Tempaan yang Berakhir

Kesukaran akan menjadi tiada batas
Keletihan pun juga menjadi tiada akhir
Kegamangan seakan-akan berikut sertaan
Keinginan menjadi pelecut akan semua hal itu
Semua akan berjalan, berproses dan dinamis
Hanya terjun didalamnya akan menguras itu semua
Dan keniscayaan adalah penentunya.

Kupang, 12 01 2011

Menunggu.. Menanti..

Detik-detik penantian
Kapan segera turun berkat
Menunggu, berharap,bersabar mencari muda
Semuanya pun begitu
Healaian lembut bergelantung di ddepan rasa
Bagamana keadaan? situasi? kondisi?
Terserap di keabu-abuan malam
Terserah pada akhir
Perjuangan bukan pada semangat
Bukan pada andil
Bukan pada beri
Bukan pada saya, aku
Tapi rasa ini, itu, saya, kamu, mereka menyatu

Menyatu pada kepasrahan

Proses Hebat

Kau tau baik itu apa ??
Akankah kau tau masa depan seperti apa???
Bagaimanakah kau tau kondisi akan berbuat apa???
Tidak..tidak.. semuanya nihil...tak bernilai
Cukupkah engkau dengan itu semua???
Tidak..tidak ada proses berkejaran disitu
Yakinkah engkau dengan makna itu semua???
Tidak..tidak semuanya dipandang secara holistik
Berbaur, berurai,..memintal benang hati yang kusut!!

Pasca Unair jam 12.25 juni

Cahaya Itu ...

Kenekatan diri terberai oleh pragmatisme sesaat
Kompromi.. kompromi itulah menjadi apologi
Kungkung sana kungkung sini
Semua takluk
Kita takut
Aku tunduk
Akankah berlanjut...
Bergerilya dalam satuan pijakan
Tidak..tidak bukan ini itu
Aku menghirup cahaya keemasan
Ku hargai itu

14 03 2011

She.. Hanya Ilusi

Embun menelisir di bawah daun dekat
Tak terasa kehijauannya melamunkanku
Smuanya tersengati dengan munculnya seberkah spektrum cahaya abadi
Bergagas membangun tatanan hidup
Si jelita pandang terang dunia ini
Ku hanya terdiam menikmati terjungkungnya diri
Namun semua itu hanya ilusi
Segera kukembalikan pada yang memilki
Kupang Panjaan,Selasa 11 01 2011-01-11

Senyum mereka, Bahagia Kita

“Air ini mengalir dari mataku. Karena senyum dan mimpi mereka”

