Home » All posts
She.. Hanya Ilusi
Tak terasa
kehijauannya melamunkanku
Smuanya
tersengati dengan munculnya seberkah spektrum cahaya abadi
Bergagas
membangun tatanan hidup
Si jelita pandang
terang dunia ini
Ku hanya terdiam
menikmati terjungkungnya diri
Namun semua itu
hanya ilusi
Segera
kukembalikan pada yang memilki
Kupang Panjaan,Selasa 11 01 2011-01-11
Senyum mereka, Bahagia Kita
“Air ini mengalir dari mataku. Karena senyum
dan mimpi mereka”
Ayah dan bunda
adalah dua malaikat kita. Dua orang yang dikirimkan Allah untuk menjaga buah
hati mereka. Menyayanginya dengan setulus kasih. Merawatnya dengan lembut
ikhlas. Mencintainya tanpa ingin meminta balas. Bunda yang harus berjuang
selama sembilan bulan. Bunda, yang menyapih selama dua tahun. Bunda yang
kasihnya tak pernah putus. Bunda yang lembut tutur kata. Bunda yang selalu
inginkan bahagia anaknya. Bunda yang selalu ingin yang terbaik untuk ananda.
Bunda yang selalu mengalah. Ketika ada satu roti, ia rela tak makan untuk
diberikan kepada anaknya. Beruntunglah kita memiliki bunda. Beruntunglah kita
pernah merasakan cinta dan kasihnya. Beruntung kita yang hangat di dekapnya.
Beruntunglah kita masih bisa mencium tangan lelah mereka.
Ia rela memeras
keringat dari pori-pori kulitnya. Tak pedulu panas ataupun mendung. Tak peduli
hujan ataupun topan. Ia yang selalu inginkan anaknya menjadi yang terbaik.
Ayah. Ayah mengajarkan arti kerja keras. Ia yang mengajarkan arti berani. Ayah
yang selalu menguatkan ananda ketika lemah. Ia tak pernah terlihat menangis,
karena ia harus terlihat tegar di depan anaknya. Kasih sayangnya setulus bunda.
Dekapannya sehangat dekap bunda. Ayah yang selalu memiliki cinta untuk ananda.
Beruntunglah kita memiliki ayah. Beruntuglah kita pernah merasakan cinta dan
kesihnya. Beruntuglah kita yang hangat di dekapnya. Beruntungah kita masih bisa
mencium tangan lelah mereka.
Bagaimana dengan
anak-anak kecil itu? Anak-anak yang besar tanpa ada bunda mereka. Anak-anak
yang besar tanpa ada ayah mereka. Anak-anak yang tumbuh besar tanpa ada ayah
dan bunda mereka di dekatnya. Bagaimana dengan mereka? Siapa yang akan
menyayangi mereka? Siapa yang akan mencintai mereka? Siapa yang akan membahagiakan
mereka? Siapa yang akan mengajarkan mereka tentang Allah? Tentang Rasulullah? Tentang
Surga? Tentang Neraka? tentang orang tua mereka? Siapa kalau bukan kita. “Aku dan orang-orang yang mengasuh atau
menyantuni anak yatim di Surga seperti ini”, kemudian Rasulullah saw. memberi
isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya.
(HR. Bukhori).
“Bagaimana ya
rasanya dicium bunda? Bagaimana ya rasanya dipeluk ibu? Bagaimana ya rasanya
disuapin mama? Bagaimana ya rasanya dimrahin umi? Bagaimana ya rasanya di
bonceng ayah? Bagaimana ya rasanya dibelikan mainan sama bapak? Bagaimana ya rasanya
tidur sama mama dan papa? Bagaimana ya rasanya dicintai orang tua sendiri? Aku
rindu kalian. Ayah. Bunda. Aku ingin bertemu. Kapan kita bisa bertemu? Aku iri
dengan mereka yang jalan bertiga bersama orang tuanya. Aku iri dengan mereka
yang bisa makan bertiga bersama ayah dan ibunya. Sungguh. Aku ingin merasakan
seperti itu! Tapi mana kalian???” seperti itu kah suara hati anak-anak yatim?
