Serunya Ikut Studium Generale MIIPB#7

23 Januari 2019.

Aku bersyukur sekali karena Allah membuatku tahu dengan IIP (Institute Ibu Profesional) yang didirikan oleh perempuan yang sangat menginspirasi luar biasa, yaitu Ibu Septi Peni Wulandani. Betapa Allah baik sekali denganku, Allah gerakkan hatiku untuk ikut menjadi peserta Matrikulasi IIP batch 7 bersama 2000-an peserta lainnya se-Indonesia. Bersama mereka kutemukan sebuah lingkungan yang insyaallah akan sama-sama belajar menjadi ibu, istri, dan perempuan profesioanal di ranah domestik atau publik. Mashaallah.

Kegiatan belajar ini dilakukan secara online melalui Whatsapp, Telegram, dan Google Class. Setelah masuk ke kelas Matrikulasi, agenda pertama kami adalah Studium Generale (SG). SG itu seperti kelas besar yang isinya all of peserta Matrikulasi IIP Batch #7 se-Indonesia. Kami semua diarahkan masuk ke kelas besar itu melalui telegram. Alumni-alumni dari kelas matrikulasi batch #1 - #6 diundang untuk menjadi pemateri.

Pertama kali masuk ke kelas ini, aku spontan mengucapkan “mashaallah” berkali-kali karena banyak hal yang membuatku terkagum-kagum, apa saja?

1. Tim hebat. Tim yang mengatur acara SG ini sangat profesional. Meskipun kelas online yang tidak ada tatap muka, tapi atmosfer yang kurasakan seperti kelas offline sungguhan yang profesional. Segala sesuatunya dipersiapkan, dari randon acara sampai video sambutan. Mashaallah sekali.
2.Ketemu orang-orang hebat. Alumni kelas matrikulasi batch #1 - #6 diundang untuk menyampaikan success stories mereka selama mengkikuti kelas di Matrikulasi IIP. Tiba-tiba nyeletuk dalam hati, “bisa ngga ya kayak mereka”. Jujur, bagiku, kisah mereka sangat menginspirasi, membuatku (mungkin semua peserta) termotivasi untuk lulus kelas Matrikulasi dan bisa berubah menjadi lebih baik lagi dalam berperan sebagai perempuan, ibu, dan istri.
3.Peser yang antusias dan terlihat bersemangat. Aku sampai ngga kebagian bertanya, hehehe. Mereka semua bersemangat dan itu membuatku otomatis larut dalam diskusi kelas.
4. Ada resume materinya. Ini benar-benar memudahkanku untuk bisa membaca kembali materinya tanpa harus scroll-scroll ke atas, karena resumenya berbentuk google docs. Mantap.

Enam alumni tadi punya cerita sukses masing-masing yang membuatku bisa belajar banyak hal dari mereka. Katanya, setelah ikut kelas matrikulasi, mereka bisa mengenal dirinya lebih jauh, mengenali kelebihan dan kekurangan sehingga bisa fokus pada kelebihannya saja. Belajar tentang komitmen dan konsisten, dua pegangan setelah meluruskan niat, belajar mengosongkan gelas dan mengisinya dengan cahaya ilmu. Mantap. Aku jadi semakin semangat untuk aktif di kelas Matrikulasi ini. Berbagai pemantik semangatpun dibagi untuk kami dalam mengikuti kelas Matrikulasi batch #7.

“Komitmen dan konsistensi adalah dua modal yang kita perlukan untuk memahami konsep diri kita sebagai seorang perempuan, ibu, dan istri” (Septi Peni Wulandani)

Intan Mauliddiana, Peserta Matrikulasi Batch #7
#PraNHW1
#MIIPB7

REVIEW BUKU LOVE JOURNEY #2


Judul Buku: Love Journey #2 (Mengeja Seribuh Wajah Indonesia)
Penulis: Lalu Abdul Fatah, dkk.
Penerbit: de TEENS
Jumlah Halaman: 367 hlm.

Travelling. Satu kata itu mewakili seluruh isi cerita dari buku Love Journey #2. Seperti kebanyakan buku travelling lainnya, buku ini memuat banyak kisah perjalanan dari setiap pelakonnya. Namun ada yang menarik di sini, bahwa travelling bukan hanya tentang “aku” dan “tempat itu” yang selalu identik dengan keindahan demi keindahan. Tetapi, travelling juga tentang “mereka” dengan kisah-kisah menakjubkan di dalamnya.
Tuhan menciptakan segala sesuatu di bumi ini bukan tanpa tujuan. Alam-alam yang indah dengan beragam karakter makhluknya, tempat-tempat menawan dengan kisah-kisah manusianya, bangunan-bangunan dengan cerita di baliknya, semuanya berkelindan satu sama lain menyuguhkan satu tempat belajar bagi manusia yang kepala dan hatinya “mau” untuk peka. 

Belajar bukan hanya tentang buku dan meja, juga bukan tentang papan dan kapur, tentu definisnya tidak sesempit itu. Belajar juga bisa tentang setiap perjalanan yang kita tempuh, bisa tentang waktu yang kita jalani, bisa tentang orang yang kita temui, melihat matanya, menelusuri setiap sudut ceritanya, bisa tentang apa saja. Yang pasti, belajar adalah tentang bagaimana hati dan kepala kita terbuka menerima setiap ibroh yang ditangkap indra manusia. Dan buku ini menyuguhkan itu, bahwa di setiap perjalanan ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa mengayakan kepala dan hati kita. Ya, melalui sebuah perjalanan.

