Mengapa Kau Masih Ragu, Saudariku???

  1. orang yang hendak berhijrah untuk mengenakan pakaian muslimahnya.. 
  2.  dan kemudian dia ragu karena berpikir "aku belum siap.. hatiku belum kujilbabi kelakuanku masih seperti anak kecil.. dsb..." sadarilah saudariku.. itu semua setan..
  3. setan yg mempengaruhi pikiranmu dengan alasan2 yg telihat putih.. karena dia ingin menggagalkan hijabmu..
  4. karena setan tak mau kamu menjadi muslimah yg patuh pada aturan Tuhanmu..
  5. sadarila saudariku... bahwa hati tak akan pernah bisa dijilbabi.. manusia itu tempatnya salah dan dosa.. ketika menunggu kesempurnaan akhlak.. maka engkau akan menunggunya sampai kapan?? padahal engkau tak tahu sedikitpun tentang ajalmu..
  6. sadarilah saudariku.. dengan hijabmu, engkau tak lagi menyeret ayahmu atau suamimu ke neraka.. 
  7. sadarilah saudariku.. bahwa pakaian terbaik untukmu adalah yang sudah diatur dalam kitab mulia Al Qur'an..
  8. sadarilah saudariku setan bisa menghalangimu berbuat kebaikan dari pintu mana saja yang bisa ia buka.. 
  9. dan sadarilah saudariku.. Allah Ridha engkau berhijab.. karena itu bentuk kasihNya padamu tuk melindungimu..
  10. lantas mengapa kau masih ragu mengambil pakaian surgamu?? 


#HK

Penantian Sejak Pinanganmu



Aku ingin berbicara tentangku. Tentangku beberapa bulan yang lalu. Tentang penantian.  Sebelum dua bulan yang lalu, aku memiliki masa-masa penantian. Seperti menunggu tanda tanya yang akan terjawab, seperti menunggu arti mendung di atap langit, seperti menunggu embun di ujung daun pada 06.00 WIB, dan seperti menunggu “Ya atau Tidak”, “Salah atau Benar”. Itulah aku pada masa-masa itu.

Aku seperti lebah yang menunggu mekarnya mawar. Gelisah, takut, resah, dan apapun itu yang membuat hatiku tak tenang. Aku sudah dipinang oleh seorang pemuda yang menurutku pria idaman itu ada padanya. Kenyataan yang tak pernah diduga olehku dan keluargaku tentang sebuah kehendak Allah pada bulan oktober 2013, seorang pemuda yang berani mengutarakan perasaan sukanya untukku langsung kepada papa. Aku sempat terkejut terhadap penuturan darinya, “Bapak, saya ingin meminang anak bapak” Tuturnya. Setelah berproses akhirnya dari pihak keluargaku sudah ada tanggal pernikahan. Saat itulah masa panantianku dimulai.

Hati yang mudah lemah ini tak henti-hentinya diuji oleh Allah. Tentang kebenaran jodoh yang terbaik, tentang calon suamiku yang seperti yang ku bayangkan atau tidak, tentang hari pernikahan yang masih ghaib untuk ku sentuh oleh nalarku, tentang keraguan yang selalu datang kala pikiranku tak bekerja maksimal. “Ya Allah.. aku serahkan pada-Mu Rabb.. aku tau Engkau lebih profesional dari sutradara film.. Engkau lebih handal dari penulis skenario drama.. Engkau yang selalu menyisipkan hikmah di setiap kejadian umatMu.. Ku serahkan pada-Mu” hanya do’a dan dzikir yang bisa mengalahkan keresahan itu. Aku tau, aku hanya perempuan biasa yang mudah lemah saat resah dan takut itu hinggap. Tetapi aku juga perempuan yang kuat untuk menghadirkan kekuatan agar senantiasa mengingat Allah dan mengembalikan semuanya kepada Allah.

Tiga bulan masa penantian ku lalui sebagaimana Allah menuliskannya untukku. Aku kuat dan bisa bertahan untuk menasbihkan butiran cintaku padaNya, meskipun jatuh itu ada kala aku bangkit dan berlari. Tapi menurutku itu manusiawi. Dan it’s OK.. tidak ada yang salah. Tiga bulan masa penantian, ketika papa menangis memeluk suamiku, ketika mama terharu menciumku, ketika mertuaku mencium pipiku, ketika aku mencium lembut tangan suamiku, tangan yang darinya aku akan meraih Jannah bersamanya.. ketika itulah penantianku usai dengan skenario Allah yang tak pernah kuduga, menikah usia 19 tahun. Dan skarang aku bersyukur akan penantian itu, bersyukur akan cinta.. bersyukur akan pertalian agung 24 januari 2014, bersyukur pangeran yang ku nanti datang dengan sempurna…


Semoga, setiap kebersamaan kami dalam perjalanan ini adalah bernilai pahala^^.. inshaallah




Menyenangkan bersamamu cinta, dan aku sangat bersyukur sekarang.. karena Allah memberikanmu untukku, tuk menjadi teman hidup sampai surga ^^

