ingin menang.”
Ya Allah Ya Rabb kami,,,ampunilah dosa hambamu yang hina dan tidak tau diri ini, yang tidak pernah bosan untuk melakukan maksiat..yang selalu egois dan cerewet. Ya Rabb…hamba takut denganMu, hamba takut dengan siksa dan AdzabMu,..hamba tidak pantas untuk memasuki SurgaMu..namun,, hamba juga takut masuk nerakaMu. Ya Rabb kami…maafkanlah kami dan berilah hidayah dan Rahmatmu atas kami,, jangan pernah kau palingkan diriMu dari kami…amin

Goresan masa kelas 2 SMA-ku. (IM-27 April 2011)

Kado Istimewa Yang Belum Kau Ambil




Bismillahirrahmanirrahiem..^_^
Saudariku…
Seorang mukmin dengan mukmin lain ibarat cermin. Bukan cermin yang memantulkan bayangan fisik, melainkan cermin yang menjadi refleksi akhlak dan tingkah laku. Kita dapat mengetahui dan melihat kekurangan kita dari saudara seagama kita. Cerminan baik dari saudara kita tentulah baik pula untuk kita ikuti. Sedangkan cerminan buruk dari saudara kita lebih pantas untuk kita tinggalkan dan jadikan pembelajaran untuk saling memperbaiki.
Saudariku…
Tentu engkau sudah mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk saling mencintai. Dan salah satu bukti cinta Islam kepada kita –kaum wanita– adalah perintah untuk berjilbab. Namun, kulihat engkau masih belum mengambil “kado istimewa” itu. Kudengar masih banyak alasan yang menginap di rongga-rongga pikiran dan hatimu setiap kali ada pertanyaan, “Kenapa jilbabmu masih belum kau pakai?” Padahal sudah banyak waktu kau luangkan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi SAW tentang perintah jilbab. Sudah sekian judul buku engkau baca untuk memantapkan hatimu agar segera berjilbab. Juga ribuan seruan cinta dari saudarimu yang menginginkan agar jilbabmu itu segera kau kenakan. Lalu kenapa, jilbabmu masih terlipat rapi di dalam lemari dan bukan terjulur untuk menutupi dirimu?
Jilbab adalah pakaian yang berfungsi untuk menutupi perhiasan dan keindahan dirimu, agar dia tidak dinikmati oleh sembarang orang. Ingatkah engkau ketika engkau membeli pakaian di pertokoan, mula-mula engkau melihatnya, memegangnya, mencobanya, lalu ketika kau jatuh cinta kepadanya, engkau akan meminta kepada pemilik toko untuk memberikanmu pakaian serupa yang masih baru dalam segel. Kenapa demikian? Karena engkau ingin mengenakan pakaian yang baru, bersih dan belum tersentuh oleh tangan-tangan orang lain. Jika demikian sikapmu pada pakaian yang hendak engkau beli, maka bagaimana sikapmu pada dirimu sendiri? Tentu engkau akan lebih memantapkan ’segel’nya, agar dia tetap ber’nilai jual’ tinggi, bukankah demikian? Saudariku, izinkan aku sedikit mengingatkanmu pada firman Rabb kita ‘Azza wa Jalla berikut ini,
“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)
Saudariku tercinta, Allah tidak semata-mata menurunkan perintah jilbab kepada kita tanpa ada hikmah dibalik semuanya. Allah telah mensyari’atkan jilbab atas kaum wanita, karena Allah Yang Maha Mengetahui menginginkan supaya kaum wanita mendapatkan kemuliaan dan kesucian di segala aspek kehidupan, baik dia adalah seorang anak, seorang ibu, seorang saudari, seorang bibi, atau pun sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari masyarakat. Allah menjadikan jilbab sebagai perangkat untuk melindungi kita dari berbagai “virus” ganas yang merajalela di luar sana. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,
“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.” (Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma)
Saudariku, berjilbab bukan hanya sebuah identitas bagimu untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang muslimah. Tetapi jilbab adalah suatu bentuk ketaatanmu kepada Allah Ta’ala, selain shalat, puasa, dan ibadah lain yang telah engkau kerjakan. Jilbab juga merupakan konsekuensi nyata dari seorang wanita yang menyatakan bahwa dia telah beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, jilbab juga merupakan lambang kehormatan, kesucian, rasa malu, dan kecemburuan. Dan semua itu Allah jadikan baik untukmu. Tidakkah hatimu terketuk dengan kasih sayang Rabb kita yang tiada duanya ini?
Diselesaikan goresan ini pada 17 Januari 2011. –adapted from one nice mulimah blog

My Friends