Buku ini sangat enak sekali untuk kita baca, banyak hal yang bisa kita jumpai di sana. Seperti berkelana dari satu tempat ke tempat lain dalam satu waktu.  Menjelajah alam Indonesia, dari ujung perbatasan yang gelap sampai ke tengah kota yang gemerlap. Mengenal berbagai karakter manusia dengan berbagai cerita yang meninspirasi. Membaca buku ini membuat saya tersadar bahwa alam Indonesia sangat kaya. Tersadar pula jika banyak hal yang harus saya syukuri, melihat di luar sana banyak manusia yang kurang beruntung, misalnya fasilitas sekolah yang minim, akses listrik yang terbatas, pasokan air bersih yang sedikit, dan banyak hal lain yang membuat saya tertunduk malu karena kurang bersyukur. Dengan tangan-tangan penulis yang berbeda dalam buku ini, kita akan dibuat diam dan ber-ooo tentang fakta yang ada dalam setiap tempat yang mereka kunjungi.

Setiap cerita yang ada dalam Love Journey #2 memuat gambar-gambar atau dokumentasi tentang tepat yang dimaksud. Namun sayangnya, ada beberapa yang tidak menyertakan dokumentasi sehingga kepuasaan mata untuk mengetahui tempat yang dimaksud tidak terpenuhi. Over All, Buku ini keren, dan saya tidak sabar untuk mengambil ransel saya dan Go!

Review Novel "Sabtu Bersama Bapak"

Judul Buku: Sabtu Bersama Bapak 
Pengarang: Adhitya Mulya
Penerbit: Gagas Media
Terbit: Cetakan keduapuluh dua, 2016
Tebal: 278 hlm.
ISBN: 979-780-721-5

Sabtu Bersama Bapak merupakan sebuah novel yang berhasil divisualisasikan menjadi sebuah film yang bergizi untuk ditonton. Mengapa saya katakan demikian, karena ceritanya begitu menarik dan mendidik, sehingga kita (pembaca-penonton) bisa belajar banyak hal darinya. Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga kecil yang cukup bahagia. Layaknya sebuah keluarga di dunia, tentunya ada ujian-ujian kehidupan yang menghampiri keluarga kecil ini. Salah satunya adalah vonis kematian sang bapak karena penyakit kanker. Bapak Gunawan, namanya. Meski telah divonis dia tetap tenang menghadapi sisa hidupnya, sembari menyiapkan bekal pendidikan untuk anak-anaknya, agar kelak—meski tanpanya—dia tetap bisa membersamai istrinya (Ibu Itje) untuk mendidik anak-anaknya. Dia membuat video-video pendek untuk anak-anaknya, isinya tentang pelajaran kehidupan. Tentang impian, rumah tangga, tanggung jawab, cinta, dan hal seputar problem kehidupan lainnya.

Adithya, sang penulis, merangkai cerita ini dengan sangat apik. Lewat cerita Satya dan Cakra dalam menjalani kehidupan yang berkelindan dengan video yang dibuat bapaknya, penulis menjabarkan banyak hal pelajaran kehidupan. Banyak hal yang bisa kita pelajari. Tentang cinta, misalnya. Bahwa cinta adalah soal penerimaan, ketika vonis kematian itu datang, Bapak Gunawan menerima dengan tangan terbuka. Dia menerima dengan tetap menjaga cinta pada keluarganya. Membuat kehidupan keluarganya terjamin bertahun-tahun ke depan, saat dia tak bisa lagi membersamai keluarganya. Planning is everything, katanya. Bapak yang cerdas, menurut saya. Tentang keluarga, bahwa keluarga itu adalah soal saling memahami, mengerti, tanpa menonjolkan keegosentrisannya. Satya, yang begitu keras dengan istri dan anak-anaknya, akhirnya mendapatkan cinta yang tulus dari mereka, karena dia mau bersabar dengan egonya dan merangkul mereka dengan cinta. Dari cerita Satya, kita bisa belajar hal-hal seputar pengasuhan anak, penulis menuliskannya dengan bahasa yang sederhana.

Banyak sekali kelebihan dari novel ini, selain ceritanya yang menarik dan menghibur, pembaca tidak dibuat bingung dengan pemilihan katanya. Yup, bahasa yang digunakan creamy sekali, sehingga kita akan sangat mudah menangkap maksud penulis. Saya kira si penulis cukup cerdas sehingga bisa membungkus pelajaran kehidupan dengan sangat sederhana dan menyenangkan. Apalagi yang soal pengasuhan anak (parenting), benar-benar masuk di otak tanpa perlu baca ulang. Jadi, tidak heran kalau novel ini difilmkan. Jadi nggak sabar pingin lihat movie-nya.

Kekurangan novel ini sedikit menurut perspektif saya, sedikit sekali. Ada beberapa part bercandaan yang kurang positif karena menggunakan bahasa-bahasa yang kurang halus dan terkesan sangat dewasa, sehingga novel ini recommended hanya untuk pembaca dewasa, 21+ ke atas. Di bawah itu, sepertinya no recommended. Selain itu ada beberapa part bab yang isinya sangat minim sekali, sehingga terkesan singkat, padahal menurut saya masih bisa dibuat narasi yang agak panjang yang tentunya masih berhubungan dengan isi bab tersebut.