#12 April 2014.1314

Jilbab Putih Nayla dan Muslimah Syurga

“Nayla!”
Suara itu bergeming memanggilnya dari kejauhan. Nayla menoleh mencari sumber suara yang ia kenal itu. Tiba-tiba ia melotot melihat sahabat lamanya yang tiba-tiba muncul di depan kedua mata sipitnya.
“Sinta. Benar ini Sinta?” sambil mengucek dua matanya tak percaya.
“Iya Nayla sayang, ini Sinta yang sering pencet-pencet hidungmu dulu, hehe,” sambil memencet hidung Nayla. Saat mereka masih bersama di SMA dulu, Sinta sering sekali memencet hidungnya karena gemas dengan hidung Nayla yang pesek seakan tak bertulang.
Sinta adalah sahabat dekat Nayla. Mereka berteman sejak kelas satu SMA. Begitu dekatnya sampai teman-temannya menyebut mereka dengan sebutan ‘Dua Sejoli’. Nayla masih tak percaya sahabatnya bisa berada di kampusnya, UB. Padahal Sinta kuliah di ITB.
Tidak terasa, rupanya dua sejoli ini sudah tiga tahun tidak bertemu. Nayla terheran dengan sahabatnya. Sinta sudah berubah lebih anggun dari yang terakhir ia lihat. Sinta sekarang berjilbab. Jilbabnya menjuntai panjang menutupi dadanya. Menggetarkan hati Nayla kala memandangnya.
Empat langkah itu beriringan menyusuri jalan dengan suara candaan. Mengeluarkan kerinduan dua hati yang lama tak bertemu pandang. Merekatkan gandeng tangan. Angin menyentuh lembut rambut hitam Nayla dan menyibakkan ujung kerudung biru panjang Sinta. Surya menuai keemasannya, langit memerah karena sinarnya. Burung-burung melayangkan sepasang sayap terbang mengangkasa pulang dan bumi pun merindukan terang sinar bulan.
***
Sore itu juga mereka sampai di kontrakan Nayla. Dengan dua kantong plastik yang dibawanya, Nayla membuka pintu coklat yang ada di dedapannya.
 “Silahkan masuk tuan putri,” candanya terhadap Sinta.
“Terimakasih Pengawal, hehe,” balasnya dengan canda juga.
Nayla mengantar Sinta menuju kamarnya. Mempersilahkan sahabatnya untuk beristirahat. Nayla segera menuju dapur yang berada di pojok kanan rumah untuk menyiapkan wejangan. Sudah tiga tahun lebih Nayla menghuni kontrakan itu. Ia sangat hapal setiap lekuknya, bahkan mungkin juga setiap kejadian yang pernah tertoreh disana. Namun, ruang yang paling Nayla suka setelah kamarnya yaitu dapur.
Sinta menatap setiap sudut ruang kamar Nayla. Rapi, bersih, wangi, dan teratur. Itulah komentarnya dalam hati. Ia tersenyum mengingat sahabatnya. Sahabat yang dicintainya. Tiba-tiba pandangan Sinta tertuju pada foto persegi diatas meja. Foto Nayla.
“Nayla cantik,” pujinya dalam hati. “Dia baik, sangat baik. Hatiya seperti menolak melakukan sesuatu yang buruk. Dia juga pandai dan mandiri. Kuliah saja gratis. Tapi sayang, dia belum mengambil pakaian taqwa itu. Tapi sayang, dia belum memakai jilbab itu.”
Tiba-tiba rasa bersalah dan menyesal menghampiri hati dan otak Sinta. Ia sangat merasa bersalah karena ia belum bisa menyaksikan sahabatnya cantik dengan balutan baju yang menutupi semua perhiasannya. Ia merasa menyesal karena ia belum berhasil mengajak sahabatnya seperti dirinya. Terjaga dengan pakaian taqwanya dan indah dengan kerudung panjangnya.
Embun matanya menetes dari ujung dua mata. Ia ingat dengan sebuah ayat-ayat cinta dalam Al-Qur’an yang Allah jelas menyuruh kaum perempuan untuk menutup perhiasan mereka. Ia juga sangat ingat sebuah hadis tentang perjalanan Rasulullah ketika malakukan Isra’ Mi’raj. Rasulullah sampai menangis kala melihat kaum perempuan yang disiksa di Neraka. Salah satunya beliau melihat wanita yang digantung rambutnya dan otak kepalanya mendidih. Wanita yang digantung dengan rambutnya dan otak kepalanya mendidih adalah wanita yang tidak mau menutupi rambutnya dari pandangan laki-laki  yang bukan mahram. Sinta beristigfar berkali-kali dalam hatinya.
Nayla memanggil Sinta dari pintu. Ia heran melihat Sinta menangis. “Loh, Sin kenapa? Kamu menangis?”
“Eh, enggak kok, aku nggak nangis. Kucing mungkin yang nangis,” selanya dengan gurau. Sinta terkaget dan  berusaha menutupi kesedihannya. “Tidak sekarang waktu membahasnya,” bicaranya dalam hati.
Suara muadzin merdu menyapa semesta kota. Adzan menggema indah. Memanggil-manggil manusia untuk segera ruku’ dan sujud kepada-Nya. Memanggil-manggil manusia menghentikan semua aktifitasnya untuk segera ruku’ dan sujud di atas sajadah cinta.
Diatas dua sajadah cinta, Nayla dan Sinta bersimpuh memuji Tuhannya. “Nayla, kamu sangat cantik dengan mukenah ini. Sangat cantik. Aku merindukanmu seperti ini. Cantik dengan pakaian taqwa,” puji Sinta dalam hati.
***
Nayla mengingatnya. Mengingat kejadian Lebaran tahun lalu di rumahnya, Banyuwangi, Jawa Timur.
“Nayla, kamu tambah cantik dan anggun kalau pakai jilbab,” komentar Emaknya.
“Iya kah Mak?” Komentar Emak membuatnya merasa tersanjung. Nayla segera berjalan memasuki kamarnya. Segera ia berdiri di depan cermin di samping pintu kamar. Ia tersenyum melihat dirinya sendiri. Nayla menelusuri setiap sisi bayangan dirinya dalam cermin itu. Ia mulai memutar otaknya memikirkan sesuatu. “Benar, aku memang cantik dengan jilbab putih ini.”
