Home » All posts
Nikmat Mencarimu
Lantas bagaimana dengan sebuah
pengabdian dan perjuangan
Ya semuanya berapi-api dan memesona
Lantas bagaimana dengan kemantapan
diri dan keistiqomahan
Ya semuanya terasa mendebarkan dan
terdebarkan
Sengketa alam, sengketa rekayasa dan
sengketa kehidupan
Melilit demi lilitan tersulit
Ya satu per satu kulepas hingga
terkelupas
Indahnya pencarian
Jumat, 27-05-2011 di aula perpus kupang panjaan
Tempaan yang Berakhir
Kesukaran akan menjadi tiada batas
Keletihan pun juga menjadi tiada akhir
Kegamangan seakan-akan berikut sertaan
Keinginan menjadi pelecut akan semua hal
itu
Semua akan berjalan, berproses dan
dinamis
Hanya terjun didalamnya akan menguras
itu semua
Dan keniscayaan adalah penentunya.
Kupang, 12 01 2011
Menunggu.. Menanti..
Kapan segera turun berkat
Menunggu, berharap,bersabar mencari
muda
Semuanya pun begitu
Healaian lembut bergelantung di ddepan
rasa
Bagamana keadaan? situasi? kondisi?
Terserap di keabu-abuan malam
Terserah pada akhir
Perjuangan bukan pada semangat
Bukan pada andil
Bukan pada beri
Bukan pada saya, aku
Tapi rasa ini, itu, saya, kamu, mereka
menyatu
Menyatu pada kepasrahan
Proses Hebat
Akankah kau tau masa depan seperti
apa???
Bagaimanakah kau tau kondisi akan
berbuat apa???
Tidak..tidak.. semuanya nihil...tak bernilai
Cukupkah engkau dengan itu semua???
Tidak..tidak ada proses berkejaran
disitu
Yakinkah engkau dengan makna itu
semua???
Tidak..tidak semuanya dipandang secara
holistik
Berbaur, berurai,..memintal benang
hati yang kusut!!
Pasca Unair jam 12.25 juni
She.. Hanya Ilusi
Tak terasa
kehijauannya melamunkanku
Smuanya
tersengati dengan munculnya seberkah spektrum cahaya abadi
Bergagas
membangun tatanan hidup
Si jelita pandang
terang dunia ini
Ku hanya terdiam
menikmati terjungkungnya diri
Namun semua itu
hanya ilusi
Segera
kukembalikan pada yang memilki
Kupang Panjaan,Selasa 11 01 2011-01-11
Senyum mereka, Bahagia Kita
“Air ini mengalir dari mataku. Karena senyum
dan mimpi mereka”
Ayah dan bunda
adalah dua malaikat kita. Dua orang yang dikirimkan Allah untuk menjaga buah
hati mereka. Menyayanginya dengan setulus kasih. Merawatnya dengan lembut
ikhlas. Mencintainya tanpa ingin meminta balas. Bunda yang harus berjuang
selama sembilan bulan. Bunda, yang menyapih selama dua tahun. Bunda yang
kasihnya tak pernah putus. Bunda yang lembut tutur kata. Bunda yang selalu
inginkan bahagia anaknya. Bunda yang selalu ingin yang terbaik untuk ananda.
Bunda yang selalu mengalah. Ketika ada satu roti, ia rela tak makan untuk
diberikan kepada anaknya. Beruntunglah kita memiliki bunda. Beruntunglah kita
pernah merasakan cinta dan kasihnya. Beruntung kita yang hangat di dekapnya.
Beruntunglah kita masih bisa mencium tangan lelah mereka.
Ia rela memeras
keringat dari pori-pori kulitnya. Tak pedulu panas ataupun mendung. Tak peduli
hujan ataupun topan. Ia yang selalu inginkan anaknya menjadi yang terbaik.
Ayah. Ayah mengajarkan arti kerja keras. Ia yang mengajarkan arti berani. Ayah
yang selalu menguatkan ananda ketika lemah. Ia tak pernah terlihat menangis,
karena ia harus terlihat tegar di depan anaknya. Kasih sayangnya setulus bunda.
Dekapannya sehangat dekap bunda. Ayah yang selalu memiliki cinta untuk ananda.
Beruntunglah kita memiliki ayah. Beruntuglah kita pernah merasakan cinta dan
kesihnya. Beruntuglah kita yang hangat di dekapnya. Beruntungah kita masih bisa
mencium tangan lelah mereka.
Bagaimana dengan
anak-anak kecil itu? Anak-anak yang besar tanpa ada bunda mereka. Anak-anak
yang besar tanpa ada ayah mereka. Anak-anak yang tumbuh besar tanpa ada ayah
dan bunda mereka di dekatnya. Bagaimana dengan mereka? Siapa yang akan
menyayangi mereka? Siapa yang akan mencintai mereka? Siapa yang akan membahagiakan
mereka? Siapa yang akan mengajarkan mereka tentang Allah? Tentang Rasulullah? Tentang
Surga? Tentang Neraka? tentang orang tua mereka? Siapa kalau bukan kita. “Aku dan orang-orang yang mengasuh atau
menyantuni anak yatim di Surga seperti ini”, kemudian Rasulullah saw. memberi
isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya.