Over all, novelnya keren, kece, super sekali. So, segera baca. Rugi kalau menunda, karena banyak ilmu positif yang akan didapat. Terimakasih Bang Adit karena sudah melahirkan karya sebagus ini. Semoga pahala jariahnya selalu melimpah. Aamiin.

Pamekasan, 8 April 2018.
Intan Mauliddiana

Menjawab Tantangan 40 Hari Menaklukkan Buku



“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajarkan (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Ayat suci di atas tentunya sangat familiar bagi kita yang beragama Islam. Betapa islam sangat mengindahkan kegiatan membaca, sehingga ayat yang turun ke bumi pertama kali adalah “Bacalah”. Renungkanlah, ini bukan sebuah kebetulan. Ini seperti skenario yang sudah Allah tetapkan sedemikian indah untuk umatnya. “Bacalah!” kata Allah, maka yang tidak tahu menjadi tahu, yang bodoh menjadi pintar, yang samar menjadi jelas. “Bacalah” kata Allah, maka kita akan tahu betapa luas kekuasaan Allah, betapa tak terbatas ilmu Allah, betapa Maha Besar Allah.

Menyadari tentang keutamaan membaca, yang Allah sendiri menyuruhnya dalam Al-Qur’an, maka saya tidak lagi berpikir dua kali untuk menolak tantangan membaca yang dibuat oleh FLP (Forum Lingkar Pena) Jatim. Mungkin ini salah satu cara Allah untuk membuat saya dekat dengan buku (lagi). Nama program tersebut adalah Reading Challenge, ada beberapa tingkatan kelas, kelas terendah adalah kelas R (Reader) dan kelas tertinggi adalah kelas SR (Super Reader). Di tiap kelas akan ada tantangan tersendiri sesuai dengan tingkatan kelas tersebut. Dalam tulisan ini saya akan membagikan pengalaman saya selama di kelas MR (Middle Reader). 

Setelah lulus kelas R yang tantangannya adalah membaca buku setiap hari dengan minimal target halaman yang sudah ditetapkan di tiap harinya, maka otomatis peserta akan naik ke kelas yang lebih tinggi, yaitu kelas MR yang berlangsung selama 40 hari. Di kelas MR tantangannya tentu lebih dipersulit, yaitu harus menghatamkan buku selama delapan hari yang kategorinya sudah ditetapkan. Untuk orang yang tidak terbiasa membaca semua jenis genre buku seperti saya, tentu akan tertantang dalam kelas MR ini. Kita diajak keluar dari zona nyaman, keluar dari kebiasaan membaca buku yang itu-itu saja. Kita diajak berpetualang menjelajahi puluhan ribu kata yang menjelaskan tentang banyak hal. Semakin banyak hal yang baru kita tahu semakin menandakan betapa bodohnya kita, betapa ilmu Allah itu luas sekali.  

Kelas MR membuat saya benar-benar bergerak menjelajah buku. Menemukan buku dengan kategori berbeda tidak semudah yang dibayangkan. Hingga akhirnya saya terbiasa untuk rajin ke perpustakaan daerah ataupun perpustakaan TBM, mencari buku di setiap rak demi rak hingga akhirnya menemukan, dan itu adalah sesuatu yang membahagiakan. Bahagia karena mendapatkan buku? Ya, itu faktanya, sensasinya luar biasa. Merasa sulit sekali menghatamkan buku yang tidak disuka? Tidak juga, itu mudah sekali jika kita menganggap itu mudah dan tidak mempersulit diri. Jangan tanya ketika sudah sampai di titik akhir perjuangan menghatamkan buku di hari ke 40, itu sungguh excited. Ternyata saya bisa dengan kemudahan dari Allah. Adakah perubahan setelah 40 hari itu? Jangan tanya lagi, saya tidak bisa lagi jika tidak membaca. Itu saja. Satu hari tanpa membaca? Oh No. Tentunya jangan lupa, Al-Quran adalah bacaan wajib bagi setiap muslim. So, bacalah Al Qur'an, buku, dan tulisan apapun setiap hari, maka kita bisa lihat keluasan ilmu Allah yang kita sendiri tidak sanggup mengukur batasnya.

Anak Investasi Masa Depan

Bismillahirrahmanirrahim...Sambil menjaga toko, saya ingin sedikit berbagi ilmu tentang hal yang pernah saya alami dan saya pelajari. oke, Cuss ya.

Anak adalah investasi masa depan para orang tua. Anak adalah invesati paling nyata para orang tua. Bagaimana tidak, anak kita adalah ladang kebahagiaan untuk kita kelak. Kelak, di masa depan. masa depan dunia ini dan masa depan akhirat. So, para orang tua memang harus mendidik dengan ilmu. Bukan mendidik dengan pengajaran yang mengalir begitu saja -tanpa ilmu-. Anak bisa membawa orangtuanya terbang tanpa sayap ke surga, atau juga sangat bisa membawa orang tuanya terjun bebas ke lautan api, neraka. Maka dari itu, ilmu parenting sangat sangat perlu dipelajari para orang tua untuk mendidik generasi masa depan.