Ayah dan bunda adalah dua malaikat kita. Dua orang yang dikirimkan Allah untuk menjaga buah hati mereka. Menyayanginya dengan setulus kasih. Merawatnya dengan lembut ikhlas. Mencintainya tanpa ingin meminta balas. Bunda yang harus berjuang selama sembilan bulan. Bunda, yang menyapih selama dua tahun. Bunda yang kasihnya tak pernah putus. Bunda yang lembut tutur kata. Bunda yang selalu inginkan bahagia anaknya. Bunda yang selalu ingin yang terbaik untuk ananda. Bunda yang selalu mengalah. Ketika ada satu roti, ia rela tak makan untuk diberikan kepada anaknya. Beruntunglah kita memiliki bunda. Beruntunglah kita pernah merasakan cinta dan kasihnya. Beruntung kita yang hangat di dekapnya. Beruntunglah kita masih bisa mencium tangan lelah mereka.
Ia rela memeras keringat dari pori-pori kulitnya. Tak pedulu panas ataupun mendung. Tak peduli hujan ataupun topan. Ia yang selalu inginkan anaknya menjadi yang terbaik. Ayah. Ayah mengajarkan arti kerja keras. Ia yang mengajarkan arti berani. Ayah yang selalu menguatkan ananda ketika lemah. Ia tak pernah terlihat menangis, karena ia harus terlihat tegar di depan anaknya. Kasih sayangnya setulus bunda. Dekapannya sehangat dekap bunda. Ayah yang selalu memiliki cinta untuk ananda. Beruntunglah kita memiliki ayah. Beruntuglah kita pernah merasakan cinta dan kesihnya. Beruntuglah kita yang hangat di dekapnya. Beruntungah kita masih bisa mencium tangan lelah mereka.
Bagaimana dengan anak-anak kecil itu? Anak-anak yang besar tanpa ada bunda mereka. Anak-anak yang besar tanpa ada ayah mereka. Anak-anak yang tumbuh besar tanpa ada ayah dan bunda mereka di dekatnya. Bagaimana dengan mereka? Siapa yang akan menyayangi mereka? Siapa yang akan mencintai mereka? Siapa yang akan membahagiakan mereka? Siapa yang akan mengajarkan mereka tentang Allah? Tentang Rasulullah? Tentang Surga? Tentang Neraka? tentang orang tua mereka? Siapa kalau bukan kita. “Aku dan orang-orang yang mengasuh atau menyantuni anak yatim di Surga seperti ini”, kemudian Rasulullah saw. memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya. (HR. Bukhori).
“Bagaimana ya rasanya dicium bunda? Bagaimana ya rasanya dipeluk ibu? Bagaimana ya rasanya disuapin mama? Bagaimana ya rasanya dimrahin umi? Bagaimana ya rasanya di bonceng ayah? Bagaimana ya rasanya dibelikan mainan sama bapak? Bagaimana ya rasanya tidur sama mama dan papa? Bagaimana ya rasanya dicintai orang tua sendiri? Aku rindu kalian. Ayah. Bunda. Aku ingin bertemu. Kapan kita bisa bertemu? Aku iri dengan mereka yang jalan bertiga bersama orang tuanya. Aku iri dengan mereka yang bisa makan bertiga bersama ayah dan ibunya. Sungguh. Aku ingin merasakan seperti itu! Tapi mana kalian???” seperti itu kah suara hati anak-anak yatim? Mungkin. Anak-anak yatim yang ditinggal mati orang tuanya sebelum mereka baligh. Mereka tanpa ayah. Mereka tanpa bunda. Mereka sangat ingin seperti kita. bisa merasakan kehangatan keluarga. Bersyukurlah kita masih bisa mencium tangan kedua orang tua kita. bagaimana jika kita di posisi mereka? Apakah kita selalu menangis? Tapi anak-anak yatim itu tidak, mereka tersenyum, mereka bisa tertawa seperti anak-anak lainnya. Anak-anak yatim itu tanggung jawab kita. sadarlah kita! kita punya tanggung jawab membahagiakan mereka. Jika bukan kita, siapa lagi? Siapa lagi? “Bersikaplah kepada anak yatim, seperti seorang bapak yang penyayang” (HR. Bukhori)
Air ini mengalir dari mataku. Karena senyum dan mimpi mereka. Mereka punya mimpi, sama seperti kita. mimpi-mimpi mulia. Ayolah, kalau bukan kita, siapa yang akan membantu mereka mewujudkan mimpinya? Sungguh, hatiku terenyuh ketika melihat senyum dan tawa mereka. Ikhlas sekali. Senyum mereka menenangkan, ceria mereka menyejukkan. Ketika kita bisa mencintai mereka, itu nikmat yang luar biasa. Ketika kita bisa berbagi dengan mereka, itu karunia yang tak ada duanya. Karena senyum mereka, bahagia kita. Masihkah kita ragu untuk berbagi dengan anak-anak Yatim? Masih kah kita ragu untuk mencintai mereka? Masihkah ragu? Padahal Surga ganjarannya. “Barangsiapa yang menanggung anak yatim di rumahnya yakni ia diberi makan dan minum (sama dengan makan dan minumya), maka Allah SWT akan memasukkan ia di surga, kecuali jika ia melakukan dosa yang tidak dapat diampuni”. (HR. Turmudzi). “Siapa yang mengasuh anak yatim dan berbuat baik pada mereka akan dijadikan baginya tirai plindung dari api neraka” (HR. Bukhori). MasyaAllah.
-HK.25032013,08.31am

  “555”. Santunan Aanak Yatim dan Dhuafa. Sabtu, 03 Agustus 2013.
  Mari berbagi kebaikan, mari berbagi cinta. Pilihan paket :
ü       Pelajar  : Rp 25.000
ü       Mahasswa : Rp 25.000
ü       Umum  : Rp 50.000
ü       VIP         : Rp 100.000

  Untuk yang mau donasi, salurkan di :
ü        BRI         : 000701030542505 (a.n Nina Wijani)
ü        Muamalat : 0167755647 (a.n Nina Wijani)
ü        BNI         : 0268726050 (a.n Nina Wijani)
ü        Mandiri : 1430012598395 (a.n Yanuar Fardian Arisnatha)
Salurkan dengan mengirim komfirmasi dengan format :
NAMA_PILIHAN PAKET_JUMLAH PAKET_NOMINAL TRANSFER_TANGGAL DAN WAKTU TRANSFER