Mungkin. Anak-anak yatim yang ditinggal mati orang tuanya sebelum mereka baligh.
Mereka tanpa ayah. Mereka tanpa bunda. Mereka sangat ingin seperti kita. bisa
merasakan kehangatan keluarga. Bersyukurlah kita masih bisa mencium tangan
kedua orang tua kita. bagaimana jika kita di posisi mereka? Apakah kita selalu
menangis? Tapi anak-anak yatim itu tidak, mereka tersenyum, mereka bisa tertawa
seperti anak-anak lainnya. Anak-anak yatim itu tanggung jawab kita. sadarlah
kita! kita punya tanggung jawab membahagiakan mereka. Jika bukan kita, siapa
lagi? Siapa lagi? “Bersikaplah kepada
anak yatim, seperti seorang bapak yang penyayang” (HR. Bukhori)
Air ini mengalir dari
mataku. Karena senyum dan mimpi mereka. Mereka punya mimpi, sama seperti
kita. mimpi-mimpi mulia. Ayolah, kalau bukan kita, siapa yang akan membantu
mereka mewujudkan mimpinya? Sungguh, hatiku terenyuh ketika melihat senyum dan
tawa mereka. Ikhlas sekali. Senyum mereka menenangkan, ceria mereka
menyejukkan. Ketika kita bisa mencintai mereka, itu nikmat yang luar biasa.
Ketika kita bisa berbagi dengan mereka, itu karunia yang tak ada duanya. Karena senyum mereka, bahagia kita.
Masihkah kita ragu untuk berbagi dengan anak-anak Yatim? Masih kah kita ragu
untuk mencintai mereka? Masihkah ragu? Padahal Surga ganjarannya. “Barangsiapa yang menanggung anak yatim di
rumahnya yakni ia diberi makan dan minum (sama dengan makan dan minumya), maka
Allah SWT akan memasukkan ia di surga, kecuali jika ia melakukan dosa yang
tidak dapat diampuni”. (HR. Turmudzi). “Siapa yang mengasuh anak yatim dan
berbuat baik pada mereka akan dijadikan baginya tirai plindung dari api neraka”
(HR. Bukhori). MasyaAllah.
-HK.25032013,08.31am
“555”.
Santunan Aanak Yatim dan Dhuafa. Sabtu, 03 Agustus 2013.
Mari berbagi kebaikan, mari berbagi cinta.
Pilihan paket :
ü Pelajar :
Rp 25.000
ü Mahasswa : Rp 25.000
ü Umum : Rp
50.000
ü VIP :
Rp 100.000
Untuk yang mau donasi, salurkan di :
ü BRI :
000701030542505 (a.n Nina Wijani)
ü Muamalat : 0167755647 (a.n Nina Wijani)
ü BNI :
0268726050 (a.n Nina Wijani)
ü Mandiri : 1430012598395 (a.n Yanuar Fardian
Arisnatha)
Salurkan
dengan mengirim komfirmasi dengan format :
NAMA_PILIHAN PAKET_JUMLAH PAKET_NOMINAL
TRANSFER_TANGGAL DAN WAKTU TRANSFER
-yuk, Investasi
Akhirat^^
Hidayah Untukku
Siang itu sangat panas. Seperti biasanya, Ayah yang
bekerja sebagai guru agama islam di salah satu SMA ternama di kotaku pulang
dari sekolah tempat ia membanting tulang. Aku menanti Ayah. Begitu menantinya.
Tak sabar mendengar kabar apakah aku diterima atau ditolak di sekolah tempat
ayah bekerja. SMA ayah itu sekolah favoritku. Ingin sekali aku mengenyam ilmu
disana. Awan putih sangat ceria menemani surya. Seceria hatiku ketika ayah
memberitahu kabar gembira untukku. “Nduk, kamu diterima di sekolah Ayah.
Selamat ya,” ucap Ayah. Mendengarnya mataku berlinang. Bukan. Bukan karena
sedih. Bahagia hatiku mendengarnya. Akhirnya, mimpiku terkabul. Ya, aku telah
menjadi pelajar SMA favorit di kotaku.