Memilih yang mana? Anak kita bercahaya kelak dengan semua potensi yang membanggakan, atau malah hanya menjadi beban yang membuat air mata kita terurai menganak sungai? Kita bebas memilih, dan kita yang akan menikmati hasil atas pilihan kita. Kita yang menanam, kita pula yang merasakan hasilnya.

Ini adalah pengantar sederhana untuk tulisan parenting yang akan saya publikasikan di blog ini. Nantikan tulisan saya tentang parenting di tulisan berikutnya.
Salam hangat senyum ceria
#yuk jadi orang tua cerdas
#yuk buat anak kita bercahaya
#Anak adalah investasi nyata kita.

Refleksi Ramadhan


berapapun banyak dosa yang kita lukis di kertas2 catatan amal.. Allah tetap akan memberi maaf untuk kita. jika kita serius minta maaf. Allah pasti tahu isi hati manusia kan. jika kita merangkak, Allah akan mendekati kita dengan berjalan. jika kita berjalan maka Allah akan lebih mendekat kita degan berlari. dan bayangkan jika kita berlari menuju Allah?? besok adalah bulan yang memberikan kita ruang untuk bercahaya. ruang untuk kita lebih husyuk lagi melakukan pdkt sama Allah. semoga saya dan temen2 semua tak menyisakan ruang sia sia 1 saja untuk membuat bulan besok sbgai bulan penuh berkah. yuk dimaksimalkan.. semogakita diberikan kemudahan ya

Semua Orang Istemewa

Perkampungan Morleke, Pamekasan.

Ditemani putraku yang sedang asyik duduk di pangkuanku, aku mencoba menguraikan penjelasan atas statement yang kubuat sendiri, bahwa semua orang memiliki keistimewaan. Allah memberikan kehidupan manusia dengan banyak hal-hal istimewa untuk manusia itu sendiri. Dan menurutku hal istimewa itu adalah amanah dari Tuhan yang harus segera ditunaikan. Hal istimewa itu hadir untuk membuat manusia lebih bermakna. Keistimewaan-keistimewaan itu hadir bahkan dari ia masih hidup di alam pertama, yaitu alam rahim. Keistimewaan-keistimewaan itu adalah secercah harapan untuk hidup manusia lebih sempurna. keistimewaan-keistimewaan itu adalah modal untuk menjadi manusia yang bisa diandalkan.

Kita pernah melihat seorang penulis yang sukses di bidangnya bukan? katakanlah... "Prof. Habibi" atau "Tere Liye". Mereka adalah bagian dari orang-orang yang berhasil menemukan keistimewaan itu. Mereka mencoba untuk menyelesaikan amanah dari Tuhan atas keistimewaan yang dianugerahkan kepadanya.  Itu yang kumaksud dari 'keistimewaan'. Benarkah semua orang itu istimewa? Tentu saja demikian, bahkan seorang yang cacat fisikpun tetap adalah istimewa. Ia bisa terang dari pendaran cahaya dari sesuatu yang disebut keistimewaan. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tak punya prestasi apa-apa di segala bidang? Yah, Tentu saja dia tetap orang yang istimewa, sayangnya ia belum terang, ia belum mengambil cahaya dari keistimewaan itu. Ia adalah sekian dari banyak orang yang tak menyadari keistimewaannya. 

Percayahalah kawan, kita semua istimewa. aku, kamu, kalian, mereka. Semua sama. Sama-sama memiliki keistimewaan. Jemputlah cahaya keistimewaan itu. Jika ia masih terkubur dalam-dalam, cobalah menggalinya perlahan. Jika ia masih berada beribu-ribu mil dari kita, maka cobalah untuk menjemputnya perlahan-lahan. Itu bukan hal sia-sia kawan. Jika kalian mampu cepat menggali dan menjemputnya, maka itu lebih baik daripada perlahan. Tapi jika kalian tiak mampu, tidak ada yang menyalahkan dan mem-bully kalian untuk perlahan. Perlahan saja namun pasti. percayalah, entah dimana kistimewaan itu, ia tetap berada dalam dirimu, dalam ruhmu, dalam ragamu. tinggal kau mau menguaknya atau tidak. 

Keistimewaanku dan kalian berbeda. keistimewaan setiap orang berbeda. tapi tetap saja, semua perbedan itu adalah keistimewaan. Cobalah untuk bangkit dari hal-hal yang memuakkan. Cobalah untuk bangkit dari zona nyaman. Cobalah untuk bangkit untuk menjadi yang terang. Andai hidup tidak hanya sekali, aku tidak akan keras untuk memaksa diriku sendiri, memaksamu, memaksa kalian untuk menjadi istimewa. Hidup hanya sekali, dan jangan pernah menjadi bagian orang yang menyia-nyiakan keitimewaan anugerah dari Tuhan. Jangan pernah, karena aku tak sanggup jika harus membayangkan sebuah penyesalan besar nanti.