“Tapi aku belum siap seperti ini. Aku belum siap. Ya, aku belum siap dengan pakaian suci ini. Aku takut jika nanti aku menodai jilbab putih ini. Aku takut jika nanti aku mengotori pakaian suci ini. Aku belum siap. Aku takut jika aku tidak bisa menjaganya, menjaga kemuliaan itu,” erangnya dalam hati.
“Lalu kapan aku siapnya?” tiba-tiba pertanyaan itu muncul dalam hatinya.
“Nayla, apakah kamu mau meninggal dalam keadaan hina hanya karena rambut hitammu masih melambai bebas dilihat laki-laki yang bukan muhrimmu? Apa kamu tega ayahmu disiksa di Neraka karena putri kesayangannya tidak memakai jilbab? Apa kamu mau suamimu kelak mendapatkan seorang Nayla yang cantik tapi cantik tubuhnya bebas dilihat semua laki-laki? Apa kamu mau Nayla?” pertanyaan-pertanyaan itu mulai menghujani hatinya. Entah pertanyaan itu dari mana datangnya tapi tanya itu sangat mengobrak-abrik otak dan hatinya.
“Tapi aku belum siap! Aku belum siap!! Aku belum siap, Allah aku belum siap!!!”  tegasnya dalam hati. Setetes air bening berlayar di pipi halusnya. Menjadi saksi bisu pergulatan tanya yang menghujam hatinya. Kebingungan yang mendalam. Keinginan yang sangat, namun ia tetap keukeh bahwa ia belum siap. Nayla belum siap.
***
“Nayla!!” tegur Ara, teman satu kontrakannya. Nayla sontak kaget dari lamunannya akan masa lalu. “Jangan bengong Nay, mending bantu aku selesaikan tugas laporan biologi, haha. Mikiran apa sih? Kok smpai segitunya,” tanya Ara penasaran.
Dengan senyumnya yang khas, Nayla menjawab pertanyaan Ara. “Enggak ada apa-apa kok Ra, hehe.” Dua kakinya berlalu meninggalkan Ara sendiri di ruang tamu. “Loh kok jadi aku yang ditinggal? Padahal kan kesini sengaja mau nemenin dia,” kesal Ara.
Dua hari sudah Sinta pamit pulang untuk kembali ke Bandung. Ia masih mengingat kehadiran Sinta. Sinta yang lembut dan baik. Sinta yang anggun dengan pakaian taqwanya. Sinta yang cantik dengan jilbab anggunya.
Hening. Kamar Nayla disapu keheningan. Diatas kursi, Nayla membuka diary dan menuliskan sesuatu disana. “Aku ingin seperti Sinta. Aku ingin seperti muslimah yang lain. Cantik dan terjaga. Tapi aku? Aku belum siap. Aku takut menodai kemuliaan itu.”
***
Mahasiswa menghambur diri keluar dari ruang kelas tidak terkecuali Nayla.  Surya masih tepat diatas kepala manusia. Keluar dari gedung GPP ia segera menuju masjid Fakultas Kedokteran, UB. Percikan bening air wudhu menyentuh segar wajah, tangan, dan kakinya. Memantulkan cahaya di lukisan indah wajahnya. Ruku’ dan sujud dengan tuma’ninah. Menengadahkan tangan meminta sesuatu dalam hati kepada Tuhannya.
“Assalamu’alaikum,” salam menyapanya dari seorang muslimah di belakangnya.
“Wa’alaikumsalam,” jawabnya dengan senyum. “Mbak Sari ya, senang berjumpa dengan mbak lagi. Tambah cantik aja nih mbak Sari,” pujinya. Mereka berjabat tangan menggugurkan daun-daun dosa. Sari adalah salah satu muslimah yang dikagumi Nayla. Ia mengenalnya saat Sari tengah menjadi pembicara dalam sebuah acara seminar di fakultasnya.
“Nayla mau pulang? Bareng mbak aja yuk. Kebetulan ini juga mau pulang,” tawar Sari. Tanpa basa-basi Nayla mengangguk dengan senyumnya. 
Mereka berdua meninggalkan Masjid Nurul Syifa menuju parkiran motor mahasiswa. Rumput bergoyang dikibas angin. Tiga mahasiswi berkerudung lebar berpapasan dengan mereka. Memberikan salam dan senyumnya. Setetes embun seperti menjatuhi dua bola mata Nayla. Sejuk rasanya melihat tiga mahasiswi dan orang yang ada di sampingnya. Seolah muslimah-muslimah itu seperti permata yang sangat mahal harganya.
Motor hitam meninggalkan parkiran. Nayla yang duduk di belakang Sari memulai pembicaraan. Menanyakan kabar Sari, bercerita tentang kuliahnya, menanyakan beberapa pertanyaan, dan kemudian Hening. Seolah kehabisan bahan pembicaraan. Sesaat kemudian Nayla berucap. “Mbak Sari cantik. Secantik kerudungnya.”
***
Dengan setir yang masih terjaga, Sari tersenyum mendengarnya. “Makasih dinda,” balasnya. Beberapa menit berlalu dengan keheningan kembali. Mesin motor berhenti berderum. Nayla turun dan meminta Sari untuk singgah sebentar. Di teras kontrakannya mereka duduk diatas dipan beralas karpet merah. Dia sudah lelah menyimpan kegalauan hati untuk berjilbab dengan semua alasan penolakannya.
Satu patah dua patah kata pembuka berlalu dari mulutnya. Sari sepertinya sudah tahu maksud pembicaraannya. Sari tersenyum menerka. Nayla membuka inti pembicaraan. “Mbak Sari. Hatiku gusar. Umurku sudah 21 tahun. Tapi aku belum siap untuk memakai jilbab. Jiwaku takut mbak. Takut. Takut jika aku belum bisa menjaganya. Takut jika aku menodai jilbabku,” Nayla menatap mata Sari mencari jawaban kegusarannya.
“Nayla, jujur. Dari dulu mbak merindukanmu memakai jilbab,” sambil memegang tangan Nayla.
Senyap. Nayla menatap bola mata orang yang ada di depannya. Ia menunggu Sari meneruskan kalimatnya.
“Nayla. Jujur. Kamu sangan cantik. Rambutmu indah. Alangkah eloknya jika keindahanmu itu terjaga untuk suamimu kelak. Nayla sayang. Allah jelas-jelas menyuruhmu dan kaum wanita yang lain untuk menutupi perhiasannya. Untuk apa? Apakah untuk Allah? Bukan. Bukan Nayla. Allah menyuruh seperti itu untuk kita sendiri. Agar kita terjaga dari keburukan. Agar kita terjaga dari mata liar.”