“Memakai jilbab? Berhijab? Aku tidak mau. Sungguh.
Jangan paksa aku Bunda. Jangan paksa aku Ayah”. Ayah seorang guru agama. Orang
tuaku menyuruhku untuk berhijab. Kata Ayah, aku sudah besar, sudah baligh pula.
Wajib hukumnya bagiku untuk berjilbab. Tapi tetap, aku tidak mau. Jilbab itu
bikin gerah. Panas. Apalagi matahari jaman sekarang panasnya bukan main. “Nduk,
Ayahmu guru agama. Apa Mirza mau buat Ayah malu karena kamu tidak pakai jilbab?
Ayah menasihati muridnya untuk tutup aurat. Tapi anaknya sendiri rambutnya
masih belum ditutup,” ucap Bunda. Aku ingin berontak rasanya. Aku tidak ingin
dipaksa. ‘Tapi Za, kamu juga nggak boleh egois”, sibakku dalam hati. Sudah. Aku
ingin berpikir dulu. Ingin ku pertimbangkan dulu tentang jilbab itu. Beri aku
waktu.
Pagi yang mendung. Awan masih belum mau memutih.
Langit masih belum mau membiru. Aku tiba di sekolahku. Aku masih ingat. Saat
itu hari senin. Murid-murid memakai seragam putih-putih. Ah, senyum teman-teman
baruku masih membekas di ingatanku. Senyum bahagia dengan seragam putih mereka.
Jilbab putihku tersibak oleh angin yang tiba-tiba datang. Ya. Aku telah
berjilbab. Aku berhijab. Namun, jilbabku saat itu bukan dari hatiku. Tidak ada
rasa puas apapun ketika aku memakainya. Jelas. Karena memang aku berjilbab
karena orang tua. Bukan karena hatiku yang menginginkannya. Bukan karena Allah.
Tapi, karena Bundaku. Karena Ayahku.
Aku jalani hari-hariku sebagai pelajar pada umumnya.
Jilbabku ku kenakan pada saat sekolah saja. Di luar sekolah rambutku masih
terurai hitam. Hingga suatu ketika, terbesit keinginan untuk ikut rohis di
sekolahku. Entah. Tiba-tiba saja aku ingin ikut. Aku bertemu dengan orang-orang
luar biasa disana. Bertemu dengan perempuan-perempuan yang anggun dengan
jilbabnya. Hatiku berdesir memandang mereka. Begitu anggun. Sangat mempesona. Pernah
terbesit di otakku, apakah mereka sama sepertiku? Memakai jilbab karena di
paksa? Hanya karena orang tua kah? Entahlah. Aku belum menemukan jawabannya.
Kegiatan di rohis mulai ku ikuti. Entah kenapa hati
ini ingin sekali mengikuti kegiatan-kegiatan Rohis SMA-ku. Tak ingin rasanya
tertinggal satu saja. Tapi aku yakin, yang menggerakkan hati ini adalah Allah. “Kenapa
kita harus berjilbab?” terdengar suara mbak Dewi yang sedang mengisi kajian kemuslimahan
di Rohisku. Disinilah ku dapatkan hidayahku. Masih terngiang di dua telingaku
nasihat beliau. “Berhijab, wajib hukumnya untuk perempuan yang sudah baligh.
Kenapa kalian masih ragu dengan perintah itu? Sedangkan Allah sendiri yang
menyuruhnya melalui Al-Qur’an Qareem. Apakah kalian masih ragu? Apa yang
membuat kalian ragu lagi? Dalam QS. An-Nur: 31 pun sudah jelas perintahnya. “Dan hendaklah mereka menutupkan kain
kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya)…” takutlah
kalian pada Allah, takutlah kalian pada panasya api neraka. cukuplah Allah yang
menjadi alasan kalian untuk berjilbab.” nasihat beliau.
Hatiku getir. Aku menyesal karena telah
mempermainkan jilbabku. Aku baru menyadarinya, jilbabku adalah pelindungku dari
panasnya jilatan api di Neraka. gerah memang memakai jilbab. Panas memang.