-yuk, Investasi Akhirat^^

Hidayah Untukku

Siang itu sangat panas. Seperti biasanya, Ayah yang bekerja sebagai guru agama islam di salah satu SMA ternama di kotaku pulang dari sekolah tempat ia membanting tulang. Aku menanti Ayah. Begitu menantinya. Tak sabar mendengar kabar apakah aku diterima atau ditolak di sekolah tempat ayah bekerja. SMA ayah itu sekolah favoritku. Ingin sekali aku mengenyam ilmu disana. Awan putih sangat ceria menemani surya. Seceria hatiku ketika ayah memberitahu kabar gembira untukku. “Nduk, kamu diterima di sekolah Ayah. Selamat ya,” ucap Ayah. Mendengarnya mataku berlinang. Bukan. Bukan karena sedih. Bahagia hatiku mendengarnya. Akhirnya, mimpiku terkabul. Ya, aku telah menjadi pelajar SMA favorit di kotaku.
“Memakai jilbab? Berhijab? Aku tidak mau. Sungguh. Jangan paksa aku Bunda. Jangan paksa aku Ayah”. Ayah seorang guru agama. Orang tuaku menyuruhku untuk berhijab. Kata Ayah, aku sudah besar, sudah baligh pula. Wajib hukumnya bagiku untuk berjilbab. Tapi tetap, aku tidak mau. Jilbab itu bikin gerah. Panas. Apalagi matahari jaman sekarang panasnya bukan main. “Nduk, Ayahmu guru agama. Apa Mirza mau buat Ayah malu karena kamu tidak pakai jilbab? Ayah menasihati muridnya untuk tutup aurat. Tapi anaknya sendiri rambutnya masih belum ditutup,” ucap Bunda. Aku ingin berontak rasanya. Aku tidak ingin dipaksa. ‘Tapi Za, kamu juga nggak boleh egois”, sibakku dalam hati. Sudah. Aku ingin berpikir dulu. Ingin ku pertimbangkan dulu tentang jilbab itu. Beri aku waktu.
Pagi yang mendung. Awan masih belum mau memutih. Langit masih belum mau membiru. Aku tiba di sekolahku. Aku masih ingat. Saat itu hari senin. Murid-murid memakai seragam putih-putih. Ah, senyum teman-teman baruku masih membekas di ingatanku. Senyum bahagia dengan seragam putih mereka. Jilbab putihku tersibak oleh angin yang tiba-tiba datang. Ya. Aku telah berjilbab. Aku berhijab. Namun, jilbabku saat itu bukan dari hatiku. Tidak ada rasa puas apapun ketika aku memakainya. Jelas. Karena memang aku berjilbab karena orang tua. Bukan karena hatiku yang menginginkannya. Bukan karena Allah. Tapi, karena Bundaku. Karena Ayahku.
Aku jalani hari-hariku sebagai pelajar pada umumnya. Jilbabku ku kenakan pada saat sekolah saja. Di luar sekolah rambutku masih terurai hitam. Hingga suatu ketika, terbesit keinginan untuk ikut rohis di sekolahku. Entah. Tiba-tiba saja aku ingin ikut. Aku bertemu dengan orang-orang luar biasa disana. Bertemu dengan perempuan-perempuan yang anggun dengan jilbabnya. Hatiku berdesir memandang mereka. Begitu anggun. Sangat mempesona. Pernah terbesit di otakku, apakah mereka sama sepertiku? Memakai jilbab karena di paksa? Hanya karena orang tua kah? Entahlah. Aku belum menemukan jawabannya.
Kegiatan di rohis mulai ku ikuti. Entah kenapa hati ini ingin sekali mengikuti kegiatan-kegiatan Rohis SMA-ku. Tak ingin rasanya tertinggal satu saja. Tapi aku yakin, yang menggerakkan hati ini adalah Allah. “Kenapa kita harus berjilbab?” terdengar suara mbak Dewi yang sedang mengisi kajian kemuslimahan di Rohisku. Disinilah ku dapatkan hidayahku. Masih terngiang di dua telingaku nasihat beliau. “Berhijab, wajib hukumnya untuk perempuan yang sudah baligh. Kenapa kalian masih ragu dengan perintah itu? Sedangkan Allah sendiri yang menyuruhnya melalui Al-Qur’an Qareem. Apakah kalian masih ragu? Apa yang membuat kalian ragu lagi? Dalam QS. An-Nur: 31 pun sudah jelas perintahnya. “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya)…” takutlah kalian pada Allah, takutlah kalian pada panasya api neraka. cukuplah Allah yang menjadi alasan kalian untuk berjilbab.” nasihat beliau.