Setetes embun terjatuh membasahi karpet merah. Nayla tertunduk. Hatinya seperti tercakar ribuan kuku yang tajam. “Mbak Sari, aku ingin menjilbabi hatiku dulu. Hatiku ini masih jauh dari baik. Aku malu jika nanti aku menodainya karena kelakuan burukku.” Isaknya menelan keheningan.
“Nayla, adikku. Hati itu tidak bisa dijilbabi. Hati itu hanya bisa dijaga. Bagaimana menjaganya? Menjaganya yaitu dengan taqwa. Menjaganya dengan ibadah. Menjaganya dengan cinta kepada Allah. Menjaganya dengan takut pada murka Allah.” Jemari Sari menyapu halus aliran bening di pipi Nayla. “Nayla. Apakah menurutmu berjilbab itu bukan sebuah ibadah?”
Nayla menoleh Sari. Dia diam dan tertunduk lagi. Sari bertanya lagi. “Nayla. Apakah menurutmu berjilbab itu bukan sebuah ibadah? Apakah menurutmu menjuntaikan pakaian untuk menutup perhiasan wanita itu bukan sebuah ibadah?”
“Iba..dah… mbak,” jawabnya terbata. “Apakah Nay bisa jamin semua ibadah yang telah Nayla lakukan sampai sekarang seperti sholat, puasa, dan zakat benar-benar diterima oleh Allah?” Nayla terdiam seakan bisu. Sari membuka Al-Qur’annya. Nayla disuruh membaca arti ayat ke lima dari surat Al-Ma’idah. “…Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat Islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.”
“Sekarang Ayo kita pikir. Memakai jilbab bagi kaum perempuan adalah hukum Syariat Islam atau tidak Nay?” Sari terus membuat Nayla untuk berpikir. Nayla masih dalam diamnya.
Hening. Sari menunggu jawaban Nayla. Satu menit mereka dalam keheningan.  “I….ya… mbak,” masih terbata. Sari meneruskan. “Iya benar Nay, dalam Qur’an Surat An-Nur ayat ke 31 sudah jelas bahwa Allah menyuruh kaum perempuan yang beriman untuk berjilbab. Itu tandanya berjilbab merupakan hukum syariat Islam. Jadi, jika kaum wanita yang tidak memakainya, mereka telah mengingkari hukum Syariat Islam. Apa akibatnya Nay jika mereka mengingkarinya?” Sari ingin Nayla membuat kesimpulan sendiri.
Matanya berkaca. Air mata terjatuh. Nayla menjawab “hapuslah semua amalnya di dunia mbak…. Dan mereka termasuk orang yang merugi di akhirat.”
“Nayla sudah tau jawabannya. Penjelasan mbak tadi juga bisa dianalogikakan seperti ini. Segelas susu adalah enak jika diminum. Tapi jika dalam susu tersebut kita tahu ada kotoran cicaknya, kita tidak membuang kotoran cicak itu lalu meminum susunya, tapi kita membuang seluruh susu tersebut.” Sari tersenyum menatap Nayla. “Apa Nay sekarang masih takut dan ragu untuk segera berjilbab?”
“Nayla takut tidak bisa menjaganya. Nayla takut menodainya mbak,” tetap saja ia bergumam dengan alasannya. “Apakah Nay tidak takut dengan Allah? Dengan siksa Allah? Dengan murka Allah? Nay?” suara Sari halus bertanya kepada Nayla. “Astagfirullah…Astagfirullah…Ya Allah……. Sesombong ini kah aku kepada-Nya mbak? Seberani ini kah aku kepada-Nya mbak? Astagfirullah…,” jemarinya yang halus mengusap air yang berjatuhan di layar pipinya.
Ia memeluk Sari dengan isak tangis bersalah. Ia sadar, selama ini semua alasan yang membuat dirinya ragu untuk berjilbab adalah alasan dari syaitan semua. Alasan yang mungkin seperti sebuah alasan putih. Karena alasannya takut jika nantinya akan menodai kesucian jilbab. Tapi ia sadar. Bahwa itu semua adalah dari syaitan. Syaitan melarang Nayla berjilbab dengan tawaran alasan-alasan yang halus.
***
Senja menuai datang. Langit indah dengan mega merahnya. Sudah dua jam yang lalu Sari pamit pulang dengan memberi pesan semangat kepada Nayla. Ada hati yang telah mantap untuk berjilbab. Ada hati yang mantap menjaga semua perhiasan yang ada pada dirinya. Hati itu kini tersenyum menyambut cahaya terang. Hati Nayla Wulan sari.
Diambilnya sajadah biru di dalam lemari. Bersujud sangat khusyuk kepada Tuhannya. Lantunan do’a ia suarakan. Sebait doa’nya, “…Terima kasih Allah, hidayah ini sangat indah. Ijinkan aku menjadi muslimah Syurga yang sayap-sayap taqwanya mengantarku terbang ke Syurga.”
Surat An-Nur terdengar merdu dari bibir gadis nan jelita. Nayla menikmati setiap huruf yang ia baca. Irama yang merdu menambah khusyuk suasana. Ia tidak menggeser duduknya karena begitu nikmat ia membaca ayat-ayat cinta itu. Adzan Isya’ pun terdengar dari sound masjid. Nayla segera berdiri untuk melanjutkan sholat isya’. Kali ini ia mengajak lima teman kontrakannya untuk sholat berjama’ah bersamanya.
***
Satu tahun telah berlalu. Masa-masa awal ia memakai jilbab mendapat respon yang baik dari teman-temannya. Namun ada beberapa teman kampusnya yang tidak suka dengan perubahan Nayla. “Sangat nyaman aku bersama jilbab ini, sangat nyaman aku bersama pakaian taqwa ini. Dia menjagaku. Dia melindungiku,” gumam Nayla dalam hati, ketika melihat seorang perempuan digoda oleh laki-laki nakal karena auratnya terbuka. Saat itu ia sedang melakukan perjalanan pulang ke Banyuwangi karena Skripsinya lulus dengan nilai A. Nayla ingin langsung memberitahukan kepada Emaknya bahwa ia sudah lulus.