(HR. Bukhori).
“Bagaimana ya
rasanya dicium bunda? Bagaimana ya rasanya dipeluk ibu? Bagaimana ya rasanya
disuapin mama? Bagaimana ya rasanya dimrahin umi? Bagaimana ya rasanya di
bonceng ayah? Bagaimana ya rasanya dibelikan mainan sama bapak? Bagaimana ya rasanya
tidur sama mama dan papa? Bagaimana ya rasanya dicintai orang tua sendiri? Aku
rindu kalian. Ayah. Bunda. Aku ingin bertemu. Kapan kita bisa bertemu? Aku iri
dengan mereka yang jalan bertiga bersama orang tuanya. Aku iri dengan mereka
yang bisa makan bertiga bersama ayah dan ibunya. Sungguh. Aku ingin merasakan
seperti itu! Tapi mana kalian???” seperti itu kah suara hati anak-anak yatim?
Mungkin. Anak-anak yatim yang ditinggal mati orang tuanya sebelum mereka baligh.
Mereka tanpa ayah. Mereka tanpa bunda. Mereka sangat ingin seperti kita. bisa
merasakan kehangatan keluarga. Bersyukurlah kita masih bisa mencium tangan
kedua orang tua kita. bagaimana jika kita di posisi mereka? Apakah kita selalu
menangis? Tapi anak-anak yatim itu tidak, mereka tersenyum, mereka bisa tertawa
seperti anak-anak lainnya. Anak-anak yatim itu tanggung jawab kita. sadarlah
kita! kita punya tanggung jawab membahagiakan mereka. Jika bukan kita, siapa
lagi? Siapa lagi? “Bersikaplah kepada
anak yatim, seperti seorang bapak yang penyayang” (HR. Bukhori)
Air ini mengalir dari
mataku. Karena senyum dan mimpi mereka. Mereka punya mimpi, sama seperti
kita. mimpi-mimpi mulia. Ayolah, kalau bukan kita, siapa yang akan membantu
mereka mewujudkan mimpinya? Sungguh, hatiku terenyuh ketika melihat senyum dan
tawa mereka. Ikhlas sekali. Senyum mereka menenangkan, ceria mereka
menyejukkan. Ketika kita bisa mencintai mereka, itu nikmat yang luar biasa.
Ketika kita bisa berbagi dengan mereka, itu karunia yang tak ada duanya. Karena senyum mereka, bahagia kita.
Masihkah kita ragu untuk berbagi dengan anak-anak Yatim? Masih kah kita ragu
untuk mencintai mereka? Masihkah ragu? Padahal Surga ganjarannya. “Barangsiapa yang menanggung anak yatim di
rumahnya yakni ia diberi makan dan minum (sama dengan makan dan minumya), maka
Allah SWT akan memasukkan ia di surga, kecuali jika ia melakukan dosa yang
tidak dapat diampuni”. (HR. Turmudzi). “Siapa yang mengasuh anak yatim dan
berbuat baik pada mereka akan dijadikan baginya tirai plindung dari api neraka”
(HR. Bukhori). MasyaAllah.
-HK.25032013,08.31am
“555”.
Santunan Aanak Yatim dan Dhuafa. Sabtu, 03 Agustus 2013.
Mari berbagi kebaikan, mari berbagi cinta.
Pilihan paket :
ü Pelajar :
Rp 25.000
ü Mahasswa : Rp 25.000
ü Umum : Rp
50.000
ü VIP :
Rp 100.000
Untuk yang mau donasi, salurkan di :
ü BRI :
000701030542505 (a.n Nina Wijani)
ü Muamalat : 0167755647 (a.n Nina Wijani)
ü BNI :
0268726050 (a.n Nina Wijani)
ü Mandiri : 1430012598395 (a.n Yanuar Fardian
Arisnatha)
Salurkan
dengan mengirim komfirmasi dengan format :
NAMA_PILIHAN PAKET_JUMLAH PAKET_NOMINAL
TRANSFER_TANGGAL DAN WAKTU TRANSFER
-yuk, Investasi
Akhirat^^
Hidayah Untukku
Siang itu sangat panas. Seperti biasanya, Ayah yang
bekerja sebagai guru agama islam di salah satu SMA ternama di kotaku pulang
dari sekolah tempat ia membanting tulang. Aku menanti Ayah. Begitu menantinya.
Tak sabar mendengar kabar apakah aku diterima atau ditolak di sekolah tempat
ayah bekerja. SMA ayah itu sekolah favoritku. Ingin sekali aku mengenyam ilmu
disana. Awan putih sangat ceria menemani surya. Seceria hatiku ketika ayah
memberitahu kabar gembira untukku. “Nduk, kamu diterima di sekolah Ayah.