Apalagi saat matahari sedang panas-panasnya. Tapi, aku baru sadar saat itu,
bahwa panas matahari di dunia tak ada apa-apanya dari panasnya Padang Mahsyar. Bahwa panas di dunia tidak ada apa-apanya dari
panasnya Neraka di akhirat kelak. Jilbab pun akan melindungiku dari mata-mata
nakal. Jilbab akan memberikan kesejukan untukku, ketika aku memakainya dengan
hati. Jilbab akan memuliakanku. Jilbab pun akan menjaga kehormatanku. Kini, aku
merasakan damai luar biasa dengan hijabku. Karena hijab melindungiku. Hijab,
I’m in love.
HK-20072013
“Dengarlah Akhi... Dengarlah Ukhti…”
Kehidupan
ada karena Tuhan itu ada. Bumi ada karena langit ada. Bayi ada karena ibu ada. Hawa ada karena Adam ada. Bukankah
seperti itu???... (coba dipikir-pikir lagi). Terakhir. Adam dan Hawa ada karena
ada cinta bukan?
Desir lembut
menelusur memasuki lorong hati. Singgah di ruang hati. Meletuskan getar yang
asing untuk diterjemahkan. Membuat hidup seseorang kadang seperti pelangi,
terkadang juga menggores lukisan senyum yang tak berlatar belakang, terkadang
pula mampu menyayat hati seperti sayatan pedang tajam, juga seringkali
mengalirkan air bening di pelupuk mata yang juga tak berlatar belakang. Benarkah seperti ini disebut cinta?
Cinta. Ia hadir begitu saja tanpa diminta, tidak
melihat usia berapa, anak-anak, remaja, dewasa, bahkan tua. Ia bisa hadir
kapanpun dan kepada siapapun. Ia hadir dengan ekspresi tak bersalah. Tak
bersalah? Ya, karena sejatinya ia suci, murni dan lembut. Ketika cinta mengetuk
pintu hati seseorang yang belum diikat benang suci, belum melafadzkan ijab
qabul, maka cinta adalah cobaan yang patut disyukuri kehadirannya. Mensyukuri
dengan tidak menjadinkannya liar dan tak terkendali. Karena Islam telah
mengaturnya lebih indah daripada cinta itu sendiri. Seperti itu kah??? (aku
mencoba mencari jawaban di dua mata kalian J).
Cinta datang
sendiri tanpa diminta. Tapi pasti ada penghantarnya bukan? Tatapan mungkin saja,
komunikasi juga bisa, hanya suara pun mungkin iya. Cerita? Cerita berpengaruh
juga untuk menariknya datang. Hati manusia itu sederhana. Ya. Sederhana.
Sederhana untuk mencinta. Sederhana untuk merasakan kekakugaman. Sederhana
untuk kasih dan sayang. Hati manusia juga rawan dengan kagum dan cinta. Laki-laki
pun perempuan. Mereka punya hati yang sama-sama rawan. Saat yang disebut
‘fitrah’ itu datang di masa yang tidak tepat, mereka dipaksa untuk menjaga hatinya.
Tapi setiap hati memiliki pilihan yang berbeda. Memilih mengindahkannya menjadi
bunga-bunga Surga atau memilih mengotorinya dengan nanah Neraka. bagaimana
dengan pilihanmu??...
“Dijadikan indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan
di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imron : 14)
Dengarkan ini akhi, yang kuhormati…
“Aku hanya perempuan di jaman sekarang yang
memiliki hati yang mudah rapuh. Rapuh. Rapuh karena mungkin engkau, akhi.
Aku bukan seseorang yang selalu kuat, juga
bukan wanita yang selalu bisa menahan nafsu. Kala diri ini diuji, aku sering
tewas. Tewas karena godaan syaitan dan nafsu sendiri.
Perempuan sepertiku gampang sekali ‘ge.er’.