Hatiku getir. Aku menyesal karena telah mempermainkan jilbabku. Aku baru menyadarinya, jilbabku adalah pelindungku dari panasnya jilatan api di Neraka. gerah memang memakai jilbab. Panas memang. Apalagi saat matahari sedang panas-panasnya. Tapi, aku baru sadar saat itu, bahwa panas matahari di dunia tak ada apa-apanya dari panasnya Padang Mahsyar.  Bahwa panas di dunia tidak ada apa-apanya dari panasnya Neraka di akhirat kelak. Jilbab pun akan melindungiku dari mata-mata nakal. Jilbab akan memberikan kesejukan untukku, ketika aku memakainya dengan hati. Jilbab akan memuliakanku. Jilbab pun akan menjaga kehormatanku. Kini, aku merasakan damai luar biasa dengan hijabku. Karena hijab melindungiku. Hijab, I’m in love.

HK-20072013

“Dengarlah Akhi... Dengarlah Ukhti…”



Kehidupan ada karena Tuhan itu ada. Bumi ada karena langit ada. Bayi ada karena ibu ada. Hawa ada karena Adam ada. Bukankah seperti itu???... (coba dipikir-pikir lagi). Terakhir. Adam dan Hawa ada karena ada cinta bukan?
Desir lembut menelusur memasuki lorong hati. Singgah di ruang hati. Meletuskan getar yang asing untuk diterjemahkan. Membuat hidup seseorang kadang seperti pelangi, terkadang juga menggores lukisan senyum yang tak berlatar belakang, terkadang pula mampu menyayat hati seperti sayatan pedang tajam, juga seringkali mengalirkan air bening di pelupuk mata yang juga tak berlatar belakang.  Benarkah seperti ini disebut cinta?
Cinta. Ia hadir begitu saja tanpa diminta, tidak melihat usia berapa, anak-anak, remaja, dewasa, bahkan tua. Ia bisa hadir kapanpun dan kepada siapapun. Ia hadir dengan ekspresi tak bersalah. Tak bersalah? Ya, karena sejatinya ia suci, murni dan lembut. Ketika cinta mengetuk pintu hati seseorang yang belum diikat benang suci, belum melafadzkan ijab qabul, maka cinta adalah cobaan yang patut disyukuri kehadirannya. Mensyukuri dengan tidak menjadinkannya liar dan tak terkendali. Karena Islam telah mengaturnya lebih indah daripada cinta itu sendiri. Seperti itu kah??? (aku mencoba mencari jawaban di dua mata kalian J).
Cinta datang sendiri tanpa diminta. Tapi pasti ada penghantarnya bukan? Tatapan mungkin saja, komunikasi juga bisa, hanya suara pun mungkin iya. Cerita? Cerita berpengaruh juga untuk menariknya datang. Hati manusia itu sederhana. Ya. Sederhana. Sederhana untuk mencinta. Sederhana untuk merasakan kekakugaman. Sederhana untuk kasih dan sayang. Hati manusia juga rawan dengan kagum dan cinta. Laki-laki pun perempuan. Mereka punya hati yang sama-sama rawan. Saat yang disebut ‘fitrah’ itu datang di masa yang tidak tepat, mereka dipaksa untuk menjaga hatinya. Tapi setiap hati memiliki pilihan yang berbeda. Memilih mengindahkannya menjadi bunga-bunga Surga atau memilih mengotorinya dengan nanah Neraka. bagaimana dengan pilihanmu??...
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imron : 14)