Di dalam bus, Nayla ingat penilaian salah satu temannya, “Untuk apa berjilbab Nayla, sekarang bumi lagi panas-panasnya. Malah kamu pakai jilbab. Nayla… Nayla…” Dia tersenyum mengingatnya. “Panas di bumi ini tidak ada apa-apanya dari panasnya Neraka,” jawabnya saat itu. Nayla tersenyum sendiri mengingatnya.
Tiba-tiba Nayla ingat kejadian satu tahun lalu saat ia telah usai menunaikan sholat isya’ berjama’ah bersama teman-teman kontrakannya. Saat Nayla menaruh sajadah di dalam lemari bagian bawah, tanpa sengaja ia menyentuh sebuah plastik hitam. Nayla heran karena ia merasa tidak pernah menaruh plastik hitam di dalam lemari. Tangannya meraih plastik itu.
Pelan Nayla membukanya. Sebuah surat dan kerudung panjang warna putih. Ia membuka amplop biru yang ada di dalam plastik hitam. Membukanya dengan pelan. “Dari Sinta.” Ia kaget membacanya.
Nayla meneruskan. “Nayla sahabatku. Aku begitu mencintaimu. Ingin sekali aku mengutarakan sesuatu kepadamu saat sehari bersamamu di Malang. Tapi, aku merasa bukan itu saat yang tepat. Akhirnya aku memutuskan menulis surat ini. Nayla terkasih, aku merasa bersalah karena aku belum bisa mengajakmu untuk sepertiku. Memakai jilbab. Saat kau mendapatiku menangis di kamarmu, sebenarnya aku memang menangis. Menangis karena belum bisa melihatmu mengenakan pakaian taqwa ini. Aku ingin bertemu denganmu dengan memakai jilbab putih dalam plastik ini. Ingin sekali sahabatku. Nayla, jilbab akan menjagamu. Menjagamu dari kejahatan. Menjagamu dari keburukan. Menjagamu dari mata liar. Juga insyaallah akan menjagamu dari jilatan api Neraka. Aku ingat sekali dengan sebuah hadis tentang perjalanan Rasulullah ketika malakukan Isra’ Mi’raj. Rasulullah sampai menangis kala melihat kaum perempuan yang disiksa di Neraka. Salah satunya beliau melihat wanita yang digantung rambutnya dan otak kepalanya mendidih. Wanita yang digantung dengan rambutnya dan otak kepalanya mendidih adalah wanita yang tidak mau menutupi rambutnya dari pandangan laki-laki  yang bukan mahram. Aku tidak mau sahabatku yang cantik ini terbakar dan tersiksa di tempat paling menyiksa itu. Aku mencintaimu Nayla, aku ingin bertemu denganmu dengan jilbab putih ini. Aku ingin berjumpa denganmu dengan pakaian taqwamu. Nayla. Aku ingin melihatmu dengan jilbab putih ini.”
Kala itu Nayla menangis membacanya. Ia segera menelepon Sinta. Rasa terima kasih ia ungkapkan kepada Sinta. Ia berkata kepada Sinta bahwa setelah sidang skripsi, Nayla akan menemuinya di Bandung.
“Memang benar. Jilbab menjagaku dari keburukan.”
***
Empat jam di Bus akhirnya ia sampai di daerah rumahnya. Ia ingin cepat-cepat sampai rumah untuk memberitahukan kabar gembira kepada Emak yang sangat dicintainya. Sampai di rumah ia segera mencium kaki Emaknya. Emaknya terkaget. Kemudian menanyakan kenapa Nayla sampai seperti itu. Mendengar penuturan dari mulut Nayla, Emaknya menangis dan segera memeluk Nayla. Begitu bangga membuncah memiliki anak seperti Nayla. Sholihah, pintar, cantik, dan sangat memuliakan ibunya.
Sehari di rumah, Nayla meminta ijin kepada Emaknya untuk berangkat ke Bandung menemui Sinta. Ia sengaja tidak memberitahu Sinta tentang keberangkatannya. Ia membawakan kerudung putih yang baru ia belikan dari Malang. Dalam bus, Nayla tiba-tiba sangat merindukan Sinta. Ia merasa ingin sekali cepat-cepat bertemu dengan sahabatnya itu.
Jum’at pagi ia tiba di Bandung. Dengan memakai kerudung putih pemberian Sinta, Nayla semangat menemui sahabatnya. Bermodal alamat Sinta yang disimpannya, Nayla segera pergi ke alamat itu. Tanya tukang sapu, tanya ibu-ibu, tanya ke sana, tanya ke situ, dan akhirnya ketemu alamatnya. Nayla heran, kenapa rumah ber cat putih itu banyak orangnya.
“Mbak, permisi. Ini benar alamat kosnya Sinta Anita Putri?” tanyanya.
“Iya benar mbak. Mbak ini siapanya Sinta ya?” tanya wanita itu setengah penasaran.
Dengan senyumnya Nayla menjawab. “Saya sahabatnya mbak.”
Tiba-tiba wajah Nayla berupa pucat tak percaya mendengar penuturan wanita itu. Sinta Meninggal. “Innalillahi wa innailaihi raji’un…” Kantong berisi jilbab putih untuk Sinta terjatuh. Nayla tak percaya. Ia segera masuk ingin melihat sendiri kebenarannya. Benar. Sinta telah tiada. Tidak ada lagi dua sejoli. Tidak ada lagi Sinta yang sering memencet-mencet hidung pesek Nayla.
“Sin….ta…..” Nayla terbata memanggil nama itu. Muslimah anggun itu pun menangis. “Rupanya ini yang membuat aku begitu merindukannya dan ingin segera bertemu dengannya. Rupanya ini,” katanya dalam hati.
“Sinta meninggal dengan senyumnya. Di hari jum’at setelah sholat subuh. Kemungkinan ia meninggal ketika mengaji Al-Qur’an , karena ia meninggal dalam keadaan masih memakai mukenah dan mushof Al-Qur’an yang masih menempel di tangannya.” Mendengar penuturan teman Sinta, Nayla merasa sangat bangga memiliki sahabat yang sholihah seperti dirinya.
Mata Nayla berkaca. Ia memuji Allah. Begitu bangga kepada Sinta, sahabatnya. “Satu bidadari Syurga kini telah terbang mengangkasa. Bersama sayap-sayap taqwa yang membawanya terbang ke Syurga, dialah Muslimah Syurga.”