Ge’er jika engkau mengirim sms yang diluar urusan dakwah kita. Ge’er saat kau
mengetik sms dengan bahasa yang berlebihan. Ge’er saat kau telepon menanyakan
sesuatu tentangku di luar urusan dakwah kita. Ge’er saat kau memberikan
perhatianmu yang seharusnya aku tak menerimanya darimu. Ge’er saat kau sering
berkomentar berlebihan di dinding facebook-ku. Ge’er saat kau memakai sms atau
komen dengan emoticon-emoticon aneh yang seharusnya itu bukan untukku. Ge’er
saat kau rajin menemuiku dengan alasan-alasanmu yang itu hanya sebuah alasan.
Ge’er saat pandanganmu tak terjaga untukku. Ge’er saat tingkahmu tak biasanya
kepadaku. Akhi, apa menurutmu aku layak meminta pertanggungjawabanmu setelah
suka itu mengusikku?
Mungkin engkau menganggap semuanya itu biasa.
Tapi bagaimana denganku? Apa aku sepertimu? Apakah kau bisa memastikan? Apa kau
juga mampu membaca hatiku, akhi? Akhi… Aku hanya perempuan di jaman sekarang
yang memiliki hati yang mudah rapuh. Rapuh. Rapuh karena mungkin engkau.
Bukankah Allah adalah Dzat Yang Maha
Membolak-balikan hati? --Yaa
Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Ta’atik-- “Wahai Dzat yang
membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku diatas ketaatan kepada-Mu.” (HR.
Muslim)
Aku merasa tantangan berat ketika memilih
dakwah sebagai jalanku. Bukan hanya karena berat mengindahkan jalan juang ini
saja. Juga bukan hanya karena berat mengabdi untuk umat. Tapi juga berat
menundukkan hati dengan kalian dalam jalan juang ini. Saat aku harus berbicara
dengan kalian, aku hati-hati sekali merangkai kata agar tak menyakiti penjagaan
kalian. Saat berbicara dengan kalian, aku hati-hati sekali menundukkan
pandangan agar tak merusak pikiran dan hatimu. Apa kau juga demikian?
Telah ku coba menjaga diri sebaik-baiknya.
Menjauhkan diri dari tabarruj, perfume, make up, perhiasan dan teman-temannya.
Untuk apa? Aku hanya ingin terhindar dari fitnah dunia. Aku hanya ingin tidak
melukai hatimu dengan penampilanku.
Maaf jika mungkin aku sering sekali tak
meresponmu. Bukan karena sombong. Tapi ini bentuk ketegasan dan penjagaan
diriku. Berharap engkau menghormatiku sebagai wanita. Berharap engkau
menghormatiku sebagai muslimah. Karena aku tak mau merusak hati. Aku juga tak
mau merusak diri. Yang ku mau, aku bisa mempertahankan kesucian hati dan diriku
untuk seseorang yang aku tidak tau itu siapa. Yang aku tidak tau dia -yang aku
tidak tau siapa- kapan datang menjemputku. Mohon, hargailah aku sebagai hawa.
Semoga hati kita bisa tetap suci dengan Allah
yang selalu di hati.”
Dengarkan ini ukhti, yang kuhormati…
“Aku hanya laki-laki di jaman sekarang yang tidak
ingin melukaimu. Yang tidak ingin melukai hati dan penjagaan dirimu.
Aku bukan seseorang yang selalu kuat, juga
bukan laki-laki yang selalu bisa menahan nafsu. Kala diri ini diuji, aku sering
tewas. Tewas karena godaan syaitan dan nafsu sendiri.
Aku berusaha menhgormatimu sebagai muslimah.
Aku berusaha tegas padamu bukan karena aku marah-marah. Juga bukan berarti aku
kasar. Bukan pula aku tak suka denganmu. Tapi aku hanya berusaha menjaga hatimu
juga hatiku.
Ukhti, tolong berhenti bermanja pada kami.
Kami hanya laki-laki biasa yang ingin teguh di jalan Illahi. Setiap kata atau
nada manja yang keluar dari mulutmu akan sangat membebani hati kami. Kami hanya
laki-laki biasa yang bisa rapuh kapan saja.
Aku hanya laki-laki biasa jaman sekarang yang
mudah terpikat. Jangan hajar emosi dan jiwaku dengan perhatianmu yang murah.