Dengarkan ini akhi, yang kuhormati…
“Aku hanya perempuan di jaman sekarang yang memiliki hati yang mudah rapuh. Rapuh. Rapuh karena mungkin engkau, akhi.
Aku bukan seseorang yang selalu kuat, juga bukan wanita yang selalu bisa menahan nafsu. Kala diri ini diuji, aku sering tewas. Tewas karena godaan syaitan dan nafsu sendiri.
Perempuan sepertiku gampang sekali ‘ge.er’. Ge’er jika engkau mengirim sms yang diluar urusan dakwah kita. Ge’er saat kau mengetik sms dengan bahasa yang berlebihan. Ge’er saat kau telepon menanyakan sesuatu tentangku di luar urusan dakwah kita. Ge’er saat kau memberikan perhatianmu yang seharusnya aku tak menerimanya darimu. Ge’er saat kau sering berkomentar berlebihan di dinding facebook-ku. Ge’er saat kau memakai sms atau komen dengan emoticon-emoticon aneh yang seharusnya itu bukan untukku. Ge’er saat kau rajin menemuiku dengan alasan-alasanmu yang itu hanya sebuah alasan. Ge’er saat pandanganmu tak terjaga untukku. Ge’er saat tingkahmu tak biasanya kepadaku. Akhi, apa menurutmu aku layak meminta pertanggungjawabanmu setelah suka itu mengusikku?
Mungkin engkau menganggap semuanya itu biasa. Tapi bagaimana denganku? Apa aku sepertimu? Apakah kau bisa memastikan? Apa kau juga mampu membaca hatiku, akhi? Akhi… Aku hanya perempuan di jaman sekarang yang memiliki hati yang mudah rapuh. Rapuh. Rapuh karena mungkin engkau.
Bukankah Allah adalah Dzat Yang Maha Membolak-balikan hati?  --Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Ta’atik-- “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku diatas ketaatan kepada-Mu.” (HR. Muslim) 
Aku merasa tantangan berat ketika memilih dakwah sebagai jalanku. Bukan hanya karena berat mengindahkan jalan juang ini saja. Juga bukan hanya karena berat mengabdi untuk umat. Tapi juga berat menundukkan hati dengan kalian dalam jalan juang ini. Saat aku harus berbicara dengan kalian, aku hati-hati sekali merangkai kata agar tak menyakiti penjagaan kalian. Saat berbicara dengan kalian, aku hati-hati sekali menundukkan pandangan agar tak merusak pikiran dan hatimu. Apa kau juga demikian?
Telah ku coba menjaga diri sebaik-baiknya. Menjauhkan diri dari tabarruj, perfume, make up, perhiasan dan teman-temannya. Untuk apa? Aku hanya ingin terhindar dari fitnah dunia. Aku hanya ingin tidak melukai hatimu dengan penampilanku.
Maaf jika mungkin aku sering sekali tak meresponmu. Bukan karena sombong. Tapi ini bentuk ketegasan dan penjagaan diriku. Berharap engkau menghormatiku sebagai wanita. Berharap engkau menghormatiku sebagai muslimah. Karena aku tak mau merusak hati. Aku juga tak mau merusak diri. Yang ku mau, aku bisa mempertahankan kesucian hati dan diriku untuk seseorang yang aku tidak tau itu siapa. Yang aku tidak tau dia -yang aku tidak tau siapa- kapan datang menjemputku. Mohon, hargailah aku sebagai hawa.
Semoga hati kita bisa tetap suci dengan Allah yang selalu di hati.”
Dengarkan ini ukhti, yang kuhormati…
“Aku hanya laki-laki di jaman sekarang yang tidak ingin melukaimu. Yang tidak ingin melukai hati dan penjagaan dirimu.
Aku bukan seseorang yang selalu kuat, juga bukan laki-laki yang selalu bisa menahan nafsu. Kala diri ini diuji, aku sering tewas. Tewas karena godaan syaitan dan nafsu sendiri.
Aku berusaha menhgormatimu sebagai muslimah. Aku berusaha tegas padamu bukan karena aku marah-marah. Juga bukan berarti aku kasar. Bukan pula aku tak suka denganmu. Tapi aku hanya berusaha menjaga hatimu juga hatiku.
Ukhti, tolong berhenti bermanja pada kami. Kami hanya laki-laki biasa yang ingin teguh di jalan Illahi. Setiap kata atau nada manja yang keluar dari mulutmu akan sangat membebani hati kami. Kami hanya laki-laki biasa yang bisa rapuh kapan saja.
Aku hanya laki-laki biasa jaman sekarang yang mudah terpikat. Jangan hajar emosi dan jiwaku dengan perhatianmu yang murah. Jiwa ini terasa gerah dengan pujian yang membuncah. Jangan pula kau berlebih kata dalam sms ataupun komen di dinding facebook-ku, karena itu bisa membuatku salah mengartikan.
Kala aku tertunduk ketika berbicara denganmu, bukan berarti aku sambong atau tidak menghargaimu. Tapi semua itu ku lakukan untuk menjaga hatiku juga hatimu. Aku tak bisa menjamin pandanganku terhadapmu tidak membawa efek apa-apa. Aku hanya takut zina mata dan turun ke hati.
Maaf jika mungkin aku sering sekali tak meresponmu. Bukan karena sombong. Tapi ini bentuk ketegasan dan penjagaan diriku. Berharap engkau menghormatiku sebagai lelaki. Berharap engkau menghormatiku sebagai muslim. Karena aku tak mau merusak hati. Aku juga tak mau merusak diri. Yang ku mau, aku bisa mempertahankan kesucian hati dan diriku untuk seseorang yang aku tidak tau itu siapa. Yang aku tidak tau dia -yang aku tidak tau itu siapa- kapan akan ku jemput untuk menemaniku sampai matiku. Mohon, hargailah aku sebagai adam.
Semoga hati kita bisa tetap suci dengan Allah yang selalu di hati.”
Jalan dakwah ini terlalu eman jika kita malah terjebak cinta atau kagum yang semu di dalamnya. Hati yang bersih, engkau terlalu berharga untuk dijatuhkan. Tetaplah pada penjagaanmu. Tetaplah pada jual mahalmu. Karena kualitas diri mempengaruhi seberapa besar kualitas kita di hadapan Allah. Jika dipikir, orang-orang yang terjaga itu sangat mulia. Jika di pandang, mereka sangat sulit untuk direndahkan, dan sangat sangat WOW LUAR BIASA-nya (funny ending.. hehe).
Jagalah diri. Jagalah hati. Jagalah kesuciannya. Ya. Menjaganya. Untuk seseorang yang kita tidak tau itu siapa. Yang kita juga tidak tau kapan datangnya. Menjaganya. Demi cinta-Nya, karena cinta-Nya, untuk surga-Nya.