Apakah kalian pernah merasakan sebuah kecemburuan yang besar terhadap seseorang. Aku sering mengalaminya. Melihat  orang yang berhasil merebut medali emas, aku iri. melihat orang yang berhasil membuat buku kemudian diterbitkan aku iri. Melihat orang yang sering menang lomba LKTI, aku iri. Melihat orang yang berhasil menjadi mahasiswa berprestasi, aku iri. semua kecemburuan itu membuatku sadar bahwa aku tertinggal jauh dengan mereka. Mereka lebih istimewa daripada aku. Dan perlahan, aku mulai sadar bahwa aku juga punya sebuah keistimewaan. Aku pasti punya, kalian pun pasti demikian. Aku sadar aku bisa terang dengan menulis, karena cahaya keistimewaanku adalah menulis. Pernah aku sangat menneysal, kenpa tidak kumulai sejak dulu, sebelum semua kesibukanku ini datang. Aku adalah seorang istri dan ibu dari anakku. tapi sekali lagi kuyakinkan diri, bahwa itu bukan sebuah keterlambatan. Ya, menurtku hanya kematian yang menjadi simbol keterlambatan.

Apakah kalian pernah merasakan sebuah kecemburuan yang besar terhadap seseorang? aku pernah mengalaminya. melihat orang yang lebih cantik denganku, aku iri. melihat orang yang memiliki baju bagus, aku iri. Hey! sadarlah itu jeenis iri yang harus dilupakan.. Lupakan saja, sebab itu tidak akan membawa dampak baik untukmu. Ya, karena semua keirian yang kusebutkan pada paragraf ini hanya bisa menyibukkan hatimu untuk terus-terusan merasa iri pada hal yang sifatnya sementara. percayalah kecantikan itu adalah sebuah hal yang nanti akan sirna. Tapi keistimewaan, itu adalah kekayaan abadi diri kita.

Semua orang istimewa. Dan memalui pena ini, aku akan membuktikan pada kalian tentang keakuratan statementku. Teruslah berkarya dengan potensi yang kalian miliki. Teruslah mengasahnya agar keistimewaan itu benar-benar membuat kalian terang karena pendaran cahayanya. Ukirlah sejarah yang tak biasa untuk hidup kalian. karena jujur, kalian semua istimewa. Segera tunaikan amanah Tuhan atas keistimewaan itu.

Semangat menulis untukku.
Semangat untuk kalian dengan keistimewaan yang berbeda.
Salam senyum semangat ceria

Semoga tulisan ini bisa menjadi penggugah jiwa-jiwa yang sedang berbaring nyaman. Semoga bermanfaat.

Intan Mauliddiana (10.30 1-6-'15)






Teknis Standar Pengiriman Naskah ke Media

Teknis Standar Pengiriman Naskah dan Alamat Email Koran, Majalah, Jurnal dan Tabloid yang Menerima Kiriman Cerpen/Puisi

HAL PERTAMA yang harus diperhatikan seorang penulis sebelum mengirimkan cerpen/puisi ke suatu media adalah kecenderungan tema cerpen/puisi yang biasa dimuat oleh media tersebut. Biasanya sejalan dengan visi dan misi media.

Majalah Ummi, Tabloid Nova, tentu tidak akan memuat cerpen dengan tema remaja yang lagi patah hati dengan gaya tutur gaul seperti loe, gue, apalagi memuat kisah peri hijau dan cinderella. Begitu pula Majalah Bobo, mustahil menerima cerpen dengan tema keluarga dan rumah tangga.

Naskah diketik dalam MS Word, kertas A4, Times New Roman 12, line spacing 1.5, maksimal 10.000 karakter termasuk spasi—tergantung media, disimpan dalam format RTF (Rich Text Format), dan dikirim via file attachment.

Jangan lupa di bagian akhir naskah cantumkan nomer rekening Anda untuk pengiriman honor—jika dimuat, NPWP (nomor pokok wajib pajak—bagi yang sudah punya), alamat email, dan nomer hp.

Pada subjek email untuk pengiriman cerpen ditulis CERPEN: JUDUL CERPEN .

Tulis pengantar singkat-padat-jelas pengiriman cerpen pada badan email. Dan, akan lebih baik jika dalam pengantar ditegaskan tentang lama status cerpen yang dikirim.

“Jika setelah DUA BULAN cerpen ini belum dimuat, maka akan saya kirim ke media lain….”

Selesai.

Tarik nafas dalam-dalam, ucapkan syukur karena telah menyelesaikan sebuah cerpen/puisi dan mengirimkannya ke media. Berdoalah semoga layak muat dan dikirim honornya jika dimuat. Amin. :)

Dan, teruslah (belajar) menulis kreatif lebih baik lagi!
 

Selatan Jakarta, Gatsu 52-53 Lt.14

17 Januari 2012 09:29 WIB

 
BERIKUT alamat-alamat email redaksi koran, majalah, jurnal dan tabloid yang menerima kiriman CERPEN/PUISI. Anda yang mengetahui info terkini terkait alamat-alamat email redaksi dan honor pemuatan cerpen/puisi dimohon bantuannya dengan menuliskannya pada komentar Anda. Terima kasih.

1. Republika

sekretariat@republika.co.id, aliredov@yahoo.com

Tidak ada pemberitahuan dari redaksi terkait pemuatan cerpen. Sudah lama tidak memuat puisi. Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), tetapi—pengalaman beberapa rekan penulis, harus sabar menagih ke redaksi beberapa kali agar segera cair.

2. Kompas

opini@kompas.co.id, opini@kompas.com

Ada konfirmasi pemuatan cerpen/puisi dari redaksi via email. Honor cerpen Rp. 1.100.000,- (tanpa potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (tanpa potong pajak–referensi Esha Tegar Putra), seminggu setelah pemuatan, honor sudah ditransfer ke rekening penulis.