Jiwa ini terasa gerah dengan pujian yang membuncah. Jangan pula kau berlebih
kata dalam sms ataupun komen di dinding facebook-ku, karena itu bisa membuatku
salah mengartikan.
Kala aku tertunduk ketika berbicara denganmu,
bukan berarti aku sambong atau tidak menghargaimu. Tapi semua itu ku lakukan
untuk menjaga hatiku juga hatimu. Aku tak bisa menjamin pandanganku terhadapmu
tidak membawa efek apa-apa. Aku hanya takut zina mata dan turun ke hati.
Maaf jika mungkin aku sering sekali tak
meresponmu. Bukan karena sombong. Tapi ini bentuk ketegasan dan penjagaan
diriku. Berharap engkau menghormatiku sebagai lelaki. Berharap engkau
menghormatiku sebagai muslim. Karena aku tak mau merusak hati. Aku juga tak mau
merusak diri. Yang ku mau, aku bisa mempertahankan kesucian hati dan diriku
untuk seseorang yang aku tidak tau itu
siapa. Yang aku tidak tau dia -yang aku tidak tau itu siapa- kapan akan ku
jemput untuk menemaniku sampai matiku. Mohon, hargailah aku sebagai adam.
Semoga hati kita bisa tetap suci dengan Allah
yang selalu di hati.”
Jalan dakwah ini
terlalu eman jika kita malah terjebak
cinta atau kagum yang semu di dalamnya. Hati yang bersih, engkau terlalu
berharga untuk dijatuhkan. Tetaplah pada penjagaanmu. Tetaplah pada jual
mahalmu. Karena kualitas diri mempengaruhi seberapa besar kualitas kita di
hadapan Allah. Jika dipikir, orang-orang yang terjaga itu sangat mulia. Jika di
pandang, mereka sangat sulit untuk direndahkan, dan sangat sangat WOW LUAR
BIASA-nya (funny ending.. hehe).
Jagalah diri.
Jagalah hati. Jagalah kesuciannya. Ya. Menjaganya. Untuk seseorang yang kita
tidak tau itu siapa. Yang kita juga tidak tau kapan datangnya. Menjaganya. Demi
cinta-Nya, karena cinta-Nya, untuk surga-Nya.
Bersama
bulan dan gemintang, Diselesaikan pada 03 Mei 2013, pukul 01.30 am.
HK-03052013-01.30
"Serdadu Jung Disini"
Teringat…
Di hari kemarin ada
ketua yang semangat mengajak
Teringat…
Ada wajah-wajah
kita yang terpanggil menggandeng amanah ini
Teringat pula…
Tempat yang menjadi
saksi pertemuan kita..
Ya, saksi pertemuan
kita memeras otak untuk memberikan yang terbaik untuk amanah ini
sangat ingat…
Tawa kita, kesal
kita, malu-malu kita, geregat kita, kebingungan kita, lelucon kita, di tempat
itu
Dan yang paling ku
ingat..
Semangat dan senyum
ikhlas kalian J
Perjuangan nyata
sudah dimulai kawan!
Ya di sini! Di
tempat ini!
Sangat yakin, kita
sudah kerja keras
Sangat yakin, kita
sudah berusaha memberi yang terbaik
TERSENYUMLAH!! Ya,
tersenyumlah
Meski kesal
menggoda amanahmu, meski sakit menggoda amanahmu
Meski lelah
menggoda amanahmu, meski amarah menggoda amanahmu
Tersenyumlah!! Dan
tersenyumlah untuk perjuangan kita.. untuk Allah
Sudahkah ada Allah
di setiap sudut juangmu kawan??? Sudahkah ada???
Tersenyumlah!!
Karena sebenarnya kita mencari syurga lewat rute juang ini
Kau tau? Bahwa
senyum kalian yang membuat kita semangat menyelesaikan juang ini.
Aku dituntut untuk
mengerti kalian!
Aku dituntut untuk
memahami karakter kalian!
Aku dituntut untuk
bisa menerima apa yang ada pada kalian!
Kalian yang
berbeda. Kalian yang tak sama!
Siapa yang menuntutku???
Diriku sendiri!!!