-THE END-


Cinta Kazahra


Desir angin berhembus mengudara, sesekali menyibakkan ujung kerudung hijau muda gadis jelita itu. Matanya teduh, seteduh hatinya. Parasnya elok seperti mawar merah yang bermekaran di keteduhan taman bumi. Keanggunannya sering membuat orang-orang berdecak kagum ketika melihatnya.  Ia sangat takut kepada Tuhannya dan sangat mencintai Rasul-Nya. Entah berapa juz yang ia hafal, sungguh dia adalah muslimah syurga.

Kazahra masih tetap berdiri di balkon rumahnya, menatap hamparan langit yang tak ada ujung jika dilihat dengan mata. Langit kelam berhias awan mendung yang menutupi terik sang surya. Dilihatnya hamparan pantai yang membiru dari balkon rumahnya. Tanpa ia sadari, ujung matanya meneteskan air mata.
“Allah, tak pernah ku rasakan rasa ini sebelumnya. Apakah ini cinta? Kenapa dadaku begitu sesak merasakannya? Sungguh, jika ini memang cinta, bantulah aku untuk tetap mengindahkannya dengan aturan-Mu, karena aku tak mau jika cinta yang ku dera ini menusuk cinta yang telah kusemai indah kepada-Mu Allah. Sungguh dan sungguh, jika yang kurasakan ini adalah cinta, kuatkan aku untuk bisa menjaganya dan membuatnya berbuah pahala untuk diriku. Pahala yang akan mengantarkanku untuk mencium syurga-Mu, pahala yang menggandengku singgah di Jannah-Mu, pahala yang akan mempertemukanku kepada-Mu.” Bisiknya dalam hati. Suara adzan dari sound surau dekat rumahnya bergeming di telingannya dan mulai mengoyakkan lamunannya. Ia bergegas untuk sholat sambil menyeka tetesan air matanya.

***

Akhmad Husein Dzulfiqar. Nama itulah yang kini sedang menggeluti hati Zahra. Seorang ikhwan aktifis yang memilik kepribadian yang luar biasa. Dia adalah lulusan tahun 2007 dari salah satu universitas ternama di Surabaya. Kini ia sedang berkarya menjadi seorang pengusaha muda. Sampai tahun 2010 ini. ia sudah terbilang cukup sukses, karena usaha property yang digenggamnya berkembang pesat dan menghasilkan omset besar. Husein adalah pengusaha muda yang sukses, dibalik kesuksesannya ia masih tetap dalam kesederhanaannya dan aktifitas dakwahnya. Bahkan, ia sudah menghafal lebih dari 20 juz. Kini umurnya sudah memanggil-manggil dirinya untuk segera menemukan permata yang telah lama ia nanti.

“Zahra, untuk seminar entrepreneur besok, ana sudah dapat pembicaranya. Namanya Akhmad Husein Dzulfiqar. Beliau adalah pengusaha muda di Surabaya. Dijamin sip deh”, kata si Farah dengan senyum khasnya.
“Alhamdulillah, tinggal lima hari lagi acara seminar kita. Semoga lancar ya Far”, timpal Kazahra.
“Oia Ra, besok insyaallah ada syuro lanjutan untuk seminar kita. Yang lain tolong diberitahu ya.”
“iya insyaallah, makasih infonya ukh.”

***

03 Januari 2010, di Gedung Sutarjo Universitas Jember, pukul 09.00 WIB. Seminar entrepreneur pun sedang terlaksana. Kala itu Kazahra yang menjadi moderatornya dan Husein yang menjadi pembicaranya. Kazahra sangat terlihat anggun saat itu, bukan karena make-up yang menempel di kulitnya yang bersih tapi karena kecantikan alami, baju taqwanya, dan auranya yang begitu mempesona.

Zahra begitu piawai dengan tugas ynag telah diembannya, suasana tidak terasa tegang sama sekali karena Zahra mengimbaginya dengan bahasa yang halus dan santai. Ia juga memberikan sedikit guyonan ringan yang menghangatkan suasana. Begitu juga dengan Husein. Husein dengan wibawanya dan sikap serius santai yang dikantonginya mampu menyihir audience untuk mendengarkan semua apa yang ia sampaikan dengan khitmat.

Rupanya bukan hanya audience yang terkagum-kagum dengan pembawaan Husein, diam-diam hatinya tak dapat menipu bahwa Zahra juga merasa kagum dan bangga melihat sosok yang begitu luar biasa di sampingnya. Getaran aneh pun ia rasakan kala itu. Tapi Zahra masih tak mengerti, getaran apa yang ia rasakan dalam hatinya. Zahra hanya tahu bahwa ia kagum dengan sosok pengusaha muda itu, Akhmad Husein Dzulfiqar. Ya, hanya kagum.

***

 Acara seminar itu telah mempertemukan mereka berdua. Husein dan Zahra pun pernah terlibat obrolan santai sebelum mereka menuju panggug seminar.
“Anti Zahra ya? Yang menjadi moderator acara ini?”
“Na’am akh, senang bertemu dengan pengusaha muda seperti antum”, candanya.
“Anti semester berapa ukh? Fakultas apa?”
“Sudah semester 5 akh, lagi sibuk-sibuknya kuliah. Ana fakultas ilmu keguruan. Calonnya guru.” Sambil tersenyum.
“Wah luar biasa, sukses ya ukh. Semoga sukses juga buat seminar kita nanti.”
“aamiin, syukron akh.”