3. Koran Tempo

ktminggu@tempo.co.id

Biasanya Nirwan Dewanto—penjaga gawang rubrik Cerpen Koran Tempo, meng-sms penulis terkait pemuatan cepen/puisi jika penulis mencantumkan nomer hp di email pengiriman. Honor cerpen tergantung panjang pendek cerita, biasanya Rp. 700.000,-  honor puisi Rp. 600.000,- (pernah Rp. 250.000,- s/d Rp. 700.000, referensi Esha Tegar Putra), ditransfer seminggu setelah pemuatan.

4. Jawa Pos

sastra@jawapos.co.id

Jawa Pos menerima karya-karya pembaca berupa cerpen dan puisi atau sajak. Cerpen bertema bebas dengan gaya penceritaan bebas pula. Panjang cerpen adalah sekitar 10 ribu karakter. Honor cerpen Rp. 900.000,- (potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (referensi Isbedy Stiawan Zs), ditransfer seminggu setelah cerpen/puisi dimuat.

5. Suara Merdeka

swarasastra@gmail.com

Kirimkan cerpen, puisi, esai sastra, biodata, dan foto close up Anda. Cerpen maksimal 9.000 karakter termasuk spasi. Honor cerpen Rp. 350.000,- (potong pajak), honor puisi Rp. 190.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen. Bisa diambil langsung ke kantor redaksi atau kantor perwakilan redaksi di kota Anda—jika ada.

6. Suara Pembaruan

koransp@suarapembaruan.com

Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

7. Suara Karya

redaksi@suarakarya-online.com, amiherman@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 150.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

8. Jurnal Nasional

tamba@jurnas.com, witalestari@jurnas.com

Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

9. Seputar Indonesia

redaksi@seputar-indonesia.com, donatus@seputar-indonesia.com

Tidak setiap hari Minggu memuat cerpen. Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), honor puisi Rp. 190.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

10. Pikiran Rakyat

khazanah@pikiran-rakyat.com, ahda05@yahoo.com

Cerpen tayang per dua mingguan. Honor cerpen Rp. 350.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

11. Tribun Jabar

cerpen@tribunjabar.co.id, hermawan_aksan@yahoo.com

Selain ada cerpen berbahasa Indonesia setiap Minggu, juga ada cerpen bahasa Sunda setiap hari Kamis bersambung Jumat. Honor cerpen Rp. 200.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

12. Kedaulatan Rakyat

redaksi@kr.co.id, jayadikastari@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 400.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

13. Joglo Semar (Yogyakarta)

harianjoglosemar@gmail.com

Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

14. Minggu Pagi (Yogyakarta)

we_rock_we_rock@yahoo.co.id

Terbit seminggu sekali setiap Jumat. Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

15. Surabaya Post

redaksi@surabayapost.info, surabaya_news@yahoo.com, zahira@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 150.000,- (potong pajak) hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

16. Radar Surabaya

radarsurabaya@yahoo.com, diptareza@yahoo.co.id

Honor cerpen Rp. 200.000,- (potong pajak) hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

17. Lampung Post

lampostminggu@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 200.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, bisa diambil langsung ke kantor redaksi atau minta tolong teman yang ada di Lampung untuk mengambilkan ke kantor redaksi.

18. Berita Pagi (Palembang)

huberitapagi@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

19. Sumatera Ekspres (Palembang)

citrabudaya_sumeks@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

20. Padang Ekspres

yusrizal_kw@yahoo.com, cerpen_puisi@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- s/d Rp. 125.000,- honor puisi Rp. 75.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen, bisa diambil langsung, atau minta tolong teman mengambilkan honor ke kantor redaksi.

21. Haluan (Padang)

nasrulazwar@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 150.000,- honor puisi Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

22. Singgalang (Padang)

hariansinggalang@yahoo.co.id, a2rizal@yahoo.co.id

Honor cerpen Rp. 50.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

23. Riau Pos

budaya_ripos@yahoo.com, habeka33@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

24. Sumut Pos

redaksi@hariansumutpos.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

25. Jurnal Medan

nasibts@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

26. Analisa (Medan)

rajabatak@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

27. Sinar Harapan

redaksi@sinarharapan.co.id, blackpoems@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

28. Jurnal Cerpen Indonesia

jurnalcerpen@yahoo.com, jurnalcerita@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 250.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

29. Majalah Horison

horisoncerpen@gmail.com, horisonpuisi@gmail.com

Honor cerpen Rp. 350.000,- honor puisi tergantung berapa jumlah puisi yang dimuat, biasanya dikirimi majalahnya sebagai bukti terbit. Hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi, dan kadang honor dikirim via wesel jika tidak ada nomer rekening.

30. Majalah Esquire

cerpen@esquire.co.id

Honor cerpen Rp. 1.000.000,- (potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

31. Majalah Sabili

elkasabili@yahoo.co.id

Honor cerpen Rp. 200.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

32. Majalah Suara Muhammadiyah

redaksism@gmail.com

Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

33. Majalah Ummi

kru_ummi@yahoo.com

Tema cerpen seputar keluarga dan rumah tangga. Honor cerpen Rp. 250.000,-  ditransfer paling telat satu bulan setelah pemuatan.

34. Majalah Kartini

redaksi_kartini@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 400.000,- Sebulan setelah pemuatan honor ditransfer ke rekening penulis.