Selamat ya,” ucap Ayah. Mendengarnya mataku berlinang. Bukan. Bukan karena
sedih. Bahagia hatiku mendengarnya. Akhirnya, mimpiku terkabul. Ya, aku telah
menjadi pelajar SMA favorit di kotaku.
“Memakai jilbab? Berhijab? Aku tidak mau. Sungguh.
Jangan paksa aku Bunda. Jangan paksa aku Ayah”. Ayah seorang guru agama. Orang
tuaku menyuruhku untuk berhijab. Kata Ayah, aku sudah besar, sudah baligh pula.
Wajib hukumnya bagiku untuk berjilbab. Tapi tetap, aku tidak mau. Jilbab itu
bikin gerah. Panas. Apalagi matahari jaman sekarang panasnya bukan main. “Nduk,
Ayahmu guru agama. Apa Mirza mau buat Ayah malu karena kamu tidak pakai jilbab?
Ayah menasihati muridnya untuk tutup aurat. Tapi anaknya sendiri rambutnya
masih belum ditutup,” ucap Bunda. Aku ingin berontak rasanya. Aku tidak ingin
dipaksa. ‘Tapi Za, kamu juga nggak boleh egois”, sibakku dalam hati. Sudah. Aku
ingin berpikir dulu. Ingin ku pertimbangkan dulu tentang jilbab itu. Beri aku
waktu.
Pagi yang mendung. Awan masih belum mau memutih.
Langit masih belum mau membiru. Aku tiba di sekolahku. Aku masih ingat. Saat
itu hari senin. Murid-murid memakai seragam putih-putih. Ah, senyum teman-teman
baruku masih membekas di ingatanku. Senyum bahagia dengan seragam putih mereka.
Jilbab putihku tersibak oleh angin yang tiba-tiba datang. Ya. Aku telah
berjilbab. Aku berhijab. Namun, jilbabku saat itu bukan dari hatiku. Tidak ada
rasa puas apapun ketika aku memakainya. Jelas. Karena memang aku berjilbab
karena orang tua. Bukan karena hatiku yang menginginkannya. Bukan karena Allah.
Tapi, karena Bundaku. Karena Ayahku.
Aku jalani hari-hariku sebagai pelajar pada umumnya.
Jilbabku ku kenakan pada saat sekolah saja. Di luar sekolah rambutku masih
terurai hitam. Hingga suatu ketika, terbesit keinginan untuk ikut rohis di
sekolahku. Entah. Tiba-tiba saja aku ingin ikut. Aku bertemu dengan orang-orang
luar biasa disana. Bertemu dengan perempuan-perempuan yang anggun dengan
jilbabnya. Hatiku berdesir memandang mereka. Begitu anggun. Sangat mempesona. Pernah
terbesit di otakku, apakah mereka sama sepertiku? Memakai jilbab karena di
paksa? Hanya karena orang tua kah? Entahlah. Aku belum menemukan jawabannya.
Kegiatan di rohis mulai ku ikuti. Entah kenapa hati
ini ingin sekali mengikuti kegiatan-kegiatan Rohis SMA-ku. Tak ingin rasanya
tertinggal satu saja. Tapi aku yakin, yang menggerakkan hati ini adalah Allah. “Kenapa
kita harus berjilbab?” terdengar suara mbak Dewi yang sedang mengisi kajian kemuslimahan
di Rohisku. Disinilah ku dapatkan hidayahku. Masih terngiang di dua telingaku
nasihat beliau. “Berhijab, wajib hukumnya untuk perempuan yang sudah baligh.
Kenapa kalian masih ragu dengan perintah itu? Sedangkan Allah sendiri yang
menyuruhnya melalui Al-Qur’an Qareem. Apakah kalian masih ragu? Apa yang
membuat kalian ragu lagi? Dalam QS. An-Nur: 31 pun sudah jelas perintahnya. “Dan hendaklah mereka menutupkan kain
kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya)…” takutlah
kalian pada Allah, takutlah kalian pada panasya api neraka. cukuplah Allah yang
menjadi alasan kalian untuk berjilbab.” nasihat beliau.
Hatiku getir. Aku menyesal karena telah
mempermainkan jilbabku. Aku baru menyadarinya, jilbabku adalah pelindungku dari
panasnya jilatan api di Neraka. gerah memang memakai jilbab. Panas memang.
Apalagi saat matahari sedang panas-panasnya. Tapi, aku baru sadar saat itu,
bahwa panas matahari di dunia tak ada apa-apanya dari panasnya Padang Mahsyar. Bahwa panas di dunia tidak ada apa-apanya dari
panasnya Neraka di akhirat kelak. Jilbab pun akan melindungiku dari mata-mata
nakal. Jilbab akan memberikan kesejukan untukku, ketika aku memakainya dengan
hati. Jilbab akan memuliakanku. Jilbab pun akan menjaga kehormatanku. Kini, aku
merasakan damai luar biasa dengan hijabku. Karena hijab melindungiku. Hijab,
I’m in love.
HK-20072013