Obrolan ringan itu masih belum memberikan nyala asing di hati Zahra, karena Zahra orang yang sulit untuk jatuh cinta. Seumur hidupnya ia belum pernah merasakan memiliki cinta kasih kepada lelaki. Jika ditanya apakah ia pernah jatuh cinta, ia menjawab pernah. Mencintai orang tuanya, mencintai saudaranya.
Setelah selesai acara, teman-temannya menyampaikan salut kepada Zahra karena acaranya berjalan begitu lancar.

“Alhamdulilla, luar biasa Ra seminarnya. Anti dan akh Husein begitu kompak menyihir peserta. Hehe. Belajar sihir dari mana nih??? ” Canda Farah.
“Alhamdulillah”, sambil menyunggingkan senyumnya.
“Tahu ndak Ra, ternyata akh Husein itu bukan dari Surabaya, tapi dari Sumenep Madura. Sama dengan ana, sama-sama dari Madura. Tapi beda kota. Hehehe. Di Surabaya itu ternyata tempat kerjanya, karena ia merintis usahanya sejak  beliau semester tujuh di Unair.  Luar biasa ya, akh Husein itu. sudah sholeh, baik, ramah, kaya, tampan, pandai, pinter  ngomong lagi. Berutung ya Ra yang nanti jadi istrinya.”
“Pasti Allah memberikan yang terbaik ukh”, sambil tersenyum kembali
Mendengar kata-kata Farah tentang Husein, kekagumannya bertambah, seketika itu pula desiran itu muncul lagi.

***

Detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun pun terus melaju mengitari rotasi waktu. Zahra masih tetap dalam kebiasannya. Sibuk dengan ibadah, dakwah, organisasi, bekerja di salah satu SD di daerah asalnya, Banyuwangi, dan memberikan bimbingan les kepada beberapa murid SD di dekat rumahnya.

Malam itu saat orang-orang lain memejam kedua kelopak matanya, ia terjaga. Meneteskan air mata di atas sajadah cintanya. Merasakan gemuruh hati yang selama dua tahun berdiam di hatinya. Diam. Ya, dia diam dengan cinta dalam hatinya. Diam untuk cintanya kepada sosok Husein yang luar biasa. Ia tak mau sentuh cinta itu dengan noda yang bisa membuat Allah murka kepadanya. Ia benar-benar tak mau mengotori kemuslimahannya. Sepenuhnya, ia serahkan takdir jodohnya kepada Rabb-nya. Sepenuhnya, karena rencana-Nya lebih indah daripada rencananya. Ia meyakini bahwa Allah telah berjanji, dalam QS. An Nur ayat 26 dikatakan bahwa “perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”.

“Allah, aku hanya hambu-Mu yang lemah dan berhias lumuran noda. Ku gantungkan semua mimpi-mimpiku kpada-Mu. Kuserahkan semua apa yang terbaik untukku kepada-Mu. Termasuk jodohku. Jika Akhi Husein adalah jodohku, mudahkanlah jalan untuk segera menyempurnakan separuh iman dan agamaku. Namun jika tidak, hempaskanlah rasa cintaku kepadanya sejauh-jauhnya hingga aku tak bisa lagi merasakan desirnya”
Dipojok Madura sana, di Kota Sumenep kota, Husein tengah mempersiapkan mentalnya untuk menemui ayah Zahra. Ia begitu mantap dengan pilihan hatinya. Sebenarnya, ia telah kagum dengan Kazahra Humaira saat acara seminar itu dan saat itu pula ia berniat hendak menjadikannya istri. Husein sudah tahu bahwa Zahra sudah lulus kuliah S1-nya dari salah satu temannya yang kebetulan kenal dekat dengan Zahra. Melalui temannya itu lah Husein mendapat informasi banyak tentang Kazahra.

Zahra, sosok yang luar biasa yang hinggap di hatinya selama dua tahun. Ia benar-benar menjaganya dengan tidak melakukan komunikasi apapun dengan Zahra. Begitu pula dengan Zahra. Selama dua tahun pula, rupanya Husein tengah menyimpan cinta kepada Zahra. Husein tahu bagaimana ia harus mengambil sikap. Yaitu dengan diam dan menjaganya dalam doa dan ibadahnya, hanya karena Allah semata. Zahra, seorang muslimah syurga.

***

Khitbah telah dilkukan melalui perantara wali Zahra. Dan kini Husein menggandeng keluaranya untuk ke Banyuwangi menemui keluarga Zahra untuk melamarnya.
“kedatangan saya disini berniat untuk melamar putri bapak, Kazahra Humairah demi memenuhi ibadah. Jika diterima dan disepakati minggu depan saya berencana untuk menikahinya.”
“Bapak selaku ayah Zahra  telah menyerahkan semuanya kepada Zahra langsung, sekarang bagaimana jawabanmu nduk?”
“Bismillahirrahmanirrahim, saya menerima lamaran akhi dengan satu syarat. Jika syarat ini dipenuhi, saya terima lamaran akhi, dan tanggal pernikahan bisa segera ditetapkan. Namun jika tidak, silahkan akhi pilih gadis yang lain yang tidak memberikan syarat apapun”
“apa syaratnya?”
“saya tidak ingin akhi menikahi perempuan lain selama ana masih bisa menjalankan kewajiban ana sebagaiseorang  istri. Saya hanya ingin seperti Fatimah yang sama sekali tidak pernah dimadu oleh Ali bin Abi Thalib dan bunda Khatidjah yang juga  tidak pernah dimadu selama pernikannya dengan Rasulullah SAW”
“ana terima syaratnya”
Air mata haru Kazahra pun menetes membasahi wajah rupawan itu. ia mengucap syukur kepada Tuhannya karena cinta yang selama ini ia jaga telah mekar dibawah pelangi kebahagiannya. Husein yang ia cintai dalam diam selama dua tahun dan hanya Allah lah yang tahu akan menjadi imamnya. Janji Allah telah terjawab. Dan janji itu mereka sambut dengan senyum gembira.