35. Majalah Alia

majalah_alia@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 300.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

36. Majalah Femina

kontak@femina-online.com, kontak@femina.co.id

Honor cerpen Rp. 850.000,- dan cair seminggu setelah dimuat.

37. Majalah Sekar

sekar@gramedia-majalah.com, majalahsekar@gmail.com

Honor cerpen Rp. 400.000,- dibayar sebulan setelah majalah terbit.

38. Majalah Story

story_magazine@yahoo.com

Tema cerpen khas ala remaja/teenlit. Konfirmasi pemuatan cerpen via telepon dari redaksi Story. Antrian pemuatan panjang, bisa 6 bulan sampai setahun. Honor cerpen Rp. 250.000,- maksimal sebulan setelah pemuatan honor sudah ditransfer ke rekening penulis.

39. Majalah Gadis

redaksi.gadis@feminagroup.com

Tema cerpen khas ala remaja/teenlit. Honor untuk Percikan (cerpen mini tiga halaman) Rp. 500.000,- Honor untuk Cerpen Rp. 850.000,- ditransfer seminggu setelah majalah terbit.

40. Majalah Annida-online

majalah_annida@yahoo.com

Ada konfirmasi pemuatan cerpen via email redaksi Annida-online. Honor cerpen Rp. 50.000,- honor epik (cerita kepahlawanan) Rp. 100.00,- maksimal sebulan setelah pemuatan honor sudah ditransfer.

41. Majalah Bobo

bobonet@gramedia-majalah.com

Honor cerpen Rp. 250.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

42. Kompas khusus Cerpen Anak

opini@kompas.co.id, opini@kompas.com

Pada subjek email ditulis CERPEN ANAK: JUDUL CERPEN. Honor cerpen Rp. 300.000,- Resensi buku anak honor Rp. 250.000,- Honor cair tiga hari setelah pemuatan.