Jagalah baik-baik dirimu jika ingin seseorang yang kita tidak tau itu siapa juga menjaga baik-baik dirinya untukmu. “perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”. (QS. An-Nur :31)


Bersama bulan dan gemintang, Diselesaikan pada 03 Mei 2013, pukul 01.30 am.
HK-03052013-01.30

"Serdadu Jung Disini"


Teringat…
Di hari kemarin ada ketua yang semangat mengajak
Teringat…
Ada wajah-wajah kita yang terpanggil menggandeng amanah ini
Teringat pula…
Tempat yang menjadi saksi pertemuan kita..
Ya, saksi pertemuan kita memeras otak untuk memberikan yang terbaik untuk amanah ini
sangat ingat…
Tawa kita, kesal kita, malu-malu kita, geregat kita, kebingungan kita, lelucon kita, di tempat itu
Dan yang paling ku ingat..
Semangat dan senyum ikhlas kalian J

Perjuangan nyata sudah dimulai kawan!
Ya di sini! Di tempat ini!
Sangat yakin, kita sudah kerja keras
Sangat yakin, kita sudah berusaha memberi yang terbaik
TERSENYUMLAH!! Ya, tersenyumlah
Meski kesal menggoda amanahmu, meski sakit menggoda amanahmu
Meski lelah menggoda amanahmu, meski amarah menggoda amanahmu
Tersenyumlah!! Dan tersenyumlah untuk perjuangan kita.. untuk Allah
Sudahkah ada Allah di setiap sudut juangmu kawan??? Sudahkah ada???
Tersenyumlah!! Karena sebenarnya kita mencari syurga lewat rute juang ini
Kau tau? Bahwa senyum kalian yang membuat kita semangat menyelesaikan juang ini.

Aku dituntut untuk mengerti kalian!
Aku dituntut untuk memahami karakter kalian!
Aku dituntut untuk bisa menerima apa yang ada pada kalian!
Kalian yang berbeda. Kalian yang tak sama!
Siapa yang menuntutku???
Diriku sendiri!!!
Untuk apa? Aku ingin kalian memikirkannya
Apakah kau juga begitu kawan?

Allah…
Engkau yang mengetahui hati-hati kami
Ikhlas atau tidaknya kami
Bahagia atau sedihkah kami menerima amanah ini
Allah…
Kuatkan bahu kami
Kuatkan hati kami
Untuk terus berjuang memaksimalkan amanah ini
Allah…
Kami disini berjuang bukan untuk mendapat nama
Bukan untuk mendapat pamor
Bukan untuk mendapat pujian atas kelebihan kami
Bukan untuk mendapat uang
Juga bukan untuk mendapat sanjungan
Tapi, kami disini, untuk berjuang mendapat cintaMu, Rabbi
Ridhailah kami untuk tersenyum bejuang disini :’)

-HK.13042013-18:40 WIB

My Friends