Untuk apa? Aku ingin
kalian memikirkannya
Apakah kau juga
begitu kawan?
Allah…
Engkau yang
mengetahui hati-hati kami
Ikhlas atau
tidaknya kami
Bahagia atau
sedihkah kami menerima amanah ini
Allah…
Kuatkan bahu kami
Kuatkan hati kami
Untuk terus
berjuang memaksimalkan amanah ini
Allah…
Kami disini
berjuang bukan untuk mendapat nama
Bukan untuk
mendapat pamor
Bukan untuk
mendapat pujian atas kelebihan kami
Bukan untuk
mendapat uang
Juga bukan untuk
mendapat sanjungan
Tapi, kami disini,
untuk berjuang mendapat cintaMu, Rabbi
Ridhailah kami
untuk tersenyum bejuang disini :’)
-HK.13042013-18:40
WIB
Indah Cinta
Cinta seperti kuntum mawar
Indah menari diatas kelopaknya
Menari indah dengan keindahan mahkotanya
Menasbihkan titah sang pencipta
Matamu melihat…
Tapi cinta tak butuh dilihat
Telingamu mendengar…
Tapi cinta tak butuh didengar
Cinta…
Indah, begitu indah
Ikhlas tanpa dilihat tanpa didengar
Hati yang merasa
Merasa rindu merasa kasih
Merasa sangat rindu
Merasa sangat-sangat kasih
Mendengar namanya, mengguncang hati
Menampar hati yang merindui
Merindui Engkau Ya Rasulullah
Sangat, sangat-sangat mencintaimu Ya Rasulullah
Sangat, sangat-sangat berkasih padamu Ya Rasulullah
Tabir kasih berkecamuk di hati
Mengulam benih elok sanubari
Meneteskan embun cinta di ujung mata
Tetes embun insan yang bertaqwa
Mencintaimu Ya Muhammad
Merinduimu Ya Muhammad
Kasih padamu Ya Muhammmad
Tanpa pernah melihat rupamu
Tanpa pernah mendengar suaramu
Indah cinta padamau, Ya Muhammad
#HK-21022013
"Pemuda Cahaya"
Wahai diri…
Sudahkah kau berkaca?
Sudahkah kau ingat?
Sudahkah kau tahu?
Bahwa engkau seorang pemuda!
![]() |
| pemuda cahaya^^ |
Jiwamu, jiwa pemuda
Ruhmu, ruh pemuda
Ragamu, raga pemuda
Sudahkah kau berkaca?
Akhlakul karimah diri tersemat
Otaknya berputar pemikir umat
Langkahnya tegak syiar kebenaran
Aksi nyata penerus perjuangan
Itulah pemuda cahaya..
Pemuda cahaya…
Meninggalkan gemerlap dunia
Karena ingin gemerlapnya syurga
Mendambakan cinta, bukan cinta biasa
Damba cinta, kepada sang pemilik cinta
Allah Azza wa Jalla
Itulah pemuda cahaya…
#HK-20022013
Jaya Dunia Jaya Akhirat
Tapak kaki berlari, lari, berlarian
Mengejar bersama waktu yang terus
melaju
Cepat, sangat cepat, secepat itu
Melaju menuju stasiun pemberhentian
Siapa
sangka dunia ini hanya sekejap?
Siapa
sangka akhirat itu kekal?
Siapa sangka
dunia ini penjara?
Siapa
sangka akhirat itu kenikmatan?
Siapa
sangka juga akhirat itu siksaan?
Genggam, genggamlah dunia
Jangan tercekik oleh dunia
Duniamu akan indah, sungguh indah
Indah, jika kau mengindahkan syurga
Dunia
bukan tempat hidup sebenarnya
Akhirat
lah kehidupan sebenarnya
Tetapi,
dunialah ladang syurga
Dunia
pula ladang neraka
Kayalah di dunia untuk kaya di
akhirat
Jayalah di dunia, untuk jaya di
akhirat
Bersinarlah di dunia untuk bersinar
di akhirat
Jagalah duniamu, untuk terjaga di
akhirat
Bukankah itu tujuanmu???
#HK-20022013