43. Tabloid Nova

nova@gramedia-majalah.com

Honor cerpen Rp. 400.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

BIDADARI UNTUKKU

BIDADARI UNTUKKU
Oleh Intan Mauliddiana



Perumahan Bukit Permata Hijau Tlogomas, Malang.
Pukul 21.00 waktu Indonesia bagian barat. Di atas sana bulan sempurna membulat, mengeluarkan cahaya putihnya yang mengagumkan. Di atas sana juga, kerlip milyaran bintang sempurna menari membentuk rasi-rasi yang mengagumkan. Rasi bintang. Ada banyak sekali susunan rasi bintang di langit. Beberapa diantara mereka masuk ke dalam barisan zodiak. Entah siapa yang mengarang ramalan horoskop itu. Bagiku semua omong kosong! Aku tak pernah mempercayainya dan tak akan untuk kedepannya. Meskipun ia membicarakan tentang ramalan asmaraku.
Namaku Juna. Aku adalah seorang bujang. Aku hanya bekerja sebagai guru les matematika di sebuah lembaga bimbingan belajar di Malang. Entah kapan perempuanku datang padaku. Kadang aku lelah dengan semua ini. Sudah 15 kali aku mencoba mengenal perempuan, dan semuanya gagal. Apa karena kulitku yang legam yang membuat mereka menolakku. Apa karena kekurang tampanan wajahku yang membuat mereka menolakku. Entah, semua itu hanya alasan-alasan yang kuterka sendiri. Mereka menolakku dengan alasan tidak cocok. Tapi mereka tidak pernah bilang apa itu. Ya sudahlah, ini adalah bagian dari takdirku.
***
Tentang jodoh, aku sangat percaya bahwa Allah sudah menyiapkan jodoh tiap masing-masing orang. Ketika kata kapan muncul sebagai pertanyaan, maka jawabannya adalah di saat yang tepat. Itu bagian dari skenario Allah yang kita tak akan pernah tahu sebelum waktu itu tiba. Dan sekarang aku sedang ikhtiar menjemputnya, menjemput bidadariku.
“Ini teman yang kuceritakan kemarin, namanya Aisyah.” Temanku megenalkan perempuan yang ingin dijodohkan padaku. Aku sekejap melihatnya. Dia seorang Muslimah.
Proses pertemuanku dengan Aisyah sudah selesai. Aku menungu jawabannya untuk proses perkenalan yang lebih jauh. Aku sudah mantap dengannya, karena satu alasanku, dia muslimah. Satu, dua, tiga hari kutunggu. Hari ke empat aku mendapatkan jawaban dari temanku yang menjadi perantara.
“Aisyah Menolak, Jun. Katanya dia merasa ndak cocok.”
Aku berusaha bersikap senormal mungkin, meski aku merasa sedih. Proses ke duaku gagal. Aku kembali ingat tentang proses pertamaku dulu. Belum lima menit pertemuan kami, gadis itu segera meninggalkanku setelah melihatku dengan seksama, tanpa kata. Proses pertamaku terjadi saat umurku masih 25 tahun. karena penolakan itu aku merasa malas untuk berproses lagi. Sampai suatu hari, Ibu sering menanyaiku kapan aku menikah, melihat umurku yang hampir berkepala tiga.  Itu yang menjadi sebab aku memulai untuk berproses lagi.
“Tika Menolak, Jun. Katanya dia merasa ndak cocok.”
Proses ketigaku gagal lagi. Dan aku harus bangkit untuk memulainya kembali. Ya, Tuhan. Kadang aku berpikir kenapa Allah mempersulit jodohku. Lihatlah aku, apa salahku. Aku sama-sama memiliki kesempatan dengan pria-pria yang lain untuk menikah, kenapa Allah menyulitkanku sedangkan kawan-kawanku mudah saja bertemu dengan jodohnya. “Jodohmu masih berusaha untuk belajar menjadi istri sholihah untukmu, Juna.” Kalimat penenang itu selalu bisa menjadi obat hatiku yang sedang gulana.
“Wanda Menolak, Jun. Katanya dia keberatan dengan pekerjaanmu. Orang tua Wanda pasang harga tinggi soal itu.”
Aku tersenyum kecut menyimak ustadz yang menjadi perantaraku. Untuk ke-10 kali aku gagal berproses dengan perempuan. Tuhan, seburuk inikah aku? Aku benar-benar tidak habis pikir. Sepuluh perempuan yang berbeda, berlatar belakang berbeda juga sempurna menolakku. Tak ada satu kesempatan saja yang diberikan mereka untukku. apakah seburuk inikah wajahku? Seburuk inikah pekerjaanku.
Ibu bertambah sering menanyakan hal itu padaku. Semakin hari semakin sering. Membuatku terbebani dengan keadaanku ini.
“Ibu pingin gendong cucu, Nak. Ayo lah Nak cepat nikah. Itu teman-temanmu juga sudah pada nikah. Kamu kapan?”
“Sabar to Bu, ini Juna lagi nyari. Doakan terus Juna, Bu. Biar bisa kasih Ibu menantu sholihah. Bu, emang Juna jelek banget ya. Kok ya ndak ada perempuan yang mau sama Juna.”
“Nak… nak…. Kamu mau cari istri yang gimana? Perempuan sholihah itu bukan nyari yang cakep. Tapi cari yang sholih. Ibu terus do’ain kamu, Nak.”
***
“Pantas saja kau belum juga menikah, Juna. Coba lihat, mana ada perempuan yang mau sama kamu. Kamu hitam, pesek, dan tuh liat bibirmu. Domble! Ha, ha, ha. Sudahlah, Juan. Terima saja nasibmu jadi bujang lapuk!”
Aku ingin marah saja mendengar ledekan dari teman kerjaku. Dia memang tidak suka jika aku mengajar di Bimbel ini. Aku tak pernah tahu apa sebab yang membuat ia bersikap begitu. Tapi, jika kuladeni omongannya, tak ada beda aku dengannya.
Sekarang umurku sudah 42 tahun. dia belum juga datang. Aku berpikir lagi, aku keras ikhtiar mencari jodoh tapi aku sendiri tidak keras beribadah pada Allah. Sejak saat itu aku segera memperbaiki ibadahku. Aku memutuskan untuk belajar menghafal Al-Qur’an di salah satu ma’had tahfidz Qur’an di Malang. Dua tahun aku mondok aku sempurna bergelar al hafidz. Dua tahun itu juga kusibukkan waktuku untuk belajar agama lebih dalam. Hingga pada suatu waktu, aku dipercaya Pak Kiyai untuk memimpin ta’lim rutin di pesantren ini.
“Malam ini saya akan memberikan sebuah pengumuman untuk para jamaah yang hadir disini.” Usai acara ta’lim rutin, Pak Kiyai akan memberikan pengumuman pada kami semua. Aku menyimak betul apa yang dituturkan Pak Kiyai, guru besarku. Aku tak pernah tahu apa pengumuman itu, hingga kalimat selanjutnya mengudara di telingaku.
“Malam ini, disaksikan ratusan jamaah yang hadir disini, saya akan menikahkan putri bungsu saya yang bernama Sarah Azizah dengan salah seorang pria disini. Laki-laki itu adalah Juna Hidayatullah. Nikahilah putriku dengan mahar yang kau mampu”
Aku sontak kaget dengan penuturan beliau. Gemetar mendengarnya, aku pun hanya bisa duduk terdiam. Masih belum mempercayainya. Putri seorang Kiyai penghafal Al-Qur’an. Allah… inikah alasannya Kau belum juga mengirimkannya padaku. Allah menyuruhku pergi ke pesantren ini, untuk bertemu jodohku. Jodoh yang tak pernah sedikitpun terbayang di kepalaku. Penolakan-penolakan itu membuatku dekat dengan jodohku.
***
“Saya terima nikahnya, Sarah Azizah binti Mohammad Saiful Anam dengan mas kawin tersebut, tunai.”
“Sah!”
Hujan berjatuhan saat perjanjian agung yang mengguncang arsy berlangsung. Seolah dia menangis kehilangan bidadari langit yang jatuh padaku. Sarah, sekarang dia milikku. Lihatlah, betapa cantiknya dia, dan lihatlah aku, betapa buruknya rupaku. Tapi aku punya iman dan taqwa yang lebih mahal daripada ketampanan ataupun kekayaan. Aku mendapatkan bidadari yang menyenangkan. Aku seakan melayang jauh, terbang tanpa sayap.
“Dulu, aku ingin sekali melihat bulan yang itu pada satu bingkai jendela yang sama bersama suamiku. Dan sekarang aku bisa melakukannya denganmu.” Deg. Aku tersenyum malu mendengar kalimat itu dari mulut Sarah. Aku benar-benar melayang. Terbang tanpa sayap.

My Friends