***

“istriku, selama dua tahun aku menyimpan cinta untukmu. Selama dua tahun pula aku merasakan sesak yang begitu luar biasa karena cinta yang kubungkam dalam diam. Dan kini, cinta itu telah bersemai indah. Kini orang yang namanya ada dalam hatiku selama dua tahun, Kazahra Humaira telah ada di depanku. Aku mencintaimu, sayang. Mencintaimu karena Allah”
Kazahra menangis bahagia karena ternyata yang ia rasakan selama dua tahun setelah acara seminar itu dirasakan pula oleh Husein, oang yang ia cintai. Husein, yang kini ada di depan matanya dan menyek air matanya. Berharap, ia imam yang akan menuntunnya kelak menggapai Jannah-Nya bersama-sama.

#Diselesaikan cerpen ini pada tanggal 05 Januari 2013. Pukul 20.43 WIB. @bangka V 16, JBR.

AL WAQTU KAS SAIF

Bismillahirrahmanirrahim…
Waktu adalah jatah hidup yang diberikan Allah kepada manusia. Manusia hidup dengan waktu, sekolah dengan waktu, mengaji dengan waktu, berjalan dengan waktu, melakukan dosa pun dengan waktu, apapun kegiatan kita hidup di dunia, semua itu kita lakukan dengan waktu yang menjadi pengantarnya. Orang yang berhasil dalam hidupnya adalah bukan mereka yang memiliki waktu banyak melebihi 24 jam dalam sehari, namun mereka yang pandai menggunakan waktunya untuk kegiatan apa. Lebih banyak bersantai dan bersenang-senang atau kerja keras? Dan yang paling penting manusia bisa mendapatkan surga juga dengan waktu, jika waktu di dunia mereka lakukan untuk hal kebaikan dan tidak berbuat hina maka waktu itulah yang melesatkannya ke surga.
Waktu muda, kata sebagian orang adalah waktu untuk hidup foya-foya dan masa untuk bersenang-senang. Sebagian mereka juga mengatakan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga.” Jika kita coba pikirkan, sangat tidak masuk akal jika dari kecil sampai tua kita hidup enak, dimanja, foya-foya, santai-santai, malas-malasan, ketika mati bisa masuk surga. Karena sudah menjadi hukum alam bahwa siapa yang bekerja keras dan tidak bersantai-santai dalam hidupnya maka kebaikan kehidupan akan ia miliki di masa depan pun di akhirat, jika ia orang yang beriman. Masyarakat barat mengibaratkan waktu adalah uang. Jika tidak pandai memanfaatkan waktu maka mana mungkin mereka bisa mendapatkan banyak uang. Orang arab mengibaratkan waktu laksana pedang. Jika mereka bisa memanfaatkan waktu di dunia dengan sangat baik maka pedang itu akan meindunginya. Namun jika mereka tidak bisa menfaatkan waktunya maka pedang itu akan berbalik untuk menebas lehernya. Masyaallah.. begitu luar biasanya waktu sampai-sampai ia menjadi penentu keberhasian manusia dunia akhirat. “Al waqtu kas saif illam taqtha’hu qatha’aka.” (Waktu ibarat pedang, jika kamu tidak memotongnya, niscaya pedang itu yang akan memotongmu).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar r.a. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda, “Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416). Dunia hanyalah tempat peringgahan sementara untuk manusia dan apa pun yang diciptakan Allah di dalamnya. Manusia di dunia bagaikan seorang pengembara yang harus berusaha keras untuk bertahan hidup, jika dia malas maka matilah dia di tempat asing. Karena dunia, Allah ciptakan untuk manusia mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk hidup di akhirat. Jadi, sudah cukupkah bekal-bekal kita untuk dibawa di dunia nyata kelak??
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir). Untuk selamat di akhirat, kita harus menempuh kehidupan di dunia terlebih dahulu, dan Allah sudah memberikan rambu-rambu perjalanan kita agar selamat sampai akhirat yang akan kita tuju. Salah satunya yaitu manusia harus memanfaatkan masa muda sebelum renta menghampiri, karena semangat saat muda sangat berbeda sekali dengan saat renta. Harus memanfaatkan waktu sebelum kita jatuh sakit, karena apa yang bisa dilakukan banyak oleh orang sakit? Memanfaatkan masa saat kita berkecukupan sebelum semuanya hilang. Memanfaatkan waktu luang sebelum sibuk datang, jika manusia tidak disibukkan dengan kegiatan yang baik maka pasti ia akan disibukkan dengan kemaksiatan. Dan terakhir, hidupmu sebelum matimu, karena kematian akan memutuskan kesempatannya untuk beramal sholih.
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar berada dalam kerugian, Kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran” (Al ‘Ashr: 1 3). Amal sholihlah yang akan menyelamatkan kita dari kerugian. Jangan sampai waktu kita terbuang percuma hanya unuk kesenangan yang sementara. Karena surga hanya untuk orang-orang beriman yang pandai mengatur waktu.


Dia hanya berkunjung sementara
Hantaran yang menentukan hidup manusia
Kadang bagai iblis, kadang bagai dewa
Seperti embun yang hinggap sebentar pada daun saat pagi
Hanya sekejap, namun bisa melenakkan hati
Hanya sekejap, namun penentu nanti
Dialah waktu… sampai mati..
-HK.1914


Manis...

Ada rasa ini
Berulah memuncak
Ada rasa ini
Bermain bertebaran
Ada rasa ini
menggaet, berburu
            hidup itu kiasan berharga
            berani memilih, berhasil pasti
            berhasil akan pencapaian cita-cita


Ditulis di kupang diruang perpustakaan pada pukul 23.13 selasa 12 april 2011

Nikmat Mencarimu

Genap agama dalam masa hidup menjadi prioritas
Lantas bagaimana dengan sebuah pengabdian dan perjuangan
Ya semuanya berapi-api dan memesona
Lantas bagaimana dengan kemantapan diri dan keistiqomahan
Ya semuanya terasa mendebarkan dan terdebarkan
Sengketa alam, sengketa rekayasa dan sengketa kehidupan
Melilit demi lilitan tersulit
Ya satu per satu kulepas hingga terkelupas
Indahnya pencarian

Jumat, 27-05-2011 di aula perpus kupang panjaan

My Friends